Jakarta (Greeners) – Proses perundingan perjanjian global tentang polusi plastik kembali berlanjut setelah Resumed Session Intergovernmental Negotiating Committee (INC 5.3) berhasil menyepakati pemilihan ketua INC yang sebelumnya sempat tertunda. Melalui pemungutan suara, ketua baru INC terpilih adalah Julio Cordano dari Chile.
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menilai keputusan ini mengakhiri kebuntuan kelembagaan yang sempat menghambat jalannya negosiasi menuju perjanjian global yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.
INC 5.3 merupakan pertemuan lanjutan dari sidang sebelumnya yang belum berhasil menyelesaikan persoalan krusial, yakni pemilihan ketua INC. Kekosongan posisi tersebut terjadi setelah pengunduran diri Luis Vayas Valdivieso sebagai ketua INC sebelumnya. Tanpa kepemimpinan yang sah, proses negosiasi berisiko berjalan berlarut-larut dan kehilangan arah.
Deputy Director Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara, menyebut terpilihnya ketua baru sebagai titik penting bagi keberlanjutan proses perundingan. Menurutnya, kepemimpinan yang definitif memungkinkan negosiasi melangkah lebih maju dengan arah dan tujuan yang lebih jelas.
“Kondisi ini membuka ruang bagi kemajuan substantif, memastikan partisipasi pengamat tetap bermakna, serta membantu negara-negara merasa lebih aman untuk meningkatkan ambisi. Pada saat yang sama, langkah ini membuat penundaan lebih lanjut semakin sulit untuk dibenarkan,” ujar Rahyang dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (7/2).
Pemungutan Suara Tertutup
Sejak awal sidang, pimpinan rapat menegaskan bahwa pertemuan ini bukan untuk membahas substansi perjanjian, seperti pengurangan plastik atau kewajiban negara. Pertemuan berfokus pada penyelesaian isu prosedural dan kelembagaan, khususnya pemilihan pimpinan INC. Hal ini guna menjaga fokus diskusi dan mencegah perluasan agenda.
Ketegangan muncul saat sidang memasuki agenda utama pemilihan ketua INC. Sebanyak tiga kandidat dari Chile, Pakistan, dan Senegal. Perbedaan pandangan berkembang, baik terkait figur yang dianggap layak maupun mekanisme pengambilan keputusan.
Sejumlah negara, termasuk Indonesia dan beberapa anggota Like-Minded Countries, menekankan pentingnya pemilihan melalui konsensus. Hal itu demi menjaga legitimasi politik dan kepercayaan antarnegara dalam proses perundingan ke depan. Namun, kelompok negara lain menilai upaya mencapai konsensus telah berlangsung berbulan-bulan tanpa hasil.
Dengan keterbatasan waktu dan kendala logistik, seperti persoalan visa serta jadwal kepulangan delegasi, mereka memandang pemungutan suara tertutup (secret ballot) sebagai langkah sah sesuai aturan prosedur INC untuk menghindari kebuntuan berkepanjangan.
Setelah mempertimbangkan bahwa seluruh upaya konsensus telah dilakukan secara maksimal, sidang akhirnya menyepakati penggunaan mekanisme pemungutan suara tertutup. Proses voting berlangsung tertib dengan penunjukan teller guna memastikan pemilihan berjalan adil dan transparan.
Dalam pidato penutupnya, Cordano menegaskan bahwa polusi plastik merupakan tantangan global yang membutuhkan kerja sama seluruh negara. Ia juga menyampaikan komitmennya untuk memimpin proses perundingan secara inklusif, seimbang, dan transparan.
Sidang kemudian ditutup secara resmi oleh Executive Secretary INC. Dengan terpenuhinya struktur kepemimpinan, forum menyatakan kesiapan untuk melanjutkan tahap berikutnya dalam perundingan perjanjian global tentang polusi plastik.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































