Gerakan Pulang Kampung, Ingatkan Pemuda Adat Tidak Merantau

Reading time: 3 menit
Pemuda adat jadi garda terdepan pelestarian adat. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melihat banyak pemuda adat yang merantau ke kota. Hal ini memicu kekosongan generasi di masyarakat adat. Peran mereka penting sebagai penerus generasi yang melestarikan alam pemberian leluhur.

Bahkan mereka harus menjadi garda terdepan, benteng pertahanan terakhir terhadap gempuran alih fungsi lahan dan degradasi hutan dan alam. Masih menurut AMAN saat ini di masyarakat adat didominasi para tetua, perempuan, dan anak-anak.

Dengan jumlah hanya sekitar 6,2 % dari seluruh jumlah penduduk di dunia, masyarakat adat terbukti mampu menjaga dan mengelola lebih dari 80 % biodiversitas bumi.

Oleh karena itu, konservasi harus terus pemuda adat lakukan. Sebab, kini ruang kehidupan masyarakat adat semakin terancam oleh pembangunan yang bersifat ekstraktif.

Deputi IV Sekjen AMAN Urusan Sosial Budaya, Mina Setra mengatakan, banyaknya pemuda adat yang merantau ke kota menyebabkan terjadinya ‘kekosongan’ di komunitas.

“Wilayah adat menjadi lebih rentan terhadap berbagai intervensi luar, karena pemuda adat yang seharusnya menjadi garda depan untuk melindungi kampung, tidak berada di tempat. Penting sekali para pemuda adat untuk pulang, turut menjaga dan mengurus wilayah adatnya,” kata Mina dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.

Mina menambahkan, pemuda adat sebagai garda terdepan melaksanakan cita-cita masyarakat adat, mesti kembali ke kampung. Menyatukan kekuatan dan bekerja sama dengan seluruh elemen di kampung.

Oleh sebab itu awal tahun 2013, secara nasional, pemuda adat yang tergabung dalam Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), organisasi sayap di bawah AMAN, memulai suatu gerakan yakni ‘Gerakan Pulang Kampung’.

Gerakan ini telah mendorong banyak pemuda adat kembali pulang untuk melindungi dan mengelola wilayah adatnya serta memulai berbagai inisiatif di komunitasnya. Sebagian dari mereka kini telah membangun sekolah-sekolah adat, mengembangkan usaha wisata berbasis budaya, pertanian organik, kebun herbal, dan sebagainya.

Distorsi Konsep Kerja

Memang saat ini, pemuda adat mengalami berbagai tantangan terhadap eksistensinya. Selain rusaknya wilayah-wilayah adat karena berbagai industri ekstraktif, mereka juga dihadapkan tantangan dari dunia pendidikan dan perkembangan teknologi modern.

Saat ini, pusat-pusat pendidikan tinggi semua berada di perkotaan, sehingga generasi muda di komunitas terpaksa harus pindah ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Kemudian, banyak yang menetap di kota untuk mencari kerja dan tidak kembali ke kampung halamannya.

Konsep ‘pekerjaan’ juga mengalami distorsi. Hanya memiliki pekerjaan hanya bila dilakukan di kota. Pemikiran seperti inilah yang membuat banyak pemuda adat enggan kembali ke kampung karena dapat dianggap gagal memenuhi tuntutan hidupnya.

Bagi masyarakat adat, alam adalah pemberian leluhur. Foto: Shutterstock

Pemuda Adat Sukses Lestarikan Alamnya

Namun ada pula pemuda adat yang kini sukses di kampungnya. Tokoh Anak Muda Rongkong, Charles Pasadjangan misalnya. Ia berhasil memanfaatkan kekayaan sumber daya alam wilayahnya sebagai penopang pangan masyarakat adat.

“Kami menyadari tanah kami punya potensi karena subur dan sangat luas. Lalu, kami menggalang anak muda adat Amboan di Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, yang tergerak untuk melakukan penanaman sayur, buah dan budi daya ikan mas,” kata Charles.

Melihat hasilnya, semakin banyak yang tertarik ikut menanam. Akhirnya bukan hanya kelompok pemuda yang menanam sayuran, tetapi masyarakat juga ikut menanam. Produksi pun menjadi tinggi, sehingga pedagang datang untuk mengambil stok di Rongkong. Bahkan, mereka sempat mencapai produksi sebanyak 1 ton cabai per minggu.

Menurut Charles, banyak yang merasakan manfaat dari Gerakan Pulang Kampung, seperti adanya manfaat ekonomi bagi pemuda dan masyarakat. Inisiatif ini semakin membuka cara pandang anak-anak muda tentang potensi ekonomi dan lapangan pekerjaan sesungguhnya itu juga ada di kampung.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top