Seremoni massal di Hari Peduli Sampah Nasional 2026 seharusnya tidak sekadar menjadi ritual usai dalam sehari. Setiap tahun kita memperingatinya, namun pertanyaannya tetap sama: apakah kita sedang merayakan kesuksesan, atau kita hanya mengulang kegagalan yang sama dengan pita peresmian yang berbeda?
Selama puluhan tahun, slogan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” melekat pada pendidikan karakter kita, dari bangku TK hingga lingkungan rukun tetangga. Namun, puluhan tahun pula kegagalan demi kegagalan terbukti. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2023 menyebutkan timbunan sampah mencapai 31,9 juta ton dari 290 kab/kota se Indonesia. Sampah yang tidak terkelola sekitar 35,67%. Data ini adalah bukti otentik bahwa slogan tersebut telah gagal total secara fungsional.
Mengapa? Karena slogan tanpa kurikulum, tanpa aturan yang menggigit dan tanpa monitoring yang ajeg dari para pemangku kepentingan, maka akan hanya menjadi angin lalu.
Edukasi Jangan Hanya Sekadar Teori
Sebagai guru, saya menyadari betul bahwa mendidik itu jauh melampaui sekadar mengajar. Mengajar mungkin soal transfer materi, tapi mendidik adalah soal mengubah perilaku (behavioral change). Ini bukan pekerjaan mudah. Menghadapi 20-30 kepala di kelas dengan ego dan latar belakang berbeda adalah tantangan yang kian pelik.
Faktanya, mengubah perilaku di kelas maupun di luar kelas (masyarakat) tidak bisa hanya mengandalkan nasihat manis. Kerja keras guru di ruang kelas untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sering kali gugur saat siswa berhadapan dengan realitas sosial yang biasa dengan pelanggaran. Tanpa konsekuensi yang menyentuh ranah personal, edukasi sering hanya sekedar teori.
Kegagalan slogan sampah ini menunjukkan rendahnya tingkat literasi kita secara sistemik. Bukan hanya literasi baca tulis, tapi juga literasi lingkungan. Kini, kita dipaksa bergeser pada era baru: literasi finansial. Ketika imbauan moral tidak lagi mempan, denda uang menjadi pilihan alat kendali.
Beberapa daerah di Indonesia mulai bergeser dari pendekatan persuasif ke pendekatan koersif (ancaman). Kita bisa mencontoh ketegasan di Denpasar, Bali. Masih segar dalam ingatan bagaimana warga bernama Jero Nyoman Wahyu harus menghadapi Sidang Yustitia dan divonis denda Rp300 ribu hanya karena membuang sampah sembarangan.
Denpasar tegas dalam Peraturan Walikota (Perwali) Kota Denpasar No 15 tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Budaya. Tidak hanya Denpasar, daerah lain di Indonesia juga memiliki peraturan daerah yang mengikat dalam hal sampah dengan variatifnya konsekuensi yang ditetapkan.
Denda Sampah Bisa Jadi Solusi
Mungkin ini terdengar keras, namun di negara tetangga seperti Singapura, metode “paksaan” finansial inilah yang membentuk kedisiplinan. Pergeseran ini menunjukkan bahwa memilah sampah dan bijak akan sampah bukan sekadar soal etika literasi lingkungan, melainkan cara kita menyelamatkan dompet. Inilah wajah baru literasi finansial, sebuah kedisiplinan yang lahir dari rasa takut akan kerugian materi, sebelum nantinya kita berharap tumbuh menjadi sebuah kesadaran murni.
Menjadi guru di masa sekarang menuntut saya untuk pandai-pandai menyeimbangkan antara nasihat bijak dan kenyataan di lapangan. Saya menyadari sebuah kebenaran pahit: mengajar di era ini memerlukan cara variatif yang barangkali tak pernah terbayangkan oleh guru-guru kita terdahulu. Kita sedang mendidik generasi yang kritis terhadap logika, namun sangat peka terhadap konsekuensi nyata.
Angka denda Rp50 ribu atau Rp300 ribu bagi pembuang sampah sembarangan mungkin terkesan seperti langkah mundur dari pendidikan berbasis kesadaran nurani. Namun, barangkali inilah “gerbang masuk” yang kita perlukan. Jika rasa hormat pada alam belum bisa tumbuh lewat slogan, biarlah ia tumbuh lewat disiplin yang menyentuh ranah personal mereka.
Tugas saya sebagai guru bukan lagi sekadar memastikan sampah masuk ke dalam tong, melainkan memastikan bahwa disiplin ini tidak berhenti pada rasa takut akan denda. Literasi finansial ini hanyalah alat transisi. Target akhirnya tetaplah satu: membentuk karakter manusia yang merasa “merugi” bukan karena uangnya berkurang tetapi karena ia telah mengkhianati bumi yang memberinya kehidupan. Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang menanam kebiasaan hari ini, agar menjadi budaya di masa depan.
Penulis: Aziz Tanama, Guru SMA Thursina IIBS Malang











































