Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), mengungguli 629 peserta dari 13 negara.
Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang diolah menjadi karbon aktif untuk mengadsorpsi gas CO₂ di atmosfer. Melalui riset ini, tim mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) berbasis material limbah plastik PET.
“Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” kata Pandu melansir Berita UGM, Jumat (30/1).
Menurut Pandu, pengembangan adsorben berbiaya rendah menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi teknologi CCT. Selama ini, tingginya biaya operasional menjadi hambatan utama penerapan teknologi penangkapan karbon.
“Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya.
Urgensi Pengelolaan Sampah
Pemilihan limbah botol plastik PET juga didorong oleh persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih belum optimal. Anggota tim, Samuel Khrisna Wira Waskita, memaparkan bahwa sekitar 48% sampah plastik di Indonesia saat ini masih dikelola melalui pembakaran, yang justru berkontribusi pada peningkatan emisi CO₂ ke atmosfer. Selain itu, rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 13% dari total kapasitas produksinya.
“Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Billy menjelaskan bahwa meskipun penelitian mengenai penggunaan adsorben berbasis limbah plastik untuk aplikasi CCT telah banyak dilakukan, keterbatasan kapasitas penyerapan gas CO₂ masih menjadi kendala utama. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menemukan bahwa penggunaan zeolit dapat menjadi solusi.
“Berdasarkan referensi yang kami peroleh, pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit memang mampu untuk mengatasi hal tersebut,” paparnya.
Dosen pendamping tim, Fajar Inggit Pambudi, menekankan bahwa keunikan riset ini terletak pada aspek keberlanjutannya. Pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori seperti zeolit dinilai mampu menciptakan nilai keberlanjutan yang kuat.
“Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO₂,” tuturnya.
Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa inovasi ini memiliki potensi untuk dikomersialisasi. Pasalnya, industri saat ini membutuhkan teknologi yang efisien untuk mengolah emisi gas buang. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri atau sumber energi.
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi tim yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, dan Aqila Dziki Muhamad Iqbal dari Program Studi Ilmu Kimia angkatan 2022, serta Billy Natanael dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed dari Program Studi Teknik Kimia angkatan 2023. Di bawah bimbingan Fajar Inggit Pambudi dari FMIPA UGM, tim berhasil mengintegrasikan pendekatan komputasi dan eksperimental dalam penelitian ini.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































