Pohon Angsana Penyerap Polutan Udara

Reading time: 2 menit
Pohon Angsana
Pohon Angsana. Foto: shutterstock.com

Kegiatan penanaman pohon sedang gencar dilakukan, meskipun penebangan liar juga masih ditemukan di Indonesia. Peran tanaman untuk penghijauan juga dapat dijadikan bioindikator adanya pencemar udara seperti timbal yang berasal dari emisi kendaraan bermotor dan industri. Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup karena bersifat karsinogenik

Di alam, pohon berfungsi sebagai penyerap polutan dari gas buang kendaraan. Pohon yang tergolong sebagai tanaman pelindung tersebut antara lain Angsana, Mahoni, Glodogan, dan Tanjung (Dahlan, 1989). Angsana (Pterocarpus indicus) digunakan sebagai tumbuhan protektor jalan sebab mampu mengakumulasi timbal di daunnya.

Baca juga: Anggrek Si Cantik Alami Penyerap Polutan dan Penat

Angsana atau sering dikenal dengan nama sonokembang adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae (Leguminosae atau polong-polongan). Di beberapa negara, pohon Angsana memiliki beragam nama. Di Filipina, misalnya, diketahui bernama Apalit, Pradu di Thailand, dan Chan Deng di Laos. Sedangkan di Indonesia, penamaannya antara lain sonokembang, kayu sono, sono kapur (Jawa), kayu merah (Nusa Tenggara), nara lala dan lalan ligna (Maluku), naakir, candana (Sulawesi).

Pterocarpus indicus memiliki tinggi 10 sampai 40 meter dengan ranting berbulu. Kulit batang pohonnya memiliki getah berwarna merah yang mudah kering. Terdapat dua jenis daun, yaitu daun penumpu dan anak daun. Bunga Angsana sangat banyak dan beraroma yang harum. Mahkota bunga berwarna kuning oranye dan panjangnya 7 hingga 11 sentimeter. Angsana memiliki bakal buah berambut lebat dan bertangkai pendek. Setiap buah memiliki bakal biji sebanyak 2 sampai 6 buah.

Pohon Angsana

Pohon Angsana. Foto: shutterstock.com

Keunggulan pohon Angsana terletak pada kayunya. Menurut kajian ilmiah, kayu tersebut dikelompokkan dalam perdagangan narra atau rosewood karena keras dan cukup berat. Dengan karakter kayu yang kuat, awet, dan tahan terhadap cuaca, kayu ini dapat digunakan sebagai konstruksi ringan maupun berat. Sementara dalam bentuk balok, kaso, papan, dan panil kayu berfungsi untuk rangka bangunan, penutup dinding, tiang, pilar, jembatan, bantalan rel kereta api, kayu-kayu penyangga, serta konstruksi perairan bahari.

Warna dan motif serat yang kemerah-merahan, menjadikan kayu Angsana sebagai pilihan untuk pembuatan mebel, kabinet berkelas tinggi, alat-alat musik, lantai parket, panil kayu dekoratif, gagang peralatan. Pohon Angsana juga dimanfaatkan dengan cara dikupas untuk venir dekoratif sebagai pelapis kayu dan meja berharga mahal.

Taksonomi Pohon Angsana

Penulis: Sarah R. Megumi

Top