Sumber Pangan Tak Melulu Hanya Beras

Reading time: 3 menit
Dorong diversifikasi pangan, sehingga sumber pangan tidak melulu beras. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Peringatan hari pangan 16 Oktober lalu mengingatkan semua pihak kalau sumber pangan beragam tidak hanya beras. Oleh sebab itu perlu diversifikasi dari pangan lokal. Upaya untuk menghasilkan pangan juga harus berkelanjutan. Sebab food loss dan food waste masih menjadi permasalahan serius di Indonesia.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun. Asumsinya setiap orang menghasilkan 0,7 kg sampah.

Berdasarkan komposisinya, jenis sampah yang paling dominan masyarakat hasilkan adalah organik berupa sisa makanan dan sisa tumbuhan sebesar 50 %.

Tumpukan sampah pangan ini tentunya menghasilkan emisi yang jika terus terjadi dan terakumulasi dapat menyebabkan perubahan iklim.

Direktur Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Medrilzam mengatakan, untuk meminimalisir dampak perubahan iklim masyarakat perlu mengurangi sampah makanannya.

Berdasarkan kajian Bappenas, sampah makanan yang terbuang di Indonesia pada tahun 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun. Jumlah ini setara 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya.

“Itu cukup tinggi. Sehingga kalau sedikit saja mengurangi food loss and waste bisa memengaruhi pengurangan emisi, mengurangi penggunaan lahan dan sebagainya,” jelas Medrilzam kepada Greeners baru-baru ini.

Buat perencanaan belanja per hari, menghindari pangan busuk karena lama tak terkonsumsi. Foto: Shutterstock

Cegah Food Loss and Food Waste

Medrilzam juga mengatakan efisiensi terhadap food loss and food waste juga dapat berdampak pada pengurangan biaya ekstensifikasi program food estate. Program ini pemerintah canangkan guna menjaga ketahanan pangan di Indonesia.

Sementara untuk diversifikasi pangan, Medrilzam berharap makanan pokok di Indonesia tidak hanya bergantung pada beras. Ia berharap makanan pokok ini bisa disesuaikan dengan kondisi masyarakat masing-masing.

“Ke depannya perlu dipertimbangkan juga diversifikasi pangan kita. Tidak melulu staple food hanya bergantung kepada beras,” ucapnya.

Medrilzam menilai, ketahanan pangan di Indonesia sudah cukup baik sehingga perlu dipertahankan. Walau begitu pemerintah juga perlu tetap waspada terhadap ancaman yang dapat mengganggu ketahanan pangan Indonesia.

Swasembada Pangan

Indonesia kaya akan berbagai jenis pangan lokal seperti jagung, gandung, sorgum, dan umbi-umbian yang berpotensi sebagai sumber ketahanan pangan. Foto: Shutterstock

Ancaman Krisis Sumber Pangan

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta Suci Fitriah Tanjung berpendapat, untuk menanggulangi ancaman krisis pangan harus menjamin kepastian produksi pangan dapat berjalan dengan baik dan bebas hambatan.

“Jawaban untuk menanggulangi ancaman krisis pangan adalah dengan melindungi dan mengakui produsen pangan. Serta menjamin kepastian produksi pangan dapat berjalan dengan baik dan bebas hambatan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, pembangunan tidak boleh mendahulukan kepentingan lain, terlebih sampai menghambat produksi pangan rakyat.

Sementara itu dari sumber pangan lainnya, Badan Pangan Dunia (FAO) tahun 2020 menyebut sebanyak 7,6 miliar manusia telah mengkonsumsi 178,5 juta ton ikan. Jumlah ini terdiri 96,4 juta ton perikanan tangkap, dan 82,1 berasal dari budidaya laut.

Di Indonesia, lebih dari 250 juta orang terus mengonsumsi ikan setiap hari. Pada tahun 2020, angka konsumsi ikan tercatat sebanyak 54,56 kg per kapita. Angka ini naik signifikan dari tahun 2015 yang tercatat hanya 41,11 kg per kapita.

Berbagai data tersebut menegaskan bahwa laut merupakan sumber pangan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat luas.

Penulis : Fitri Annisa

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page