Jakarta (Greeners) – Sejak meninggalkan hunian sementara, warga Kampung Bayam kini menempati rumah susun yang berada di sisi Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara. Meski ruang hidup berubah dan lahan pertanian lama telah berganti menjadi stadion, kebiasaan mereka untuk bertani tetap bertahan. Kini, mereka menghidupkan kembali pertanian perkotaan (urban farming).
Di sepanjang jalan rusun, deretan tanaman pangan, buah, dan pepohonan kembali tumbuh dan mereka rawat bersama-sama. Keterbatasan lahan tidak menyurutkan warga untuk bertani dengan memanfaatkan setiap ruang yang tersedia.
Ketua Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Muhammad Furqon, mengatakan meski kondisi tempat tinggal tidak lagi sama seperti dulu, tanah di wilayah tersebut tetap subur. Kesuburan itu kini dirawat bersama dengan menanam berbagai jenis tanaman pangan, tanaman obat, dan buah-buahan. Bahkan, mereka kini juga merawat kolam ikan dan beberapa green house untuk budidaya buah-buahan, salah satunya melon.
Tanaman lain seperti kembang kol, kubis, kailan, bayam, labu, cabai, terong, timun suri, semangka juga tumbuh di sana. Selain itu, warga juga memiliki tanaman obat dan banyak kolam ikan.
“Hampir seluruh tanaman yang dibudidayakan tumbuh dengan baik dan berbuah. Terong ungu, misalnya, dapat dipanen beberapa kali hingga total mencapai delapan kuintal. Sayuran seperti kailan bahkan bisa dipetik setiap hari dan langsung dikonsumsi warga Kampung Bayam,” kata Furqon kepada Greeners, Selasa (13/1).
Sebelum digusur, Kampung Bayam merupakan kawasan pertanian yang dihuni warga secara turun-temurun. Sejak dulu, wilayah ini dikenal sebagai salah satu pemasok sayuran, terutama bayam, ke pasar-pasar di Jakarta. Kini, dengan wajah kebun yang berbeda, hasil panen belum diproduksi dalam skala besar dan masih dinikmati oleh warga setempat serta pembeli lokal.
“Bayangkan lahan sesempit ini. Tapi petani tidak melihat sempitnya lahan, yang kami lihat adalah tanggung jawab untuk memelihara alam. Bertanam itu kekayaan,” ujar Furqon.
Merawat Tanah
Dengan kondisi lahan yang telah berubah, Furqon tetap yakin tanaman dapat tumbuh subur. Bersama petani lainnya, ia tidak pernah absen untuk terus mengisi lahan-lahan kosong di sekitar rusun dengan berbagai jenis tanaman.
Kesuburan tanah dijaga secara bergotong royong. Mereka kembali mempelajari kondisi tanah, termasuk tingkat keasaman. Furqon juga kerap berdiskusi dengan sesama petani di Bandung, Bogor, hingga Tasikmalaya untuk menghidupkan kembali kebun di lahan terbatas tersebut.
“Orang tua kami mengajarkan agar tidak pernah menyalahkan tanah jika tanaman gagal. Tanah itu harus dipahami, bukan dipaksakan. Generasi terdahulu mampu menyuburkan tanah tanpa teknologi, saya percaya petani hari ini bisa melakukannya dengan lebih baik,” ujar Furqon.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Di lahan yang seadanya, hampir tidak ada tanaman yang gagal panen. Bagi Furqon, kegagalan sering kali bukan berasal dari alam, melainkan dari manusia yang lupa berbagi ruang hidup dengan makhluk lain. Selain itu, cara untuk merawat tanaman-tanaman ini yaitu harus konsisten, sabar, dan telaten.
“Kalau kita berharap panen 100 persen lalu hanya mendapat 40 persen, itu bukan gagal. Itu tanda kita pelit dan tidak berbagi dengan makhluk hidup lain,” katanya.
Memupuk Tanaman Secara Organik
Prinsip bertani yang dipegang Furqon menunjukkan bahwa kendali utama dalam proses menanam berada pada manusia. Untuk memastikan tanaman itu tetap hidup dan tumbuh, menurutnya manusia yang merawatnya juga harus paham cara-cara menanam hingga menggunakan pupuk.
Karena itu, petani Kampung Bayam memilih menghindari penggunaan pestisida kimia, mereka menggunakan pupuk secara organik dari fermentasi kotoran hewan dan kulit buah.
Furqon mengungkapkan bahwa para petani di sana juga tidak pernah khawatir akan hama yang memakan tanaman-tanaman mereka. Contohnya, saat ulat memakan tanaman, petani tidak buru-buru membasminya. Mereka hanya memberi pupuk cair organik, kemudian ulat tersebut turun sendiri mencari sumber makanan lain.
“Tanah itu ekosistem, seperti tubuh manusia. Di dalamnya ada bakteri baik dan bakteri lain yang sama-sama memiliki peran,” ujar Furqon.
Menyesuaikan kondisi Jakarta yang panas dan berada di dataran rendah, warga juga menggunakan sekam dan arang untuk menjaga kelembapan tanah sekaligus mengendalikan populasi jamur. Metode ini bukan hal baru, namun telah lama dipraktikkan oleh orang tua mereka.
Harapan Warga
Dari kebun sederhana ini, Furqon memiliki harapan untuk Kampung Bayam. Ia berharap urban farming seperti di Kampung Bayam ini bisa berkembang menjadi kawasan agrowisata pertanian kota.
Ia membayangkan pengunjung dapat datang untuk belajar bertani, menikmati hasil kebun, memancing ikan, hingga mencicipi masakan dari dapur warga. Dengan begitu, warga tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga pengetahuan dan pengalaman.
Selain itu, Furqon berharap model pertanian kota ini dapat melahirkan petani-petani rumah tangga di Jakarta. Menurutnya, perubahan tidak harus dilakukan secara besar-besaran. Dari seribu orang, jika sepuluh saja mulai menanam, itu sudah menjadi keberhasilan.
Warga kota, kata Furqon, bisa memulai dari hal sederhana dengan menanam satu tanaman terlebih dahulu, merasakan manfaatnya, lalu menanam tanaman lain. Nantinya, dampak baik akan terasa langsung ketika mengisi isi dapur. Dengan memulai menanam dan memanfaatkan lahan yang ada, ketahanan pangan juga bisa tercipta bahkan dapat memperbaiki ekosistem di lingkungan.
Contohnya di Kampung Bayam, anak-anak kini terbiasa mengonsumsi sayuran dari hasil kebun sendiri sehingga mereka bisa lebih sehat dan nutrisi terpenuhi. Warga yang membutuhkan tanaman obat juga dapat memetik jahe merah atau serai untuk diolah secara mandiri. Hal ini menunjukkan, ketika sebuah lahan dimanfaatkan untuk bertani, ketersediaan pangan bisa diakses secara mandiri.
“Bertani bukan hobi, melainkan kehidupan. Tidak ada yang namanya gagal panen. Allah tidak pernah memberikan kegagalan. Jadi mulailah dengan dari menanam satu pohon dulu, kemudian rasakan manfaatnya,” ujar Furqon.
Dengan wajah baru Kampung Bayam yang kembali dirangkai oleh tangan-tangan warga menjadi lebih hijau, warga berharap pemerintah dapat mendorong kawasan ini menjadi agrowisata pertanian kota. Mereka ingin Kampung Bayam menjadi percontohan bahwa kebun kecil di tengah kota mampu mengembalikan ekosistem lingkungan dan menggerakkan ekonomi warga.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia












































