Amfibi di Dunia Kian Terancam, Populasi Menurun

Reading time: 2 menit
Ilustrasi amfibi. Foto: Shutterstock
Ilustrasi amfibi. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Hewan amfibi di dunia kini semakin terancam dan mengalami penurunan populasi. Temuan penelitan dari Nature Journal menegaskan bahwa krisis kepunahan amfibi global belum mereda. Ancaman utama yaitu adanya dampak perubahan iklim, penyakit, dan degradasi lahan.

Tercatat sebanyak 40,7% (2.873) status amfibi di seluruh dunia terus memburuk dan terancam secara global, termasuk katak, kodok, dan salamander. Jika dibandingkan pada penelitan sebelumnya di 2004, tercatat sebesar 39,4% (2.788) amfibi terancam punah. Kemudian, para peneliti juga menggunakan data situasi 37,9% (2.681) pada tahun 1980.

BACA JUGA: Katak Bibir Putih, Spesies Anura Pohon Terbesar dari Timur

Peneliti Amfibi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Hamidy mengatakan kini hewan tersebut kian terancam, salah satunya kerusakan habitat. Sebab, hewan tersebut memiliki karakter habitat yang spesifik. Bahkan, sebagian besar dari amfibi habitatnya membutuhkan air dan hidup di suhu tertentu.

“Aktivitas itu dipengaruhi oleh suhu. Sekarang, kenaikan suhu juga akan memengaruhi aktivitas habitat itu, berefek ke mikrohabitat dia. Misalnya, suhu makin panas, telur gak bisa bertahan, apalagi soal air itu akan memengaruhi siklus telurnya,” ucap Amir kepada Greeners, Senin (6/11). 

Ilustrasi amfibi. Foto: Shutterstock

Ilustrasi amfibi. Foto: Shutterstock

Jamur Chytrid Ancam Habitat Amfibi

Amri pun menambahkan bahwa penyakit juga menjadi ancaman bagi habitat. Penyakit itu disebabkan oleh fungus yang disebut dengan jamur chytrid. 

“Ini menyebabkan kepunahan massal beberapa jenis amfibi di dunia. Bahkan, penurunan populasi di Amerika Selatan. Jamur tersebut juga bisa aktif di zona tertentu,” tambah Amir. 

Tim peneliti Nature Journal juga menyatakan penyakit adalah penyebab utama turunnya status konservasi bagi 58% spesies di kawasan tersebut. Patogen jamur chytrid telah menghancurkan populasi katak sedunia. Namun, di sisi lain, perubahan iklim merupakan kontributor signifikan terhadap penurunan jumlah spesies yang hanya berjumlah 1%.

BACA JUGA: Pelobatrachus Nasutus, Katak Bertanduk Ahli Kamuflase

Kini, kurang dari 20 tahun, perubahan iklim menjadi penyebab penurunan status 39% spesies, menurut analisis terhadap 306 spesies yang statusnya menurun dari tahun 2004 hingga 2022. Para peneliti juga menegaskan bahwa fenomena ini sebagai penyebab utama penurunan populasi amfibi yang paling umum.

Penelitian pun akan terus bermunculan yang merinci bagaimana peningkatan suhu terkait perubahan iklim, perubahan curah hujan, dan peristiwa cuaca ekstrem. Hingga, kebakaran hutan juga berdampak pada amfibi.

Pentingnya Tindakan Konservasi

Sementara itu, dengan adanya penelitian ini, tim peneliti Nature Journal mengatakan segala ancaman yang ditemukan telah menjadi perhatian khusus.  Oleh karena itu, dari hasil penelitan, tim menyoroti perlunya menyelidiki dan menerapkan tindakan konservasi.

Tujuannya untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap spesies tertentu. Khususnya, untuk spesies yang teridentifikasi memiliki risiko penurunan populasi yang serius.

Studi ini juga menegaskan bahwa perlindungan habitat yang efektif terus menjadi prioritas konservasi amfibi. Sebab, kini semakin banyak amfibi yang terancam punah dibandingkan sebelumnya. Hasil studi pun menggarisbawahi pentingnya menghentikan perusakan dan degradasi habitat amfibi.

“Dalam melindungi amfibi ini tentu harus melakukan tindakan konservasi dan jangan merusak hutan yang ada. Karena itulah yang akan menjadi ancaman terbesar amfibi,” ujar Amir.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top