Jakarta (Greeners) – Tempat pemrosesan akhir (TPA) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat menempati peringkat kedua dalam daftar 25 titik emisi metana terbesar 2025 pada sektor limbah. Emisi metana yang dihasilkan dengan laju emisi 6,3 ton per jam.
Posisi pertama ditempati oleh Campo De Mayo di Buenos Aires, Argentina yang menghasilkan emisi metana dengan laju emisi 7,6 ton/jam. Kemudian posisi ketiga berada di Jeram, Selangor, Malaysia 6 ton/jam. Sebagai perbandingan, sumber yang memancarkan 5 ton metana/jam berkontribusi terhadap pemanasan global setara dengan satu juta kendaraan SUV.
Data ini berasal dari laporan UCLA Law berjudul “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills”. Laporan ini menganalisis hampir 3.000 titik emisi metana dari lebih dari 700 lokasi limbah di seluruh dunia. Hasilnya, 25 fasilitas pembuangan sampah tercatat paling bertanggung jawab atas emisi metana terbesar di sektor limbah. Kisarannya antara 3,6 hingga 7,5 ton metana/jam.
TPA Bantargebang memiliki pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sejak 2018. Namun demikian, permasalahan sampah tidak selesai hanya dengan proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy).
Direktur Eksekutif UCLA Emmett Institute, Cara Horowitz mengatakan bahwa riset ini menunjukkan tingkat metana yang sangat berbahaya dari sektor limbah di berbagai negara. Banyak lokasi ini berada dekat dengan kota, sehingga emisinya menimbulkan risiko nyata bagi kesehatan masyarakat.
“Kabar baiknya, pemerintah dan pengelola tempat pembuangan akhir dapat mengambil langkah praktis untuk mencegah plume besar ini,” ujar Cara dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/4).
Waste to Energy Berisiko
Koordinator Policy Strategist CERAH, Dwi Wulan Ramadhani mengatakan bahwa pendekatan Waste-to-Energy (WtE) berisiko tidak efektif dalam mengatasi akar persoalan limbah. Sebab, menciptakan ketergantungan baru pada ketersediaan sampah plastik sebagai bahan bakar.
Alih-alih mendorong pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sampah, model ini bisa melemahkan insentif untuk menekan produksi sampah, terutama plastik sekali pakai. Dalam jangka panjang, menurut Dwi, sistem ini berpotensi mempertahankan pola konsumsi yang boros sumber daya. Sebab, keberlanjutan operasional fasilitas WtE bergantung pada pasokan sampah yang stabil atau bahkan meningkat.
“Selain itu, WtE tidak benar-benar menghilangkan limbah, melainkan mengubah bentuknya menjadi emisi udara dan residu abu berbahaya yang tetap memerlukan pengelolaan lanjutan,” ujar Dwi.
Ia menegaskan bahwa proses pembakaran menghasilkan polutan berisiko tinggi bagi kesehatan masyarakat sekitar dan ekosistem lingkungan. Hal ini sekaligus akan menambah beban biaya untuk pengendalian emisi dan penanganan limbah B3 residu yang dihasilkan dari mesin incinerator.
“Karenanya, ambisi pemerintah membangun fasilitas WtE, termasuk di Bantargebang, lebih tepat dilihat sebagai solusi hilir yang mahal dan berisiko, bukan strategi utama dalam sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” tambahnya.
Laporan tersebut juga mencatat dua “Dishonourable Mentions” untuk lokasi limbah dengan tingkat emisi tinggi. Lokasi ini berpotensi masuk dalam 25 besar jika data setelah akhir 2025 turut diperhitungkan, yakni di dekat Istanbul, Turki, dan Abidjan, Pantai Gading.
Data tersebut muncul saat Turki bersiap menjadi tuan rumah COP31, konferensi iklim tahunan PBB. Persiapan ini juga diiringi inisiatif pembersihan sektor limbah yang dipimpin oleh Emine Erdoğan. Menariknya, lokasi di Istanbul menunjukkan tingkat emisi lebih besar dibandingkan dengan seluruh 25 lokasi utama.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































