Matavenero, Kampung yang Berpaling dari Modernitas

Reading time: 3 menit
Kampung Matavenero, Spanyol. Foto: Kevin Faingnaert/www.huffingtonpost.com

Kampung Matavenero, Spanyol. Foto: Kevin Faingnaert/www.huffingtonpost.com

Kevin Faingnaert membantu membereskan ladang, mengepel bar, menggali kanal, memberi makan keledai dan membersihkan serta mengatur perpustakaan komunal disana. Hingga akhirnya, dia mendapatkan kepercayan dari penduduk untuk mengambil foto kehidupan di sana.

Kebanyakan orang di Matavenero tidak menyukai difoto. Setelah Faingnaert mengenal hampir semua orang disana, ia baru tahu siapa yang mau difoto. Walau beberapa orang penduduk suka membagikan visi mereka kepada dunia dan mau bekerjasama untuk pekerjaan seperti yang ia lakukan, namun sebagian besar dari mereka tetap ingin terisolasi dari kehidupan luar.

Foto yang diambil oleh Faingneart menangkap cerita tentang idealisme, komunitas dan visi yang radikal. Penduduk Matavenero tidur di tenda dan kabin, bertemu seminggu sekali di kubah geodesik berwarna kuning yang berfungsi sebagai balai kota. Mereka bernyanyi di sekitar api unggun dan bersantai di tempat sauna dan kolam bersama. Mereka merangkul aspirasi lingkungan dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya pada visi yang utopis yang mereka buat.

“Saya tidak bisa merasakan apapun kecuali kekaguman terhadap kesungguhan mereka. Mereka berbagi visi yang sama terhadap kehidupan yang ekologis. Semua barang yang dibawa masuk ke kampung harus dibawa oleh keledai atau kuda atau kereta dorong atau dipanggul dalam ransel selama 3 jam perjalanan. Satu-satunya listrik berasal dari sumber daya terbarukan. Semua sampah harus didaur ulang atau dibawa keluar. Kantong plastik yang sama terlihat lagi dan lagi. Sangat sedikit uang yang digunakan dan koin uang yang sama berputar di antara mereka,” katanya.

Penulis: NW/G15

Top

You cannot copy content of this page