Sepanjang 2025, ITB-BRIN Berhasil Ungkap 12 Spesies Tumbuhan Baru

Reading time: 2 menit
Sepanjang 2025, ITB-BRIN berhasil mengungkap 12 spesies tumbuhan baru. Foto: Berita ITB
Sepanjang 2025, ITB-BRIN berhasil mengungkap 12 spesies tumbuhan baru. Foto: Berita ITB

Jakarta (Greeners) – Kolaborasi riset antara Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengungkap 12 spesies tumbuhan baru sepanjang 2025. Identifikasi ilmiah terhadap tumbuhan-tumbuhan baru ini menandai capaian penting dalam bidang konservasi.

Sebanyak 12 spesies tumbuhan yang teridentifikasi merupakan tumbuhan endemik Indonesia. Tumbuhan tersebut terdiri atas 11 spesies dari famili Araceae serta satu spesies dari genus Syzygium (Myrtaceae) asal Sulawesi Tenggara.

Kurator Herbarium Bandungense SITH ITB, Arifin Surya Dwipa Irsyam, bekerja sama dengan peneliti BRIN Muhammad Rifqi Hariri menemukan sebelas spesies baru. Sementara itu, Arifin bersama Rifqi, dan Dian Rosleine, Kepala Herbarium Bandungense sekaligus Wakil Dekan Sumber Daya SITH ITB mengidentifikasi satu spesies lainnya. Spesies tersebut adalah Homalomena mamasaensis, keladi liar endemik Sulawesi.

Dekan SITH ITB, Indra Wibowo mengapresiasi capaian Herbarium Bandungense SITH ITB bersama mitra riset. Menurutnya, capaian ini membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan edukasi dan konservasi bagi generasi peneliti masa depan.

“Prestasi ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang keanekaragaman hayati Indonesia. Ini juga mengukuhkan komitmen SITH ITB dalam menginventarisasi dan menjaga kekayaan flora nasional melalui pendekatan ilmiah yang integratif, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujar Indra dalam keterangannya.

Kerja Sama Erat SITH ITB dan BRIN

Keberhasilan identifikasi spesies baru ini tidak terlepas dari kerja sama yang erat dari kepakaran masing-masing institusi. SITH ITB berperan utama dalam pengamatan morfologi secara mendalam serta kurasi spesimen. Sementara, BRIN mendukung validasi temuan melalui analisis molekuler dan dokumentasi fotografi beresolusi tinggi.

“Proses identifikasi awal adalah pengamatan morfologi yang sangat detail di Herbarium Bandungense SITH ITB. Selanjutnya, konfirmasi kebaruan jenis secara molekuler serta dokumentasi visual kami lakukan di BRIN,” jelas Arifin.

Selain itu, di balik penemuan ini juga ada peran penting dari masyarakat lokal. Sebelum beberapa spesies dideskripsikan secara ilmiah, masyarakat terlebih dahulu membudidayakan spesies-spesies tersebut.

Contohnya adalah Homalomena polyneura yang terkenal sebagai Homalomena “Samurai”. Rachmawati (Zelika Badu) pertama kali membudidayakan spesies tersebut.

Sementara itu, Tulla Jingga dan Firman Yusnandar pertama kali memperkenalkan Syzygium rubrocarpum (ruruhi) dan Homalomena belitungensis kepada publik melalui media sosial.

Famili Araceae Jadi Temuan Terbanyak

Penemuan spesies baru pada tahun ini didominasi oleh tumbuhan dari famili Araceae. Khususnya, marga HomalomenaSchismatoglottis, dan Cyrtosperma, serta satu jenis dari famili Myrtaceae. Sebanyak 12 spesies tersebut tersebar di berbagai ekosistem unik, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Secara rinci, temuan ini mencakup sepuluh spesies dari marga Homalomena. Di antaranya H. adeiH. amariiH. belitungensisH. chikmawatiaeH. mamasaensisH. pistioidesH. polyneuraH. rendaH. sungaikeliensis, dan H. siaisensis. Selain itu, dideskripsikan pula satu spesies Syzygium (S. rubrocarpum) serta satu spesies Schismatoglottis (S. ambigua).

Tahun sebelumnya, Arifin dan Hariri juga telah mendeskripsikan dua spesies baru dari marga Cyrtosperma, yaitu C. hayii dan C. prasinispathum. Tim peneliti turut merevisi taksonomi dengan menggabungkan marga Furtadoa ke dalam Homalomena. Hal itu menghasilkan nama baru, yakni Homalomena indrae dan Homalomena sumatrensis.

“Insya Allah, dalam waktu dekat akan terbit satu deskripsi spesies baru lagi, sehingga total temuan kami menjadi 15 spesies,” tambah Arifin.

Dari sisi morfologi, spesies-spesies baru ini menunjukkan karakteristik yang menonjol, seperti daun dengan kilau iridesensi kebiru-hijauan, helai daun berukuran besar dengan puluhan pasang tulang daun, hingga bentuk daun unik menyerupai lumba-lumba atau memiliki tepian berenda. Pada kelompok Syzygium, ciri khas terlihat pada warna buah yang mencolok.

Selain keunikan morfologi, beberapa spesies menunjukkan adaptasi habitat yang sangat spesifik. Sebagian tumbuh terbatas di celah batuan granit, sementara yang lain ditemukan di ekosistem hutan rawa gambut.

Seluruh spesimen tipe (holotipe) dari 14 spesies baru yang ditemukan pada periode 2024–2025, kini disimpan secara resmi di Herbarium Bandungense SITH ITB.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top