Riset: Kualitas Air Sungai di Trenggalek Masih Layak Minum

Reading time: 3 menit
Kualitas air di sejumlah sungai Trenggalek, Jawa Timur terbukti masih bersih dan alami. Foto: Ecoton
Kualitas air di sejumlah sungai Trenggalek, Jawa Timur terbukti masih bersih dan alami. Foto: Ecoton

Jakarta (Greeners) – Kualitas air di sejumlah sungai Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terbukti masih bersih dan alami. Bahkan, air sungai tersebut masih layak menjadi bahan baku air minum. Hal itu terbukti dari hasil penelitian Tim Sambang Kali yang mencakup kolaborasi Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Aliansi Rakyat Trenggalek (ART).

Riset kesehatan sungai tersebut terlaksana di enam Daerah Aliran Sungai (DAS) Trenggalek. Di antaranya Kecamatan Kampak, Watulimo, Munjungan, dan Dongko. Keempat sungai tersebut telah diuji fisika, kimia, dan biologi.

Berdasarkan penelitan, sungai-sungai ini menyediakan habitat alami dengan kadar oksigen tinggi dan bernutrisi bagi biota air. Namun, perubahan fungsi DAS dan pencemaran domestik akan berpotensi mengubah kualitas sungai air. Oleh karena itu, perlu upaya monitoring untuk mempertahankan kesehatan sungai agar tetap alami. Sehingga, hal itu bisa mendukung kehidupan masyarakat Trenggalek.

BACA JUGA: Telapak Jatim dan Ecoton Tolak Penebangan Hutan di Jombang

“DAS di empat kecamatan ini memiliki fungsi penting bagi masyarakat yang tinggal di Kecamatan Dongko, Munjungan, Watulimo, dan Kampak. DAS itu bermanfaat untuk industri, irigasi persawahan, dan bahan baku air minum. Sehingga, kelestariannya harus terjaga,” ungkap Peneliti Ecoton, Amirudin Muttaqin melalui keterangan tertulis, Minggu (17/12).

Amirudin menjelaskan, riset kesehatan sungai adalah bagian dan upaya pelestarian sungai dari ancaman kerusakan. Fakta lainnya, kecamatan ini juga masuk dalam kawasan konsesi tambang emas. Sehingga, informasi tentang kondisi terkini sungai-sungai yang masuk dalam kawasan tambang sangat penting. Hal itu sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan terkait pemanfaatan kawasan.

Kualitas air di sejumlah sungai Kabupaten Trenggelek, Jawa Timur terbukti masih bersih dan alami. Foto: Ecoton

Kualitas air di sungai Trenggalek, Jawa Timur terbukti masih bersih dan alami. Foto: Ecoton

Tim Riset Melakukan Pengujian Air Sungai

Kegiatan riset kesehatan sungai oleh Ecoton dan ATR berlangsung pada Selasa 12 Desember hingga Minggu 17 Desember 2023. Keduanya telah melakukan uji fisika, kimia, dan keanegaragaman biota air.

“Kami menguji 16 Parameter kualitas air mengacu pada baku mutu air dalam Peraturan Pemerintah Nomer 22 tahun 2021. Dengan mengetahui 16 parameter ini, kita akan mengetahui tingkat kesehatan sungai-sungai yang ada di Trenggalek,” tambah Amirudin.

BACA JUGA: Udara di 4 Wilayah Kota Surabaya Terkontaminasi Mikroplastik

Ia menambahkan, 16 Parameter ini meliputi debit air, pH, suhu, oksigen terlarut dalam air, total dissolved solid atau ion-ion terlarut dalam air, konduktivitas, kesadahan, kekeruhan, kadar khlorin, amoniak, nitrat, nitrit, khromium, nikel, dan besi.

Untuk melengkapi uji kesehatan sungai, Tim Sambang Kali juga menginvetarisasi jenis-jenis makroinvertebrata atau biota air tidak bertulang belakang indikator kesehatan air atau biotilik. Hasil riset kualitas air ini bisa menjadi baseline data dalam pengambilan kebijakan peruntukan lahan dan pemanfaatan kawasan DAS di empat kecematan di Trenggalek.

Sungai Trenggalek Masih Alami

Secara umum, hasil riset menunjukkan sungai di empat kecamatan sebagian besar dalam kondisi belum tercemar atau dalam kondisi sehat dan alami. Amir menjelaskan, ada beberapa parameter yang melebihi baku mutu seperti phospat dan ammonia. Menurutnya, hal ini wajar karena sungai-sungai berada di kawasan karst dan kapur yang mengancung kadar phospat tinggi.

Sementara itu, penyebab tingginya ammonia adalah masuknya polusi limbah cair peternakan (kotoran kambing/sapi) dan tingginya proses dekomposisi seresah daun. Hal itu akibat masih tingginya tutupan hutan pada kawasan sungai yang mereka uji.

“Peningkatan pencemaran ammonia di Sungai Bawok terjadi dari hulu ke hilir. Pada lokasi hulu, kadar amonia sebesar 1,6 mg/L. Pada lokasi tengah, meningkat menjadi 3,6 mg/L , dan makin meningkat sebesar  4,4 mg/L di lokasi hilir. Peningkatan ini akibat masukan limbah cair dari aktivitas peternakan dan limbah cair domestik,” tambah Amir.

Ia melanjutkan, peningkatan kadar ammonia di air sungai bisa menjadi alarm bahwa sedang terjadi pencemaran untuk diambil tindakan pemulihan. Selain itu, tim peneliti juga melakukan inventarisasi biotilik.

Tim Sambang Kali melakukan inventarisasi biotilik pada delapan sungai (Song, Bawok, Nglancur, Ngringin, Konang, Senden, Pongok dan Pancuran). Pada delapan sungai yang mereka teliti, umumnya populasi biotilik sensitif lebih dominan (di atas 90%)  dibanding biotilik yang toleran. Temuan ini menunjukkan kondisi sungai masih alami dan mampu menyediakan nutrisi berupa serasah daun.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Top