Komposit Kayu Ramah Lingkungan IPB Tembus 117 Inovasi Indonesia 2025

Reading time: 2 menit
Komposit kayu ramah lingkungan IPB. Foto: IPB/Matthias Kabel
Komposit kayu ramah lingkungan IPB. Foto: IPB/Matthias Kabel

Jakarta (Greeners) – Peneliti IPB University mengembangkan komposit kayu yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi ini menjadi salah satu dari 117 inovasi Indonesia 2025 yang terpilih dalam ajang yang Business Innovation Center (BIC) selenggarakan.

Komposit merupakan material gabungan untuk menghasilkan sifat yang lebih kuat dan stabil. Dalam industri kayu, komposit bermanfaat sebagai panel seperti kayu lapis, oriented strand board (OSB), medium density fiberboard (MDF), dan papan partikel. Namun, produk-produk tersebut saat ini masih bergantung pada perekat berbasis formaldehida dan isosianat yang berisiko bagi kesehatan dan lingkungan.

Riset ini merupakan hasil pengembangan dosen Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Rita Kartika Sari. Ia bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Lampung.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan produksi kayu bulat terbesar kedua di Indonesia berasal dari genus akasia, khususnya kayu mangium (Acacia mangium). Jumlahnya mencapai 42,52 persen dari total kayu bulat nasional atau sekitar 27,57 juta meter kubik.

Dalam proses pengolahan kayu tersebut, sekitar 10 persen volumenya berupa kulit kayu sehingga menghasilkan kurang lebih 2,7 juta meter kubik limbah setiap tahun. Jumlah ini menyimpan potensi kimia hijau bernilai tinggi. Sebab, kulit mangium kaya tanin yang dapat diolah menjadi bahan baku industri berkelanjutan.

“Dari potensi itu, lahir teknologi sintesis dan formula resin bio-poliuretan non-isosianat berbasis tanin kulit kayu mangium sebagai perekat kayu bebas formaldehida,” kata Rita melansir Berita IPB, Jumat (6/3).

Lampaui Fungsi Tradisional

Selama ini, menurut Rita, industri panel kayu bertumpu pada resin urea-formaldehida dan fenol-formaldehida. Hal itu berpotensi melepaskan emisi formaldehida. Selain itu, industri juga menggunakan poliuretan berbasis isosianat yang bersifat reaktif dan berisiko bagi pekerja.

“Melalui modifikasi tanin kulit mangium menjadi biopoliol, sistem ini menggantikan poliol berbasis petrokimia. Proses berlangsung pada suhu moderat sekitar 80°C dengan tahapan relatif sederhana menggunakan dimetil karbonat dan heksametilentetramina sebagai pembentuk jaringan polimer yang lebih aman dan rendah risiko,” jelasnya.

Optimasi formula perekat menggunakan response surface methodology. Hasilnya, resin memiliki kadar padatan 58,16 persen, waktu gelatinasi sekitar 1,07 menit, serta kestabilan termal dan ketahanan air yang baik. Perekat ini berpotensi untuk pembuatan komposit kayu seperti OSB, MDF, kayu lapis, dan papan partikel.

Di tengah dorongan menuju ekonomi sirkular dan target Net Zero Emission 2060, inovasi ini menunjukkan bahwa riset berbasis sumber daya alam nasional mampu melampaui fungsi tradisionalnya.

“Hutan tropis Indonesia tidak hanya menyediakan kayu, tetapi juga fondasi material maju yang lebih aman dan berkelanjutan. Dari biomassa lokal, kita dapat membangun industri yang mandiri sekaligus rendah emisi,” tambah Rita.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top