Rafflesia, Ikon Bengkulu Yang Kian Terancam

Reading time: 2 menit

Bengkulu (Greeners) – Satu rombongan mahasiswa dari Lubuklinggau Provinsi Sumatra Selatan menggunakan bus pariwisata berhenti di liku sembilan lintas Bengkulu-Kepahiang, tepatnya di kawasan Cagar Alam Taba Penanjung I Kabupaten Bengkulu Tengah.

Bus yang membawa mahasiswa yang berniat berwisata ke Kota Bengkulu itu berhenti karna melihat tulisan “rafflesia mekar” pada spanduk yang terpampang di tepi jalan raya itu.

Supir langsung menepikan bus dan penumpang segera beranjak turun, tak sabar ingin melihat keunikan puspa langka endemik Bengkulu, Rafflesia arnoldii.

Hanya perlu berjalan kaki sejauh 100 meter ke dalam hutan, namun dengan medan yang cukup licin sebab hujan sering turun di wilayah pegunungan itu.

Setelah masuk ke dalam hutan, satu bunga berukuran besar yang juga dikenal sebagai bunga terbesar di dunia, Rafflesia arnoldii menyambut para wisatawan lokal itu.

Ekspresi kagum terlihat jelas dari wajah para pengunjung saat melihat keunikan bunga berwarna merah jingga yang menjadi ikon Provinsi Bengkulu itu.

“Sudah sering melihat fotonya, tapi baru pertama kali ini saya melihat langsung bunga rafflesia, sangat mengagumkan,” kata Dedek Trianto, salah seorang anggota rombongan.

Bunga yang mekar di tepi sungai kecil itu menambah keindahan pesona hutan hujan tropis Sumatra yang masih tersisa.

Para pengunjung juga bisa menikmati aliran sungai dengan air terjun yang rendah dan beristirahat sejenak sambil melepas lelah dan menikmati keelokan alam.

Sepekan terakhir, kawasan itu ramai dikunjungi warga yang melintas di jalan nasional yang menghubungkan Bengkulu dengan Sumatra Selatan itu.

Ibnu, warga Taba Teret yang menemukan bunga mekar sudah memagar puspa langka itu agar aman dari gangguan satwa liar dan tangan jahil manusia.

“Kami khawatir terinjak satwa liar atau dirusak tangan-tangan jahil karena pernah terjadi pada bunga lain yang mekar di hutan ini,” katanya.

Bunga rafflesia kata dia masih sering mekar di dalam kawasan cagar alam itu, terutama di tebing hutan.

Kawasan hutan yang datar sebagian sudah dirambah warga untuk menanam kopi dan jenis tanaman lainnya sehingga mengancam habitat bunga rafflesia.

Selain di kawasan Cagar Alam Taba Penanjung I, bunga rafflesia juga sering ditemui mekar di dalam Hutan Lindung Bukit Daun Kabupaten Kepahiang.

Habitat bunga langka di kawasan hutan ini secara rutin diawasi oleh tujuh bersaudara warga Desa Tebat Monok yang sudah membentuk komunitas yakni Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok.

Perambahan liar menjadi ancaman utama kelestarian bunga rafflesia di kawasan ini sehingga bunga mekar lebih sering ditemukan di tebing hutan.

“Karena dataran hutan yang datar sudah habis dirambah menjadi kebun kopi dan karet, yang tersisa hanya tebing hutan, tapi masih sering ditemui mekar,” kata Holidin, koordinator kelompok itu.

Ia mengharapkan pemerintah meningkatkan perlindungan terhadap kawasan hutan itu demi kelestarian bunga rafflesia yang menjadi simbol Provinsi Bengkulu.

Sementara itu peneliti bunga rafflesia dari Universitas Bengkulu Agus Susatya mengatakan di hutan Bengkulu terdapat empat jenis rafflesia yang endemik.

Selain jenis arnoldii, terdapat juga tiga jenis lainnya yakni gadutensis, bengkuluensis dan hasselti.

“Kelestarian bunga ini sangat tergantung pada kondisi kawasan hutan hujan tropis Bengkulu yang semakin terancam dengan penebangan dan perambahan liar,” katanya.

Ia mengharapkan pemerintah lebih serius melindungi hutan yang tersisa sebelum keanekaragaman hayati semakin banyak yang hilang. (G20)

Top