Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pengolahan limbah padat industri kelapa sawit, khususnya tandan kosong sawit, menjadi bahan industri bernilai tinggi. Inovasi tersebut bernama Inacell, yaitu produk mikrokristalin selulosa (MCC).
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Holilah mengatakan bahwa MCC merupakan produk hidrolisis selulosa terkontrol yang teraplikasi di banyak sektor industri. Produk tersebut dapat digunakan di bidang farmasi, pangan, kosmetik, hingga bahan coating.
“Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi bagi industri kelapa sawit nasional,” kata Holilah melansir Berita BRIN, Rabu (11/3).
Berdasarkan data industri dan ekonomi, Indonesia memproduksi crude palm oil (CPO) dengan capaian 48,5 – 51,0 juta ton pada 2026, sehingga menghasilkan limbah yang sangat melimpah. Menurut Holilah, potensi limbah ini sangat besar untuk dikonversi menjadi produk bernilai tambah seperti MCC.
Sementara itu, pemilihan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku juga didasarkan pada ketersediannya yang berkelanjutan. Potensinya sebagai bahan baku lignoselulosa selama ini juga belum dimanfaatkan secara optimal.
“Dari hasil riset, setelah melalui proses dari limbah menjadi selulosa, kami bisa menghasilkan kandungan selulosa hingga 65,21 persen. Metode yang kami gunakan utamanya adalah menghilangkan lignin dan menghasilkan MCC yang murni, dengan kadar lignin akhir hanya sekitar 1 persen,” jelasnya.
Kebutuhan MCC Meningkat
Kebutuhan MCC di Indonesia dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Angka impornya mencapai sekitar 4 juta kilogram per tahun. Holilah membandingkan Inacell-MCC dengan MCC komersial. Hasilnya menunjukkan karakteristik water holding capacity, oil holding capacity, dan swelling index Inacell lebih besar daripada MCC komersial.
Holilah menjelaskan beragam aplikasi MCC di berbagai bidang industri. Di bidang farmasi, MCC menjadi bahan tablet yang mudah terurai di usus, dapat berkombinasi dengan senyawa bioaktif, dan terjamin keamanannya karena berasal dari tumbuhan.
Di bidang pangan, berfungsi sebagai texturizing agent yang dapat meningkatkan volume roti. Bahkan, berfungsi sebagai bahan stabilisasi dan pengental dalam pembuatan saus. MCC juga berperan sebagai long term product integrity yang mampu mengontrol kadar air sehingga memperpanjang usia produk pangan.
Di bidang komposit, MCC jadi agen reinforcement untuk meningkatkan sifat mekanik material. Terutama dalam bentuk nanoselulosa yang dapat teraplikasi di berbagai jenis komposit. Sementara di bidang kosmetik, berperan sebagai texturizing, bulking, dan stabilizing agent pada krim, bedak padat, foundation, serta berfungsi sebagai oil control.
Terkait rencana produksi skala industri, Holilah menegaskan timnya telah melakukan perhitungan matang. Penggunaan asam organik dengan bahan baku kimia teknis (bukan grade PA) menjadi strategi untuk menekan biaya produksi.
“Pemilihan asam organik memang memerlukan waktu proses yang lebih lama, tetapi dari sisi distribusi dan kualitas hasil lebih baik. Jika produk ini diarahkan untuk kebutuhan pangan dan farmasi, akan lebih baik menggunakan asam organik,” ujar Holilah.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































