Produksi Pangan Terancam Menurun Akibat Fenomena El Nino

Reading time: 3 menit
Ilustrasi produksi pangan menurun. Foto: Freepik
Ilustrasi produksi pangan menurun. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Fenomena El Nino yang terjadi di Indonesia berdampak besar terhadap produksi pangan yang semakin menurun. Panas ekstrem yang timbul dari fenomena ini mempengaruhi siklus produksi tanaman serelia dan biji-bijian.

“Ada panas ekstrem atau kenaikan suhu itu di atas 30 derajat akan menyebabkan produksi menjadi turun. Misalnya, singkong dan sagu pun akan berefek tinggi. Tetapi, tanaman serelia juga sama butuh tingkat suhu dan kelembapan yang tertutup. Efeknya saat ini sudah mulai ada,” ungkap Dosen dan Peneliti Pangan Institut Teknologi Bandung (ITB), Angga Dwiartama.

Terlebih lagi, lanjut Angga, produksi beras yang sangat terancam akibat El Nino ini. Walaupun saat ini produk beras masih terbilang aman, tetapi pada akhir 2022 hingga pertengahan 2023 produksi beras lebih rendah.

Selain itu,  fenomena El Nino juga menyebabkan kekeringan dan lahan jadi kurang subur. Hal itu berdampak pada siklus air untuk ketahanan pangan di Indonesia.

BACA JUGA: Negara, Wabah, dan Krisis Pangan

“Ini bisa berimbas ke kesahatan masyarakat, efeknya berkali lipat. Ketersediaan air hingga produksi ketahanan pangan nasional itu sangat berdampak. Pedesaan itu bukan hanya untuk produksi, tetapi lahan juga jadi isu,” ucap Angga.

Apabila padi masih terus menjadi prioritas dalam ketahanan pangan, kata Angga, dikhawatirkan tidak ada cadangan pengganti saat produksi padi menurun.

“Tentu itu akan menjadi masalah. Oleh karena itu, orang-orang desa perlu sumber penghidupan lain dan mengolah lahan lebih beragam,” lanjut Angga.

Ilustrasi bencana kekeringan. Foto: Freepik

Ilustrasi bencana kekeringan. Foto: Freepik

Perlu Dorongan Komunitas Desa

Untuk mengantisipasi kekeringan yang berdampak pada ketahanan pangan ini, pemerintah telah melakukan banyak upaya. Misalnya, membangun saluran irigasi, embung, dan waduk. Segala upaya tersebut perlu dorongan dari masyarakat desa.

“Pemerintah tidak bisa berdiri sendirian. Masyarakat adat di pedesaan perlu bikin komunitas bantu support terhadap isu pangan ini. Jadi, memang orang-orang di desa bisa berpeluang lebih mandiri secara pangan,” tambah Angga.

Di sisi lain, lanjutnya, kini beras masih menjadi komoditas unggul yang banyak digunakan. Komoditas lainnya seperti singkong, kedelai, dan sagu masih sangat tinggi dari segi harga.

“Beras banyak keunggulan karena beras bisa distok. Jadi, sangat mudah juga upaya-upaya pengendalian harga. Sagu dan singkong itu relatif lebih besar harganya. Pada akhirnya, kita harus condong kepada beras,” imbuh Angga.

Krisis Produksi Pangan di Papua

Direktur Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL), Emil Kleden menyoroti krisis pangan di Papua dalam 40 tahun terkini.

Dalam forum daring Hari Pangan Sedunia: Refleksi Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Ancaman Kekeringan Dampak El Nino, Kamis, (12/10), Emil menunjukkan data bencana kelaparan di Papua.

“Masyarakat di sana umumnya mengandalkan panen ubi dan sagu. Pengalaman Papua selama 40 tahun krisis pangan berulang itu dasar untuk mempertimbangkan langkah serius menanggulangi itu. Saat ini, sagu sudah banyak dikonversi perkebunan kayu dan sawit,” kata Emil.

BACA JUGA: Penduduk Dunia Bertambah Ancam Krisis Pangan dan Lingkungan

Gagal panen akibat kekeringan dan musim dingin di sejumlah tempat yang mempunyai pangan utama ubi jalar juga menjadi penyebab utama kelaparan dan gizi buruk. Pada situasi tersebut pun ada faktor lain yang memperparah keadaan. Salah satunya adalah akses yang sulit ditempuh saat menyalurkan bantuan pangan.

“Jadi, aksesnya buruk, tidak ada perencanaan pembangunan untuk mencegah peristiwa buruk di Papua ini. Perencanaan itu pun buruk, sehingga berulang, penyaluran bantuan juga terhambat akses. Ada banyak ancaman pangan lokal,” tambah Emil.

Oleh sebab itu, Emil mengusulkan agar pemerintah daerah mendahulukan aspek kesejahteraan pangan orang asli Papua. Hal ini perlu dilakukan dengan cara membantu peningkatan produksi dan teknik penyimpanan jangka panjang pangan lokal.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top