Dorong Sistem Guna Ulang untuk Tekan Krisis Sampah dari Hulu

Reading time: 2 menit
Sistem guna ulang dapat menekan krisis sampah. Foto: AZWI
Sistem guna ulang dapat menekan krisis sampah. Foto: AZWI

Jakarta (Greeners) – Krisis sampah Indonesia tidak cukup diselesaikan di hilir, namun pengelolaan hulu lebih penting. Percepatan transisi menuju sistem guna ulang dapat menjadi solusi.

Asosiasi Guna Ulang Indonesia (AGUNI) dan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) memandang sistem guna sebagai pendekatan strategis. Selain mampu mencegah sampah sebelum terbentuk, sistem tersebut dapat membuka peluang model ekonomi baru yang lebih sirkular dan berkeadilan.

Kerangka hirarki pengelolaan sampah dan prinsip ekonomi sirkular juga menunjukkan bahwa guna ulang berada di atas daur ulang. Sebab, guna ulang dapat mempertahankan fungsi produk tanpa melalui proses pengolahan ulang yang panjang dan berenergi tinggi.

“Dalam hierarki 9R, reuse berada di atas daur ulang karena mencegah sampah sejak awal. Sistemnya bisa melalui refill maupun return, dengan desain kemasan dan sistem yang memenuhi standar kebersihan. Ini adalah strategi pencegahan dari hulu,” ungkap Manager Program Dietplastik Indonesia sekaligus perwakilan AGUNI, Sarah Rauzana dalam agenda Reuse Tour AZWI bersama AGUNI beberapa waktu lalu.

Sarah menambahkan, setelah penerapan berbagai kebijakan pembatasan plastik sekali pakai, langkah berikutnya adalah memastikan sistem penggantinya benar-benar tersedia.

Model Bisnis Guna Ulang

Saat ini, implementasi bisnis guna ulang juga banyak bermunculan. Salah satunya Alner yang menghadirkan platform ritel sirkular dengan mendistribusikan produk rumah tangga dalam kemasan guna ulang. Kemasan tersebut dapat dikembalikan dan digunakan kembali berkali-kali.

CEO dan Founder Alner, Bintang Ekananda menjelaskan bahwa pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap kemasan. “Kami ingin menghapus ide kemasan sekali pakai. Di Alner, kemasan adalah aset yang terus berputar. Setiap wadah bisa terlacak siklusnya sehingga dampak pengurangan sampah bisa terukur secara nyata,” ujarnya.

Model ini juga telah melibatkan ribuan konsumen, ratusan mitra usaha kecil, serta puluhan merek produk, sekaligus menghindari jutaan kemasan sekali pakai. Praktik serupa juga terlihat pada toko ’Zero’ di Fresh Market Bintaro yang menerapkan sistem curah dan wadah guna ulang sebagai alternatif belanja minim sampah.

Selain praktik minim sampah, toko ini mendukung pengembalian kemasan dari produsen kemasan. Di dalamnya tersedia dropbox agar konsumen mengembalikan kemasan bekas untuk disetor ke mitra daur ulang.

Inisiatif tersebut tidak hanya membantu memastikan kemasan terkelola dengan lebih baik, tetapi juga meningkatkan kesadaran konsumen untuk mengembalikan kemasan setelah mereka gunakan. Inisiatif ini juga mendorong produsen menjalankan tanggung jawabnya melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).

Ekonomi Sirkular

Sementara itu, Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen di Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik menegaskan bahwa dalam pengelolaan sampah tidak ada jurus tunggal. Pengelolaan sampah harus mengikuti hirarki, tidak bisa hanya mengandalkan teknologi pengolahan.

Bagi Ujang, guna ulang adalah bagian utama dalam konteks implementasi ekonomi sirkular. Bahkan, saat ini Kementerian PPN/Bappenas juga sudah memiliki roadmap jangka panjang ekonomi sirkular.

“Dalam hirarki pengelolaan sampah, guna ulang berada lebih tinggi dibandingkan daur ulang. Jika daur ulang masih membutuhkan bahan baru dan proses yang panjang, guna ulang memiliki sirkularitas yang lebih jelas karena tidak memerlukan rantai pemrosesan sepanjang daur ulang,” ungkap Ujang.

Ujang menambahkan, penerapan guna ulang perlu dipetakan berdasarkan sektor bisnis yang relevan. Pemerintah, misalnya, mendorong sektor FMCG untuk mulai menerapkan kemasan guna ulang pada produk-produknya. Selain itu, sektor hotel dan restoran juga memiliki peluang besar menerapkan guna ulang. Terutama dengan memastikan layanan dine-in menggunakan peralatan makan guna ulang.

“Sektor lain yang sangat potensial adalah bisnis event. Jika setiap acara besar tidak memiliki protokol guna ulang, maka sampah kemasan sekali pakai akan terus bertambah. Karena itu, penerapan sistem guna ulang dalam kegiatan event penting untuk mencegah timbulan sampah baru,” tambahnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top