Jakarta (Greeners) – Saat ini industri energi menjadi salah satu sumber utama pencemaran. Kelompok masyarakat sipil di Indonesia bersatu untuk mengatasi pencemaran dari industri energi.
Meskipun menyumbang 11,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2023, sektor energi dan metalurgi telah melepaskan bahan kimia beracun. Pelepasan ini menimbulkan risiko serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Bahkan, pada 2019, polusi udara menjadi faktor risiko kematian ketiga tertinggi bagi anak di bawah lima tahun di Indonesia.
Untuk itu, pada periode 2026 hingga 2030, Uni Eropa (EU) akan mendukung total enam proyek. Tujuannya untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat sipil Indonesia dalam transisi hijau yang berkeadilan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan.
Salah satu proyek tersebut adalah Project Transparent Green Transition Indonesia (TARGET): Empowering CSOs in Indonesia. International Pollutants Elimination Network (IPEN) akan mengimplementasikan proyek ini bersama mitra-mitranya, yaitu Nexus3 Foundation dan Arnika. Melalui kolaborasi ini, mereka akan menjalin kerja sama dengan organisasi masyarakat sipil (OMS) di Indonesia, terutama wilayah target.
Proyek ini akan memperkuat kapasitas lokal untuk pemantauan pencemaran, sehingga komunitas mampu mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan merespons ancaman pencemaran. Selain itu, melalui proyek TARGET, kapasistas OMS akan diperkuat dalam menghasilkan bukti ilmiah yang kuat guna mendukung advokasi yang lebih efektif serta implementasi kebijakan yang lebih tegas.
Direktur Eksekutif Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati mengatakan bahwa aspek keberlanjutan dalam transisi energi dan rantai pasok mineral kritis bukan hanya tentang mineral yang diekstraksi, tetapi tentang kehidupan yang dilindungi dalam prosesnya.
“Kesehatan anak-anak, masyarakat, dan lingkungan tidak boleh dikorbankan demi keuntungan finansial saja,” kata Yuyun di Jakarta, Rabu (25/2).
Ia juga menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat memastikan bahwa kontribusi Indonesia terhadap ekonomi hijau global terbangun di atas fondasi kesehatan dan integritas lingkungan.
Perkuat Transparasi Data
Sebagai negara yang memiliki komitmen untuk melakukan transisi energi, Indonesia telah mencerminkan komitmen itu dalam berbagai dokumen strategis nasional. Di antaranya Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan Kebijakan Energi Nasional (KEN), Just Energy Transition Partnership (JETP). Kebijakan juga tertuang dalam Rencana Aksi Nasional untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dan Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.
Meskipun berbagai kebijakan dan program tersebut sudah tersedia, namun akses terhadap informasi dan data mengenai sumber-sumber pencemaran masih sangat terbatas dan dibatasi.
Untuk itu, proyek TARGET akan membekali organisasi masyarakat sipil dan masyarakat lokal dengan alat data, dan sumber daya yang mereka butuhkan. Pembekalan itu untuk membantu mewujudkan masa depan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Ketua Program Studi Sarjana Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) I Made Wahyu Widyarsana mengatakan, transisi hijau bukan hanya tentang dekarbonisasi. Namun, harus memastikan bahwa tidak terjadi pergeseran karbon maupun toksisitas.
“Penguatan pengelolaan sampah, pengelolaan limbah berbahaya, serta transparansi data lingkungan merupakan kunci untuk memastikan transisi yang benar-benar berkeadilan,” kata Made.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia








































