Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengambil sampel udara di sejumlah titik di wilayah Jombang. Hasil riset Ecoton, pengujian menunjukkan bahwa udara di Jombang terbukti mengandung mikroplastik.
Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber. Mikroplastik ini umumnya berasal dari serat tekstil sintetis, limbah hasil pencucian, dan aktivitas domestik masyarakat.
Pengambilan sampel udara berlangsung di lima lokasi, yakni di Polres Jombang, Lapas Jombang, dan Jatirejo, Cukir, Kedai Sufi Desa Sengon, dan Perempatan Desa Sengon Jombang. Hasilnya menunjukkan variasi jumlah dan jenis mikroplastik, dengan temuan tertinggi berada di Jatirejo, Cukir.
Peneliti Ecoton, Rafika Aprilianti, mengungkapkan bahwa dominasi fiber, fragmen, dan filamen di kelima lokasi menunjukkan kuatnya pengaruh aktivitas pembakaran sampah. Selain itu, timbunan sampah domestik juga berkontribusi besar terhadap pencemaran mikroplastik di udara.
“Tingginya jumlah fragmen di udara, khususnya di kawasan lalu lintas padat, mengindikasikan kontribusi dari abrasi plastik, aktivitas kendaraan, kemasan sekali pakai, serta debu jalanan yang tercemar plastik,” kata Rafika dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/1).
Rafika menambahkan bahwa dominasi fiber hampir selalu muncul dalam riset mikroplastik di kawasan perkotaan dan permukiman padat. “Fiber paling banyak berasal dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian. Serat sintetis yang lepas akan masuk ke saluran air, sungai, dan kini juga terdispersi di udara yang kita hirup setiap hari,” tambahnya.
Mikroplastik Ancam Kesehatan Masyarakat
Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa temuan mikroplastik di udara memperbesar risiko kesehatan masyarakat. Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan masuk ke rantai makanan melalui ikan, tetapi juga terhirup langsung oleh manusia.
“Ini menjadikan mikroplastik sebagai bagian dari polusi udara yang berisiko terhadap sistem pernapasan dan kesehatan jangka panjang,” ungkap Prigi.
Sementara itu, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menilai lemahnya pengelolaan sampah domestik dan plastik sekali pakai menjadi faktor utama tingginya paparan mikroplastik di lingkungan.
“Selama pengolahan air limbah rumah tangga tidak dibenahi dan konsumsi plastik sekali pakai terus dibiarkan, mikroplastik akan terus mengalir di air dan melayang di udara. Data Ecoton menunjukkan 55,5% mikroplastik di udara akibat aktivitas pembakaran sampah,” tegasnya.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































