Ancaman El Nino terhadap Ketahanan Pangan di Indonesia

Reading time: 2 menit
Ancaman El Nino terhadap ketahanan pangan di Indonesia. Foto: Freepik
Ancaman El Nino terhadap ketahanan pangan di Indonesia. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) –  Fenomena El Nino yang tengah terjadi di Indonesia pada 2026 berpotensi menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Jika kondisi ini semakin ekstrem, dampaknya dapat memperparah krisis pangan di Indonesia.

Hingga Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.

Berdasarkan analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), sejumlah wilayah mengalami kekeringan dengan tingkat sedang, berat, hingga ekstrem. Daerah yang paling rentan terhadap kekeringan akibat El Nino berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan.

Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional Walhi, Musdalifah, menyampaikan bahwa El Nino dapat memicu kondisi kekeringan yang semakin ekstrem. Situasi ini berdampak pada krisis air bersih, gagal panen, hingga ancaman krisis pangan.

Di sisi lain, sistem pangan Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Maret 2025 mencatat Indonesia mengimpor hingga 13.629 ton komoditas pangan.

“Paradigma pembangunan hari ini yang ekstraktif dan eksploitatif telah menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif ke lahan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur dan mega proyek investasi lainnya, termasuk di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia, yang notabenenya merupakan wilayah kelola rakyat dan sumber pangan utama untuk menopang ketercukupan pangan,” kata Musdalifah dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/4). 

Jamin Pemerataan Pangan

Berdasarkan historis, El Nino pada tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997, dan hingga 6 persen dibandingkan tahun 1996. Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional. 

Sementara, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April. Artinya, turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di sisi lain, Badan Pangan Nasional, menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama komisi IV DPR RI, bahwa Indonesia dalam menghadapi fenomena El-Nino telah menyediakan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton per hari. 

Musdalifah menambahkan dalam konteks pemenuhan hak atas pangan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan. Tidak hanya bicara soal ketersediaan, tetapi juga perlu memastikan sejauh mana masyarakat, khususnya kelas ekonomi  ke bawah dan masyarakat miskin dapat menjangkaunya. Kemudian, memastikan kelayakan pangan untuk masyarakat konsumsi. 

Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB menyatakan bahwa hak atas pangan yang layak terwujud jika setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, baik sendiri atau dalam bersama dengan orang lain dalam masyarakat, memiliki akses fisik dan ekonomi sepanjang waktu terhadap panganyang layak atau cara untuk pengadaannya. 

Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan mengurangi kelaparan sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat (2) Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan saat terjadi bencana alamat ataupun bencana lainnya.

Menyerupai 2023

Sementara itu, BMKG memperkirakan kekuatan El Nino tahun 2026 tidak akan sekuat tahun 2015, namun cenderung menyerupai kondisi tahun 2023.

BMKG menyatakan bahwa berbagai model iklim global menunjukkan potensi El Nino dengan peluang kejadian sekitar 50–80 persen. Intensitasnya berada pada level lemah hingga moderat pada pertengahan 2026, lalu berpotensi menguat menjelang akhir tahun.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan hingga awal April 2026, peluang intensitas El Nino super kuat masih di bawah 20%.

“Prediksi curah hujan bulanan menunjukkan tingkat kekeringan tahun 2026 dapat mencapai tingkat kekeringan seperti pada El Nino 2023,” kata Ardhasena. 

Ia menjelaskan bahwa El Nino dipicu oleh pelemahan angin pasat (angin yang bergerak ke barat) di wilayah ekuator Pasifik. Kondisi ini menyebabkan air laut hangat bergeser ke wilayah tengah hingga timur Pasifik. Sementara, perairan di timur Indonesia menjadi lebih dingin. Pendinginan suhu muka laut tersebut mengurangi pasokan uap air ke atmosfer Indonesia.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top