Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Bumi pada 22 April, festival musik dan konservasi Sunset di Kebun menginisiasi kegiatan “Bersih-Bersih Ciliwung” di kawasan Kebun Raya Bogor. Aksi bebersih ini merupakan bagian dari program Sunset di Kebun, khususnya subprogram Lesstari yang menjadi rangkaian pra-acara Sunset di Kebun.
Kegiatan diselenggarakan oleh PT Mitra Natura Raya (MNR) selaku mitra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengelolaan kawasan Kebun Raya Bogor ini. Kegiatan juga diikuti oleh penikmat musik, masyarakat umum, komunitas, dan pemangku kepentingan. Melalui aksi bersih-bersih ini, mereka ikut berkontribusi langsung dalam menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem sungai, khususnya Sungai Ciliwung.
Aksi lingkungan ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah. Namun, juga bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Sungai Ciliwung sebagai salah satu aliran sungai penting memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat dan ekosistem sekitarnya. Area Sungai Ciliwung ini juga melintasi kawasan Kebun Raya Bogor. Sayangnya, Sungai Ciliwung masih tercemar oleh sampah yang tidak terlihat dan sulit dijangkau. Area ini mencerminkan adanya kerusakan lingkungan yang serius.
Mendorong Kolaborasi
Menurut General Manager Event Sunset di Kebun, Abi Irawan, melalui rangkaian kegiatan ini, Sunset di Kebun berharap dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas antara berbagai pihak dalam upaya pelestarian lingkungan. Selain itu, harapannya juga bisa menginspirasi pengunjung dan masyarakat luas untuk menjadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai bagian dari keseharian.
“Momentum Hari Bumi menjadi pengingat bahwa isu sampah di perkotaan masih menjadi tantangan nyata, baik yang terlihat maupun yang tak kasat mata. Di sisi lain, keterlibatan langsung masyarakat dalam aksi lingkungan masih tergolong rendah,” ujar Abi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/4).
Sunset di Kebun menegaskan bahwa kehadiran acara ini bukan hanya sekadar sebagai hiburan. Namun, juga sebagai medium untuk mendorong perubahan perilaku melalui pengalaman yang nyata dan partisipatif.
“Kita ingin pengunjung tidak sekadar tahu soal isu lingkungan. Mereka harus merasakannya secara emosional,” tegas Abi.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































