Peneliti ITB Ciptakan Panel Antipeluru dari Serat Rami

Reading time: 2 menit
Peneliti ITB menciptakan panel antipeluru dari serat rami. Foto: Berita ITB
Peneliti ITB menciptakan panel antipeluru dari serat rami. Foto: Berita ITB

Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan panel antipeluru berbahan dasar alam. Inovasi ini memanfaatkan karet alam Indonesia, khususnya serat rami, sebagai material komposit panel antipeluru.

Salah satu peneliti, Mardiyati, mengungkapkan bahwa produk tersebut telah menjalani uji tembak di PT Pindad (Persero). Pengujian mengacu pada Standar NIJ 0108.01 Level III dengan munisi 7,62 mm pada jarak tembak lima meter. Hasilnya, sampel panel yang tim kembangkan lolos uji sesuai standar.

“Karena ini produk militer, tentu ada standar pengujian yang harus kami lakukan supaya produk tersebut memang layak untuk digunakan,” ujar Mardiyati.

Keberhasilan lolos uji tembak bersama PT Pindad menjadi pencapaian tersendiri bagi tim peneliti. Menurut Mardiyati, hal ini membuktikan bahwa bahan alam Indonesia memiliki potensi besar untuk jadi material strategis.

“(Penghargaan ini) semakin meningkatkan motivasi saya untuk melakukan yang lebih baik lagi di bidang inovasi, sehingga nantinya produk-produk inovasi tersebut dapat menjadi produk yang turut memberikan solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi bersama,” ucap Mardiyati.

Berkat inovasi tersebut, Mardiyati terpilih sebagai inovator terbaik dalam ajang PRIMA Award ITB 2021. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi di bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi oleh LPPM ITB bekerja sama dengan Kantor Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB.

Sepanjang kiprahnya, Mardiyati telah menghasilkan berbagai produk inovasi, sebagian di antaranya bahkan telah dihilirkan melalui perusahaan rintisan binaan LPiK ITB. Salah satu inovasi terbaru yang ia kembangkan pada 2021 bersama timnya adalah panel antipeluru untuk Modular Armor System pada kapal patroli.

Ia menjelaskan, sebagai negara maritim, Indonesia membutuhkan kapal patroli untuk menjaga pertahanan dan keamanan wilayah perairan. Pada kapal-kapal tersebut, panel antipeluru biasanya terpasang di ruang kemudi, lambung, dan ruang mesin untuk melindungi dari ancaman tembakan. Selama ini, material panel antipeluru umumnya masih impor dari luar negeri.

Tidak Terlepas dari Tantangan

Dalam mengembangkan serat rami menjadi panel antipeluru, tim peneliti tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya soal memberikan solusi atas permasalahan di Indonesia dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, beserta kelebihan dan keterbatasannya.

Selain itu, kata Mardiyati, tim peneliti juga perlu memastikan produk tersebut benar-benar digunakan serta mendapatkan kepercayaan dari bangsa sendiri.

“Tentu saja di tahap ini peran berbagai pihak diperlukan. Pemerintah, industri, akademisi, seluruh komponen bangsa,” ujarnya.

Bagi Mardiyati, menjadi seorang inovator adalah perjalanan yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Ia pun berpesan kepada para inovator agar tidak pernah berhenti berkarya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

Top