Jakarta (Greeners) – Gunungan sampah setinggi sekitar 50 meter di Zona IV Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang longsor pada Minggu (8/3). Peristiwa ini menyebabkan empat orang meninggal dunia.
Menanggapi peristiwa ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengaktifkan operasi tanggap darurat. Langkah ini untuk memastikan keselamatan petugas di lapangan, penanganan korban, serta stabilisasi area terdampak. Hal itu agar pelayanan pengelolaan sampah dapat segera pulih.
Empat korban meninggal dunia adalah Enda Widayanti (25), Sumini (60), Dedi Sutrisno (22), dan Iwan Supriyatin (40). Sumini merupakan pemilik warung di sekitar lokasi. Dedi adalah pengemudi truk Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat. Sementara, Enda berprofesi sebagai pemulung.
Selain itu, satu pengemudi truk Sudin LH Jakarta Selatan, Slamet, mengalami luka ringan. Ia telah petugas evakuasi untuk mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Kini, Slamet sudah boleh pulang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan bahwa sejak menerima laporan kejadian, DLH langsung mengerahkan tim. DLH mengoordinasikan operasi penanganan bersama lintas instansi.
Tim gabungan yang terlibat antara lain Yon Armed 7/155 GS Kodam Jaya, BPBD DKI Jakarta, BPBD Kota Bekasi, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Polsek Bantargebang, serta Koramil 05/Bantargebang. Asep Kuswanto memimpin langsung operasi tanggap darurat di lokasi.
“Prioritas utama adalah keselamatan petugas, penanganan korban, serta percepatan evakuasi kendaraan yang tertimbun longsoran,” ujar Asep dalam keterangan tertulisnya.
Tujuh Truk Terdampak Longsor
Asep menyebut, dalam operasi evakuasi, dari total tujuh truk yang terdampak longsor, sebanyak lima unit telah berhasil terevakuasi. Sementara, dua truk lainnya masih dalam proses evakuasi, yakni kendaraan yang dikemudikan oleh Riki Supriyadi dari Sudin LH Jakarta Utara dan Irwan Supriyatin.
“Seluruh PJLP yang meninggal dunia akan mendapatkan santunan berupa BPJS Ketenagakerjaan. Sementara, biaya pengobatan bagi korban yang mengalami luka akan pemerintah daerah tanggung, serta akan diberikan santunan sosial bagi korban terdampak lainnya, termasuk pemilik warung dan pemulung yang bukan berstatus PJLP,” ungkapnya.
Untuk mendukung operasi tersebut, DLH bersama tim gabungan mengerahkan 13 unit eskavator untuk membuka timbunan material longsor guna mempercepat proses evakuasi. Mereka juga menyiagakan dua unit ambulans di sana.
Di saat yang sama, langkah stabilisasi area juga langsung dilakukan untuk mencegah potensi longsor susulan. Penataan dan penguatan zona timbunan dilakukan secara bertahap agar struktur timbunan kembali stabil dan aman bagi operasional di lapangan.
“Keselamatan dalam pengoperasian layanan sampah di TPST Bantargebang adalah prioritas utama. Setelah area aman, kami langsung melakukan stabilisasi dan penataan zona timbunan agar kondisi kembali terkendali,” kata Asep.
Meski proses penanganan masih berlangsung, DLH juga memastikan pelayanan publik pengelolaan sampah tetap berjalan. Untuk itu, satu titik buang sementara di TPST Bantargebang dibuka pada malam hari guna menjaga kelancaran ritase truk sampah dari Jakarta.
Sementara dua titik buang lainnya masih dalam tahap perapihan. Saat ini DLH DKI meminta kepada jajaran Sudin LH Provinsi DKI Jakarta untuk menunda pengiriman sampah ke TPST Bantargebang sampai selesainya evakuasi.
Langkah ini untuk memastikan sistem pengangkutan sampah Jakarta tetap berjalan, sekaligus meminimalkan antrean truk selama proses evakuasi dan penanganan di area terdampak.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































