Tingginya Konsumsi Tembakau Picu Lonjakan Kematian Kardiovaskuler

Reading time: 3 menit
Tingginya konsumsi tembakau dapat memicu lonjakan kematian kardiovaskuler. Foto: Freepik
Tingginya konsumsi tembakau dapat memicu lonjakan kematian kardiovaskuler. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Tren prevalensi perokok di Indonesia menunjukkan peningkatan dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dampak dari tingginya konsumsi tembakau ini memicu lonjakan kematian kardiovaskuler.

Peningkatan tercatat pada kelompok demografi laki-laki dan usia remaja. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) Study tahun 2021, jumlah perokok laki-laki di Indonesia mencapai angka 63,2 juta jiwa, sementara perokok perempuan tercatat sekitar 11,6 juta jiwa.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR Kesmaszi) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tati Suryati mengatakan bahwa selama tiga dekade, sejak tahun 1990 sampai 2021, perokok remaja umur 10-15 tahun dan dewasa 15 tahun ke atas terus meningkat.

“Peningkatan itu, perokok pria jauh lebih tinggi daripada yang perempuan,” kata Tati di Jakarta, Kamis (29/1).

Selain jumlah perokok yang masif, intensitas konsumsi rokok di Indonesia juga tergolong tinggi. Data menunjukkan bahwa rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi sekitar 4.190 batang rokok per tahun.

Di tingkat regional ASEAN, tercatat ada 33,1 juta perokok pria yang menghisap lebih dari 15 batang per hari. Indonesia berkontribusi signifikan terhadap angka ini, di mana data menunjukkan sekitar lebih dari 15 juta perokok pria di tanah air mengonsumsi rokok dengan intensitas tinggi tersebut.

Tati menjelaskan bahwa semakin tinggi jumlah konsumsi rokok menyebabkan semakin cepat timbulnya respons penyakit dalam tubuh seseorang.

“Semakin tinggi konsumsi, semakin mencapai pada dosis respons untuk timbulnya insiden penyakit. Perokok pria Indonesia ini jumlahnya lebih dari 50 persen populasi perokok di Asia Tenggara, sehingga timbulnya penyakit di Indonesia mungkin lebih cepat dibandingkan negara lain yang konsumsinya lebih sedikit,” tambahnya.

Tingginya Angka Kematian

Dampak kesehatan dari tingginya konsumsi tembakau ini berakibat pada tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat tembakau adalah penyakit kardiovaskuler. Tingkat kematian akibat kardiovaskuler mencapai 59,60 per 100.000 penduduk.

Kerugian ini tidak hanya dihitung dari angka kematian, namun juga menggunakan indikator Disability-Adjusted Life Years (DALYs), yaitu tahun produktif yang hilang akibat kematian dini atau disabilitas.

Untuk kasus kardiovaskuler di Indonesia, kerugiannya mencapai hampir 2.000 tahun produktif yang hilang per 100.000 penduduk. Secara total estimasi, terdapat sekitar 5,4 juta tahun produktif yang hilang akibat penyakit ini.

Tingginya beban penyakit ini berimplikasi langsung pada kerugian ekonomi nasional. Tati memaparkan bahwa pada 2019, kerugian ekonomi akibat konsumsi tembakau berkisar antara Rp184,36 triliun hingga Rp410,76 triliun. Angka ini setara dengan 1,16 persen hingga 2,59 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Lebih rinci, BPJS Kesehatan harus mengalokasikan dana sebesar Rp10,4 triliun hingga Rp15,6 triliun hanya untuk biaya perawatan penyakit akibat merokok. Namun, Tati menekankan bahwa angka triliunan rupiah tersebut kemungkinan besar masih underestimate atau di bawah angka sebenarnya.

“Perhitungan ini masih estimate, karena biasanya yang dihitung hanya diagnosis utama saja. Belum dihitung jika seseorang memiliki komplikasi atau komorbiditas lain. Selain itu, data ini seringkali hanya menangkap pelayanan rujukan di level 2 atau 3, belum mencakup keseluruhan dampak ekonomi yang riil di lapangan,” jelasnya.

Beratnya Implementasi Kawasan Tanpa Rokok

Meskipun Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 menargetkan penurunan prevalensi melalui penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), implementasinya masih menghadapi tantangan berat.

Data tahun 2019 menunjukkan 83 persen kabupaten/kota telah memiliki aturan KTR. Namun, survei memperlihatkan 50,53 persen remaja non perokok masih terpapar asap rokok orang lain (second hand smoke) di lingkungan sekolah. Sisanya, sebanyak 46,18 persen terpapar di rumah.

Kondisi ini kian parah akibat tingginya kasus pneumonia pada balita yang berkorelasi dengan paparan asap rokok di rumah tangga. Tati menyimpulkan konsumsi tembakau bukan sekadar gaya hidup, melainkan ancaman vital bagi kesehatan masyarakat. Hal itu berakibat pada tekanan fiskal negara dan keberlanjutan jaminan kesehatan nasional.

Oleh karena itu, Tati menyampaikan perlunya penguatan fasilitas pelayanan kesehatan primer untuk deteksi dini penyakit akibat rokok, serta pengembangan strategi pengendalian tembakau yang lebih efektif dan tegas. Hal itu penting guna menyelamatkan generasi produktif Indonesia di masa depan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top