Jakarta (Greeners) – Deforestasi tidak hanya memicu krisis lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan manusia. Ahli Entomologi IPB University Upik Kesumawati Hadi menyebut, hilangnya tutupan hutan dapat meningkatkan populasi nyamuk yang berisiko menularkan berbagai penyakit.
Menurut Upik, lonjakan populasi nyamuk akibat deforestasi terutama terjadi di wilayah bekas hutan yang telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Perubahan bentang alam tersebut menciptakan kondisi lingkungan baru yang mendukung perkembangbiakan nyamuk.
Hilangnya hutan juga berdampak langsung pada perilaku nyamuk. Upik mengatakan, ketika habitat alami nyamuk dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan beralih menggigit manusia.
“Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” kata Upik melansir Berita IPB, Senin (16/2).
Banyak laporan penelitian menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk yang lebih melimpah dan risiko penyakit yang lebih besar. Berkurangnya keanekaragaman hayati juga menghilangkan penyangga alami penularan penyakit, sehingga manusia semakin sering menjadi sumber darah utama nyamuk yang bersifat oportunis.
Nyamuk dikenal sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue (DBD), zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning.
“Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” kata Upik.
Hilangkan Fungsi Ekologis Hutan
Selain berdampak pada kesehatan, deforestasi juga menghilangkan berbagai fungsi ekologis hutan. “Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” kata Upik.
Ia menjelaskan, deforestasi umumnya terjadi di kawasan yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan permukiman. Konversi hutan untuk berbagai kepentingan tersebut menyebabkan vegetasi dan ekosistem hutan hilang secara permanen.
“Dampak paling serius dari kondisi tersebut adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Deforestasi yang terus berlanjut dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup yang tidak dapat dihindari,” tambahnya.
Deforestasi juga mengganggu siklus air melalui hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah. Hal itu meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Selain itu, hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap karbon turut meningkatkan emisi gas rumah kaca serta memperparah perubahan iklim dan pemanasan global.
Sebagai upaya pencegahan, Upik menekankan pentingnya reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan melalui aparat dan teknologi satelit, serta penegakan hukum yang tegas disertai edukasi masyarakat. Ia juga menyoroti perlunya peran aktif masyarakat dalam mendukung pelestarian hutan, mulai dari kampanye lingkungan hingga pemanfaatan sumber daya hutan secara bijak dan bertanggung jawab.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































