FIREFLIES Perkuat Peran Warga Wujudkan Lingkungan Tanpa Pembakaran Sampah

Reading time: 2 menit
Peluncuran FIREFLIES. Foto: Dini Jembar Wardani
Peluncuran FIREFLIES. Foto: Dini Jembar Wardani

Jakarta (Greeners) – Dietplastik Indonesia meluncurkan FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through l Inclusive Education and Solutions). Proyek ini bertujuan membangun sistem pengawasan dan pelaporan berbasis warga. Kemudian, memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya, serta mendorong transformasi norma sosial menuju praktik hidup tanpa pembakaran sampah.

Peluncuran FIREFLIES, dengan dukungan Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB), berlangsung di Jakarta pada Rabu (4/1). Perwakilan kementerian, pemerintah daerah, akademisi, serta unsur kelurahan dan RW dari wilayah percontohan di Jakarta, Depok, dan Bogor turut menghadiri peluncuran ini.

Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia Tiza Mafira mengatakan, praktik pembakaran sampah terbuka yang terjadi masyarakat berkontribusi 11% pada polusi udara di Jabodetabek. Praktik ini juga berkontribusi menyumbang super pollutants yang berdampak pada isu perubahan iklim. 

“FIREFLIES berangkat dari keyakinan bahwa solusi lingkungan yang efektif harus tumbuh dari akar permasalahannya. Kami melakukan pendekatan pada program ini dengan melihat pengukuran kualitas udara. Selain itu, juga kajian sosial budaya dan perbaikan infrastruktur pengelolaan sampah,” kata Tiza. 

Menurut dia, proyek ini dapat memperkuat kapasitas warga agar mampu mengelola sampahnya sendiri dengan cara yang tepat, partisipatif, dan berdampak langsung pada kualitas lingkungan.

Komunitas Fondasi Penting

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menilai pengurangan sampah dari sumber dan perubahan praktik di tingkat komunitas menjadi fondasi penting dalam pengelolaan sampah nasional sekaligus upaya penurunan emisi.

“Program yang melibatkan warga secara aktif seperti FIREFLIES akan memperkuat implementasi kebijakan di lapangan berdasarkan aturan yang sudah ada,” kata Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya KLH/BPLH, Nurmayanti. 

Dalam implementasinya, FIREFLIES akan berjalan melalui tiga komponen utama. Pertama, riset sosial-budaya untuk memahami praktik dan tantangan pengelolaan sampah di tingkat lokal. Kedua, program edukasi dan kampanye perubahan perilaku yang kontekstual dan berbasis komunitas. Ketiga, penguatan sistem pendukung, termasuk penyediaan fasilitas pengelolaan sampah dari sumber serta mekanisme pemantauan dan pelaporan partisipatif. 

Pada tahun pertama, proyek ini berfokus pada uji coba model di tingkat RW. Hal itu sebagai dasar pengembangan dan replikasi ke wilayah lain.

Dampak Kesehatan dan Iklim 

Dari sisi kesehatan, praktik pembakaran sampah berdampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia Budi Haryanto menyatakan, banyak dampak buruk dari paparan polusi udara. Di antaranya menimbulkan gejala jangka pendek seperti batuk, pilek, atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

“Partikel dalam polusi ini memberikan ‘deposit’ yang menyebabkan kerusakan di jantung, paru-paru, kulit, darah, sampai dengan tulang. Polusi udara, jika terus kita biarkan akan menjadi silent killer. Pengelolaan sampah harus kita tangani secara serius agar dapat mengurangi emisi, yang berdampak pada menurunnya potensi polusi udara,” ujar Budi.

Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah yang serius merupakan bagian penting dari upaya menurunkan emisi, sekaligus melindungi kesehatan masyarakat. 

Sementara itu, dari perspektif iklim, pengurangan sampah dan perbaikan sistem pengelolaannya juga berperan penting dalam menekan emisi berumur pendek yang berdampak signifikan terhadap pemanasan global.

Tenaga Ahli Kualitas Udara FIREFLIES, Didin Agustian Permadi mengungkapkan bahwa super pollutants, seperti black carbon, bisa terjadi dari pembakaran sampah yang dilakukan di pemukiman. Dari super pollutant ini dapat menyebabkan meningkatnya PM 2,5, polutan yang ada di udara, yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Jika super pollutant bisa diturunkan dari sumber, salah satunya pembakaran sampah dari pemukiman, dengan intervensi dan pengukuran yang tepat, emisi super pollutant di tahun 2030 bisa menurun dan memberikan kualitas udara yang lebih sehat,” kata Didin. 

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

Top