Jakarta (Greeners) – Kegiatan memotret dan mengamati burung (birding) kini tak lagi sekadar hobi para pencinta alam. Aktivitas ini perlahan menjadi cara menyenangkan bagi akademisi dan perempuan untuk bersuara tentang konservasi sekaligus mengedukasi publik mengenai kekayaan burung di Indonesia.
Salah satunya adalah Elis Zuliati Anis (49), akademisi asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung, di sela-sela kesibukan mengajarnya. Melalui karya fotografinya, Elis berhasil meraih juara dua dalam Lomba Fotografi “Menjaga Sayap Garuda: Konservasi Elang Jawa untuk Masa Depan”.
Foto tersebut menampilkan sepasang elang jawa yang terbang berdampingan di bawah langit biru Bukit Turgo, kawasan Gunung Merapi. Bukit Turgo menjadi lokasi yang kerap Elis kunjungi hampir setiap akhir pekan. Di kawasan ini, ia berjalan kaki, berolahraga, sekaligus memotret satwa liar yang singgah di lereng Merapi.
“Pada hari ketika foto sepasang elang jawa itu saya ambil, mereka seperti menari di udara. Momen itu terasa sangat utuh dan jarang terjadi. Bagi saya, itu salah satu pengalaman terbaik yang pernah saya temui,” ujar Elis kepada Greeners.
Sebagai dosen komunikasi di salah satu perguruan tinggi di DIY, Elis memandang aktivitas mengamati dan memotret burung sebagai bentuk academic life balance. Di tengah padatnya aktivitas akademik, fotografi satwa liar memberinya ruang untuk bermain di alam sekaligus menyegarkan pikiran.
Seiring waktu, hobi tersebut tumbuh menjadi kegiatan yang lebih bermakna. Elis membuktikan bahwa sebagai akademisi sekaligus ibu rumah tangga, perempuan memiliki ruang dan peran yang setara dalam upaya konservasi, salah satunya melalui medium fotografi.
Ketertarikan Elis pada fotografi satwa liar bermula saat ia menempuh studi doktoral di Australia pada 2018. Lingkungan kampus yang kaya akan burung menjadi pengalaman awal yang mendorongnya mencoba memotret, sekaligus membuka cara pandangnya terhadap alam dan kehidupan satwa liar.

Elis Zuliati Anis (49), akademisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung. Foto: Istimewa
Memotret dengan Etika dan Kesabaran
Memotret satwa liar bagi Elis adalah hal yang paling mengesankan. Namun, memotret satwa liar juga bukanlah hal yang mudah atau menggunakan peralatan paling canggih. Fotografer perlu memahami ekosistem dan perilaku satwa yang akan mereka potret.
Elis menekankan bahwa ada etika dalam memotret burung, mulai dari menjaga jarak, memahami sensitivitas satwa, hingga memilih pakaian yang tidak mencolok agar tidak menganggu satwa.
“Ini bukan sekadar datang lalu memotret saja. Di balik satu foto, tentu ada cerita tentang perilaku burung, relasinya dengan manusia, dan kondisi lingkungannya,” ujarnya.
Baginya dalam memotret satwa liar memerlukan kepekaan, kesabaran, ketelitian, dan empati terhadap alam. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam proses memotret.
Ke depan, Elis berharap semakin banyak perempuan terlibat dalam fotografi satwa liar, tidak hanya untuk berkarya, tetapi juga menyuarakan konservasi. Ia percaya fotografi memiliki kekuatan edukatif yang besar, terutama di era media sosial.
Edukasi Burung Terbatas
Sementara itu, kini edukasi tentang burung masih cenderung terbatas pada kalangan tertentu, seperti komunitas pengamat burung, akademisi, atau pegiat konservasi. Di tingkat masyarakat umum, khususnya di perkotaan, pemahaman tentang peran ekologis burung, status keterancamannya, serta ancaman nyata seperti perburuan dan perdagangan masih relatif rendah.
Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan burung tertinggi di dunia. Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah spesies burung tertinggi, dengan lebih dari 1.800 spesies tercatat.
Keunikan lainnya, Indonesia memiliki tingkat endemisitas burung yang sangat tinggi, dengan lebih dari 500 spesies yang hanya ditemukan di wilayah kepulauan Nusantara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Namun, besarnya kekayaan ini belum diimbangi dengan tingkat edukasi publik yang memadai mengenai burung dan upaya konservasinya.
Conservation Engagement Officer Burung Indonesia, Ivanna Febrissa mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif edukasi melalui media sosial kegiatan pengamatan burung, dan kampanye kreatif mulai bermunculan. Namun, upaya tersebut belum berlangsung secara masif, berkelanjutan, dan terintegrasi dalam sistem pendidikan formal maupun ruang publik. Akibatnya, burung masih sering dipandang sebatas sebagai komoditas atau hiburan, bukan sebagai bagian penting dari ekosistem yang perlu dilindungi bersama.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar dalam memperluas edukasi burung yang inklusif, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, agar kesadaran dan kepedulian terhadap konservasi burung dapat tumbuh secara lebih luas dan berdampak jangka panjang,” kata Ivanna.
Ia menilai bahwa edukasi burung sangat penting bagi publik. Khususnya anak-anak muda dan pelajar untuk bisa memahami peran burung bagi ekosistem. Menurutnya, kelompok usia ini merupakan generasi yang akan menentukan arah hubungan manusia dengan alam di masa depan, sehingga pengetahuan dan nilai yang mereka miliki hari ini akan berpengaruh besar terhadap praktik konservasi ke depan.
Tantangan Mengubah Persepsi
Dalam mengedukasi publik tentang burung dan konservasi juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya adalah mengubah persepsi masyarakat, terhadap budaya pemeliharaan burung yang sudah mengakar kuat dan diwariskan lintas generasi. Praktik ini kerap dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan bernilai budaya dan ekonomi.
Selain itu, burung sering kali tidak dipandang sebagai satwa ikonik atau prioritas konservasi dibandingkan satwa besar lainnya. Akibatnya, isu perlindungan burung kurang mendapatkan perhatian luas dari masyarakat, media, maupun pembuat kebijakan, meskipun ancaman terhadap populasi burung terjadi secara masif.
Ivanna berharap ke depan burung dapat memperoleh perhatian yang lebih besar sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam. Burung tidak lagi dipandang sebagai satwa yang hanya ditempatkan di dalam sangkar. Sebab, burung memiliki peran ekologis yang hanya dapat berjalan ketika mereka hidup bebas di alam. Dengan demikian, perubahan cara pandang masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya konservasi.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia












































