Tren Minuman Manis Meningkat, Ahli IPB Ingatkan Batas Asupan Gula Harian

Reading time: 2 menit
Tren minuman manis meningkat. Foto: Freepik
Tren minuman manis meningkat. Foto: Freepik

Tren konsumsi minuman manis di Indonesia terus meningkat. Hal itu seiring maraknya berbagai jenis minuman yang beredar di masyarakat. Kondisi ini berpotensi membuat masyarakat melampaui batas asupan gula harian. Padahal, kelebihan konsumsi gula dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti obesitas dan diabetes.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Zuraidah Nasution, mengungkapkan bahwa batas asupan gula per hari adalah sekitar 10 persen dari kebutuhan energi harian. Dengan rata-rata kebutuhan energi 2.000 kilokalori, jumlah tersebut setara dengan 50 gram gula atau sekitar empat sendok makan.

“Berbagai studi menunjukkan konsumsi SSB di Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir. Bahkan, Indonesia pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis tertinggi di kawasan Asia,” kata Zuraidah melansir Berita IPB, Kamis (26/3).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata konsumsi gula dari minuman berpemanis saja dapat mencapai sekitar 50 persen dari batas harian.

“Bayangkan, 50 persen itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan,” tambahnya.

Zuraidah menilai kondisi ini kian parah oleh mudahnya akses terhadap minuman manis, mulai dari minuman kemasan hingga minuman siap saji seperti teh manis, boba, dan kopi kekinian. Produk-produk tersebut juga kerap tidak mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas.

Pentingnya Peran Orang Tua

Sementara itu, kebiasaan mengonsumsi minuman manis sering kali terbentuk sejak usia anak dan dapat terbawa hingga dewasa. Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk pola konsumsi yang lebih sehat.

Ia menyarankan agar orang tua tidak membiasakan menyimpan minuman berpemanis di rumah. Selain itu, anak juga perlu diajak untuk membaca label informasi nilai gizi pada kemasan.

“Secara sederhana, kita bisa mengurangi kemungkinan anak menjadi ketergantungan pada minuman berpemanis. Misalnya dengan tidak menyetok minuman manis di rumah atau mengajak anak memilih minuman dengan kandungan gula yang lebih rendah,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan agar tidak harus sepenuhnya menghindari minuman manis, tetapi perlu mengatur konsumsi gula secara bijak.

“Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup,” tutupnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top