Peneliti BRIN Ingatkan Bahaya Sinkhole di Wilayah Batugamping

Reading time: 2 menit
Ilustrasi Sinkhole. Foto: Freepik
Ilustrasi Sinkhole. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah kerap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya kawasan yang tersusun oleh lapisan batugamping. Masyarakat diminta untuk waspada terhadap potensi bahaya dari fenomena tersebut.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari mengatakan bahwa sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama. Fenomena ini terjadi akibat air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan tanah.

“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut. Terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” kata Adrin dalam keterangan tertulisnya.

Seiring waktu, air permukaan dan air tanah yang mengalir melalui rekahan tersebut menyebabkan rongga semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya. Ketika hujan lebat terjadi, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga pada suatu titik tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.

“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” ujar Adrin.

Menurut Adrin, fenomena sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki bentang alam karst atau kawasan batugamping. Beberapa daerah yang terkenal rawan antara lain Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Secara geologi, wilayah tersebut memiliki lapisan batugamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.

Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara visual. Namun demikian, keberadaan rongga batugamping sebenarnya dapat teridentifikasi melalui survei geofisika.

“Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,” tambahnya.

Kelayakan Air Sinkhole Perlu Dipastikan

Sementara itu, mengenai kualitas air yang ditemukan di dalam sinkhole, Adrin menjelaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Oleh karena itu, kelayakan air untuk dikonsumsi tidak bisa langsung disimpulkan.

“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” ujarnya.

Adrin juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batugamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.

“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami dan mengantisipasi fenomena sinkhole. Terdapat metode rekayasa geoteknik yang dapat dilakukan untuk mencegah pembentukan sinkhole di daerah batugamping.

Metode tersebut merupakan cement grouting, yaitu menginjeksi cement, mortar, atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga yang ada di lapisan batugamping bawah permukaan. Pertama-tama dilakukan pemboran dari permukaan hingga kedalaman tertentu. Dalam hal ini terdapat rongga, lalu material semen, mortar, atau bahan kimia diinjeksi melalui pipa injeksi yg terpasang di dalam lubang bor tersebut.

“Injeksi material grouting menggunakan pompa bertekanan. Tekanan dan volume injeksi dipantau dengan cermat agar tidak merusak struktur batuan di sekitar rongga. Lalu, ada pengecekan efektivitas grouting melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lainnya untuk memastikan rongga sudah terisi dan stabilitas lapisan batuan sudah meningkat,” jelas Adrin.

Adrin berharap masyarakat dan pemerintah daerah di kawasan rawan dapat lebih waspada terhadap bencana. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan kajian geologi dan survei geofisika sebagai dasar perencanaan tata ruang serta mitigasi risiko.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top