Jaga Sungai Brantas, Jangan Biarkan Jadi Lautan Sampah

Reading time: 2 menit
Aksi penggiat lingkungan untuk menyelamatan sungai dari sampah. Foto: Ecoton

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) pada 2 Februari lalu, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan Asosiasi Komunitas Sungai Nusantara (AKSI Nusantara) menggelar aksi damai di Alun-Alun Kota Malang. Kegiatan ini sekaligus mengajak masyarakat malang untuk tidak membuang sampah plastik ke Sungai Brantas.

Sebagai salah satu ekosistem lahan basah di Indonesia, kini kondisi Sungai Brantas semakin memprihatinkan. Peneliti mikroplastik Ecoton Rafika Aprilianti mengatakan, Sungai Brantas seharusnya menyimpan keanekaragaman hayati serta manfaat bagi masyarakat, baik secara ekologi, budaya dan ekonomi, kini banyak terkontaminasi sampah plastik.

“Sungai Brantas telah berubah menjadi tempat sampah. Padahal dalam PP 22/2021 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, sungai-sungai Indonesia harus bebas dari sampah. Kami mengajak warga untuk memelihara sungai dan tidak membuang sampah ke Sungai Brantas” katanya.

Ekspedisi Sungai Nusantara terus melakukan penelitian pada sungai di Jawa Timur sepanjang tahun 2022. Mereka menemukan, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi tertinggi yang sungainya banyak terkontaminasi mikroplastik, salah satunya Sungai Brantas.

Mikroplastik merupakan potongan atau pecahan plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 mm hingga 1 μm. Terdapat 2 kategori partikel mikroplastik berdasarkan ukurannya, yaitu kecil <1mm dan ukuran besar 1-5 mm.

Mikroplastik Ancam Kesehatan

Rafika juga memaparkan, keberadaan mikroplastik di lingkungan tidak dapat dengan mudah hilang dari perairan karena sifatnya yang persisten. Tingkat kontaminasi polusi mikroplastik dapat berdampak pada rantai makanan di perairan laut. Mulai dari mikroorganisme seperti plankton, berbagai jenis ikan, dan mamalia.

Tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, mikroplastik juga mengancam kesehatan manusia. Bahkan berdasarkan data, dari semua penyakit yang memengaruhi kesehatan, ahli memperkirakan lebih dari 50 persennya merupakan dampak buruk dari lingkungan.

“Mikroplastik yang telah terakumulasi di lingkungan akan memengaruhi kesehatan lingkungan beserta biota yang ada di dalamnya. Mikroplastik yang ada di lingkungan dapat menyerap dan mengangkut bahan kimia beracun di lingkungan menuju rantai makanan manusia,” jelasnya.

Paparan mikroplastik ini dapat menyebabkan berkurangnya berat calon bayi pada ibu hamil, merusak sel epitel pada reproduksi dan penurunan jumlah sperma.

Ingatkan sungai bukan tempat sampah. Foto: Ecoton

Lindungi Sungai Brantas, Cegah Plastik Sekali Pakai

Oleh sebab itu, salah satu pegiat Zero Waste Ecoton Tonis Afrianto menjelaskan, melalui kampanye ini mereka juga menuntut Pemerintah Kota Malang memperluas layanan tata kelola sampah hingga pelosok desa.

“Pemerintah membangun TPS 3R di setiap desa dengan didukung fasilitas sampah (dropbox sampah) di pelosok desa dan masyarakat yang hidup di bantaran sungai,” tegasnya.

Aksi ini juga mendorong pemerintah untuk mengalokasikan anggaran agar dapat memperbanyak kawasan bebas sampah atau zero waste cities. Program ini bertujuan sebagai solusi pengelolaan sampah mandiri skala desa/kelurahan agar sampah dapat terkelola dengan baik sehingga tidak terbuang begitu saja ke sungai.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan untuk melakukan pemerataan edukasi kepada masyarakat terkait mengurangi penggunaan plastik sekali pakai pada aktivitas sehari-hari. Salah satunya dengan menerapkan gaya hidup zero waste.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Top