Jakarta (Greeners) – Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mendapat kiriman bangkai ayam pada Selasa (30/12). Bangkai ayam tersebut ada di teras rumah aktivis Greenpeace tersebut pada Selasa pagi, tanpa pembungkus apa pun.
Di kaki ayam itu terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan, “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menduga kiriman tersebut merupakan bentuk teror terhadap kerja-kerja Iqbal sebagai pengkampanye Greenpeace. Dugaan ini menguat karena dalam beberapa waktu belakangan terdapat pola teror serupa yang menimpa masyarakat sipil, jurnalis, dan pegiat media sosial.
Belakangan ini, Iqbal melalui akun media sosial pribadinya kerap menayangkan unggahan mengenai banjir di Sumatra serta respons pemerintah dalam menangani bencana tersebut. Sejumlah juru kampanye Greenpeace juga aktif bersuara melalui wawancara media maupun media sosial.
Berbagai pernyataan tersebut berangkat dari temuan tim Greenpeace yang turun langsung ke lapangan pascabencana, serta hasil analisis internal organisasi. Namun, dalam beberapa hari terakhir, Iqbal menerima banyak serangan di kolom komentar unggahan media sosialnya. Ia juga mendapat pesan bernada ancaman melalui direct message Instagram.
“Kritik publik, termasuk pengkampanye kami, terhadap cara pemerintah menangani banjir Sumatra ini sebenarnya lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban. Apalagi, di balik banjir Sumatra ini ada persoalan perusakan lingkungan, yakni deforestasi dan alih fungsi lahan yang terjadi menahun, yang terjadi atas andil pemerintah juga. Belum lagi pemerintahan Prabowo malah akan membuka jutaan hektare lahan di Papua, yang bakal merugikan masyarakat adat dan memperburuk dampak krisis iklim,” ujar Leonard dalam keterangan tertulisnya.
Greenpeace Indonesia mengecam maraknya upaya teror terhadap masyarakat sipil, mulai dari aktivis, jurnalis, hingga pegiat media sosial. Kritik publik mestinya tak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan ekspresi demokrasi dan pengingat bagi kekuasaan untuk tetap akuntabel. Konstitusi juga telah menjamin hak kebebasan berbicara.
Teror Serupa ke Kreator Konten
Sementara itu, lewat media sosialnya, disjoki asal Aceh, DJ Donny, mengabarkan bahwa ia juga mendapat kiriman bangkai ayam. Selain DJ Donny, pemengaruh sekaligus kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita, turut mengunggah kabar vandalisme pada mobil pribadinya. Ia juga menerima kiriman sekantung telur busuk ke tempat tinggalnya. Serupa dengan Iqbal, keduanya juga menerima surat bernada mengancam.
“Sulit untuk tidak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini,” tambah Leonard.
Menurutnya, ada satu kemiripan pola dalam kejadian ini. Ia menilai bahwa teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatra.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































