Suhu Bumi Terus Memanas, Waspada Kekeringan dan Angin Kencang

Reading time: 2 menit
Waspada kekeringan dan angin kencang imbas suhu bumi memanas. Foto: Freepik
Waspada kekeringan dan angin kencang imbas suhu bumi memanas. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Pemanasan global terus melaju dalam 10 tahun terakhir ini dengan kecepatan hampir dua kali lipat dibandingkan era tahun 1970. Saat ini suhu bumi telah meningkat 0,35 derajat celcius. Dampak dari peristiwa ini bisa meningkatkan intensitas cuaca ekstrem seperti kekeringan dan angin kencang.

World Meteorological Organization (WMO) telah mengonfirmasi bahwa tahun 2025 adalah salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Tiga tahun terakhir, 2023-2025 menjadi tahun terpanas di antara delapan data yang terkumpul. Rata-rata suhu gabungan tiga tahun 2023-2025 adalah 1,48 °C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 °C) di atas era pra-industri. 

Pakar klimatologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani mengatakan bahwa peningkatan suhu Bumi akan berdampak pada mencairnya es di Kutub Utara. Hal ini menyebabkan kenaikan volume air laut dan mendorong dataran rendah akan berkurang tingginya.

Selain itu, peningkatan suhu tersebut turut meningkatkan terjadinya bencana. Sebab, suhu yang tinggi menyebabkan penguapan tinggi, sehingga potensi terjadinya hujan juga akan semakin besar.

“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang. Kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” kata Emilya melansir Berita UGM, Senin (30/3).

Emilya menambahkan bahwa peningkatan suhu menyebabkan terjadinya kekeringan yang membawa dampak besar terhadap sektor pangan, bahkan peningkatan suhu yang lebih cepat juga turut menyebabkan banyak angin kencang. Emilya menerangkan bahwa terjadinya angin kencang tersebut membawa beragam kerusakan, seperti pohon tumbang atau kerusakan pada atap rumah.

Mitigasi Bencana Kekeringan

Peningkatan suhu ini juga menyebabkan terjadinya bencana kekeringan salah satunya kemarau yang lebih panjang. Emilya mengimbau untuk melakukan regulatory harvesting, yaitu menangkap hujan dari atap. Ia juga menekankan agar masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan air sesuai dengan kebutuhan.

“Jadi gunakan air sesuai fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengungkapkan bahwa meskipun tahun 2025 tengah dimulai dan berakhir dengan La Niña yang mendingin, namun tetap menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Sebab, akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.

“Suhu daratan dan lautan yang tinggi turut memicu cuaca ekstrem–gelombang panas, curah hujan lebat, dan siklon tropis yang intens, yang menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini,” kata Celeste dalam siaran pers.

Sebuah studi terpisah yang diterbitkan dalam Advances in Atmospheric Sciences juga menyatakan bahwa suhu laut juga termasuk yang tertinggi dalam catatan pada tahun 2025. Hal ini mencerminkan akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top