Warung Energi, Hadirkan Energi Bersih dari Matahari di Rumah

Reading time: 3 menit
Panel Surya
Seorang petugas sedang memasang panel surya di atap. Panel surya telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik alternatif. Foto: Warung Energi

Memanen energi dari energi surya atau matahari menjadi dambaan banyak orang di kehidupan modern saat ini. Penggunaan panel surya sebagai sumber energi listrik merupakan salah satu cara untuk menekan konsumsi energi fosil yang makin terbatas. Namun, konsumen masih terganjal biaya instalasi yang memerlukan biaya tidak sedikit. 

Warung Energi, salah satu perusahaan yang menjual panel surya, berupaya meningkatkan penggunaan solar panel di sektor residensial Indonesia. Mengutip esdm.go.id, potensi energi surya di Indonesia sangat besar sekitar 4.8 kWh per meter persegi atau setara dengan 112.000 Giga Watt-peak (GWp).

CEO Warung Energi Abdul Karim Almukmin mengatakan, tren penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di residensial dan industri cukup lambat. Namun, di sektor komersil perkembangannya makin cepat. Kebijakan ekspor impor dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 49 Tahun 2018, kata dia, juga turut memengaruhi hal tersebut.

Menurut Abdul, awalnya Warung Energi dapat mengekspor 100 persen kWh ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sementara di peraturan yang sama, kini PLN hanya menerima 65 persen transfer energi surya. 

“Jadi, agak menurun perkembangannya daripada sebelumnya karena orang-orang sekarang berpikir dua kali untuk melakukan instalasi di rumah,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Panel Surya

Panel surya terpasang di sebuah atap gedung. Panel tersebut mengonversi energi matahari menjadi listrik. Foto: Warung Energi

Energi Bersih dari Rumah Sendiri

Tak hanya dari sisi kebijakan, Abdul menilai penggunaan PLTS atap melambat lantaran memerlukan modal besar. Ia juga menuturkan bahwa manfaat panel surya baru terasa 7 sampai 10 tahun pemakaian. Jangka waktu yang lama tersebut membuat para klien Warung Energi berpikir ulang untuk beralih ke medium energi terbarukan tersebut.

Meskipun begitu, ada juga pelanggan yang optimistis menggunakan PLTS Atap. Mereka berasal dari kalangan pengguna daya listrik 3.500 ke atas. Rata-rata merupakan konsumen yang baru membangun rumah atau memfungsikan rumahnya untuk indekos. “Dia (pelanggan) optimistis bahwa dengan pemasangan panel surya bisa menghemat listrik,” ujarnya.

Abdul mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi besar dalam hal pembangkit listrik tenaga surya. Latar belakang tersebut yang juga mendorong Warung Energi membidik masyarakat residensial atau perumahan daripada supermarket. Menurutnya dengan lebih banyak pemesan (customer), dampaknya lebih terasa.

Masyarakat Indonesia pun, kata dia, berkesempatan untuk dapat merasakan energi bersih hasil dari rumah mereka sendiri. Selain itu, masyarakat yang memasang PLTS dapat menghemat biaya dan perawatan instalasi listrik.

“Salah satu klien kami di Surabaya merasakan benefit-nya. Dulu sebelum ada peraturan PLN yang 65 persen, Rp1.500.000 sampai Rp500.000 saja dia bayar tiap bulan. Jadi, lebih dari 60 persen penghematannya,” katanya.

Panel Surya

Sejumlah panel surya terpasang di atas atap gedung. Menurut International Energy Agency (IEA), energi surya menjadi sumber listrik yang relatif paling murah di sejumlah negara. Foto: Warung Energi

Jajan Energi, Inovasi Sistem Metering

Warung Energi sebagai salah satu penerima dana investasi dari Nexus juga kerap berinovasi. Salah satunya dengan mengembangkan prototipe Jajan Energi. Inovasi ini merupakan sistem pembayaran dan pemantauan energi jarak jauh berbasis nirkabel.

Awalnya pemasangan purwarupa Jajan Energi menyasar daerah-daerah di wilayah terpencil. Sebab, area tersebut masih membayar listrik dengan sistem iuran per bulan. Selain itu, masyarakat di remote area juga masih terkendala dengan kemampuan membaca dan menulis. “Ini menjadi barrier atau menjadi tantangan untuk mereka. Makanya kita coba propose Jajan Energi,” ucapnya.

Sistem pengukuran (metering) Jajan Energi sama halnya dengan token, tetapi pengguna tak perlu memasukkan angka-angka. Menurut Abdul cukup memerlukan satu operator yang dapat menjadi bendahara sekaligus. Selanjutnya operator akan mengakses sebuah situs server melalui jaringan internet dan memperbarui data langsung ke rumah pelanggan. “Jadi, orang tinggal bayar ke bendahara tersebut,” ujarnya.

Kendati telah melalui tahap pengujian di Nusa Tenggara Timur, Warung Energi belum merilis instalasi Jajan Energi secara resmi. Abdul berharap awal tahun depan inovasi ini dapat segera beroperasi.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Baca juga: Yayasan Sinergia Berdayakan Masyarakat Melalui Panel Surya

Baca juga: Panel Surya Terbesar di Dunia Dipasang di Laut Maladewa

Top