Di tengah meningkatnya sorotan terhadap limbah industri fesyen, inovasi material kembali menawarkan pendekatan berbeda. OBRO, material komposit dari Sanyo Co., Ltd., menghadirkan cara baru memandang sisa produksi kulit. Bukan sebagai residu yang tersembunyi, melainkan sebagai elemen estetika.
Material ini memanfaatkan bubuk kulit daur ulang yang dicampurkan dalam PVC hitam transparan. Hasilnya, permukaan dengan efek visual menyerupai taburan bintang di langit malam. Fragmen kulit tampak mengambang di dalamnya, menciptakan kedalaman tekstur yang berubah mengikuti arah cahaya.
Limbah Jadi Identitas Visual
Melansir Yanko Design, nama OBRO berasal dari kata Jepang oboro yang berarti “berkabut” atau “samar.” Karakter ini tercermin pada tampilannya yang tidak sepenuhnya solid, namun juga tidak transparan sepenuhnya. Saat terkena cahaya, serpihan kulit memunculkan kilau metalik sekaligus kesan hangat yang organik.
Alih-alih meniru kulit konvensional dengan emboss atau pola imitasi, OBRO justru menegaskan bahwa ia adalah material baru. Bubuk kulit digiling hingga menyatu dalam komposit, membentuk bahasa desain yang berbeda dari kulit tradisional maupun material sintetis murni.
Pendekatan ini relevan dengan tantangan industri kulit global, di mana sisa potongan produksi kerap berakhir sebagai limbah. Dengan memanfaatkan kembali serpihan tersebut, OBRO menghadirkan alternatif pengolahan limbah yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis.
Produk perdana OBRO hadir dalam bentuk tote bag, sacoche, dan tempat kunci. Desainnya minimalis dan netral gender, membiarkan material menjadi pusat perhatian. Panel OBRO berpadu dengan aksen kulit asli, menghadirkan kontras antara komposit berkabut dan tekstur solid yang lebih familier.
Dari sisi teknis, material ini lebih ringan daripada kulit full-grain. Kandungan PVC membuatnya lebih tahan air tanpa perlu perlakuan kimia tambahan. OBRO juga cukup kokoh mempertahankan bentuk, sehingga sesuai untuk produk yang membutuhkan struktur tanpa bobot berlebih.
Menjadikan Limbah sebagai Nilai Tambah
Sebagian besar inovasi berkelanjutan di sektor material berfokus pada pengurangan bahan baku atau pencarian alternatif biodegradable. OBRO mengambil jalur berbeda: menjadikan aliran limbah sebagai elemen visual utama. Fragmen kulit tidak disamarkan, melainkan dibiarkan terlihat, menciptakan efek yang tidak mungkin dicapai PVC murni.
Langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu berarti kompromi estetika. Justru, nilai tambah dapat muncul ketika jejak produksi mendapat pengakuan secara terbuka.
Desainer Satoru Shimizu bersama tim Sanyo memposisikan OBRO sebagai opsi ketiga di antara kulit konvensional dan kulit sintetis berbasis klaim “vegan.” Material ini tidak menutup mata terhadap limbah produksi, tetapi juga tidak berusaha menyaru menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Bagi kalangan desain, teknologi, maupun fesyen urban, OBRO menunjukkan bahwa sisa produksi dapat menjadi produk bernilai tinggi. Di tengah maraknya praktik greenwashing, transparansi yang tampil secara harfiah di permukaan material menjadi pesan yang tak kalah penting.
Editor: Indiana Malia











































