Listrik Dari Limbah Kelapa Sawit Diperkirakan Booming

Reading time: 1 menit

Jakarta (Greeners) – Pengelolaan sampah kelapa sawit menjadi sumber energi listrik terus digalakkan pemerintah. Baik sampah padat atau biomassa, maupun sampah cair yang menghasilkan biogas dari kelapa sawit, keduanya mampu menghasilkan listrik yang cukup besar.

“Tahun ini rencananya menargetkan listrik 5,5 megawatt. Itu yang tercatat. Tapi dengan adanya Peraturan Menteri nomor 4 tahun 2012 dan kebijakan lainnya, ini akan booming karena pabrik kelapa sawit saja ada 800 pabrik. Masing-masing pabrik membuat satu saja pembangkit listrik, sudah 800 megawatt yang dihasilkan,” ujar Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dari Kementrian ESDM.

Biomassa kelapa sawit dapat dihasilkan dari cangkang, serat buah, tandan kosong, batang, pelepah dan daun sawit. Sedangkan biogas dihasilkan dari limbah cair minyak sawit. Menurut Rida, antara kedua jenis limbah ini, biogas lebih mudah dan cepat diolah menjadi listrik.

“Ada kolam limbah dan cairan limbah. Tinggal ditutup kemudian gasnya dialirkan (untuk diubah menjadi listrik). Gampang,” katanya usai menghadiri peluncuran buku Re Guidelines On Biomass and Biogas Power Project Development in Indonesia di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (05/06) kemarin.

Berdasarkan data Kementrian Pertanian per Desember 2012, total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebesar 9,57 juta hektar dengan pertumbuhan 6,45 persen pertahun.

Rida menyarankan pada pengelola kebun kelapa sawit agar membuat Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) biomassa dan biogas dari limbah sawit seperti yang sudah berjalan di Belitung Timur. PLT biomassa dan biogas di Belitung Timur merupakan PLT biomassa dan biogas independen pertama di Indonesia yang memanfaatkan limbah kelapa sawit dengan target produksi listrik sebesar 8,5 juta kwh pertahun.

“Disarankan membangun seperti yang di Belitung Timur. Disitu malah punya kebun kelapa sawit. Selain menghasilkan minyak sawit, dia punya pembangkit listrik juga. Jadi, kalau ada pengelolaan seperti ini, akhirnya dari ujung ke ujung enggak ada sampah lagi,” ujarnya.

(G08)

Top