Peneliti BRIN Ungkap 65,8 Persen Garis Pantai Pantura Jawa Alami Erosi

Reading time: 2 menit
Peneliti BRIN ungkap 65,8 persen garis pantura Jawa alami erosi. Foto: BRIN
Peneliti BRIN ungkap 65,8 persen garis pantura Jawa alami erosi. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa yang membentang dari Kabupaten Serang hingga Kabupaten Situbondo, mengalami erosi pada 65,8 persen area garis pantainya. Tingginya tingkat abrasi pesisir ini mengakibatkan degradasi lingkungan yang berdampak langsung pada hilangnya ruang hidup warga dan terganggunya infrastruktur ekonomi di wilayah tersebut.

Hal ini terungkap dari riset terbaru oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin. Ia menyoroti pembangunan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi di Pantura Jawa berjalan sangat masif akibat tingginya tekanan demografi. Hal ini berujung pada ekstraksi sumber daya laut dan pesisir yang tidak terkontrol.

“Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi, endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan,” paparnya di Jakarta, Kamis (30/4).

Kerentanan ini juga kian parah oleh kondisi morfologis di kawasan tersebut. Secara morfologi, kata dia, Pantai Utara Jawa didominasi oleh pantai dataran rendah dengan elevasi ketinggian kurang dari 10 meter.

“Dan itu menempati 83 persen dari panjang seluruh Pantai Utara Jawa,” tambahnya.

Berdasarkan analisis perubahan garis pantai menggunakan Citra Satelit Sentinel selama periode 2000 hingga 2024 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Perubahan garis pantai didominasi oleh laju erosi sebesar 65,8 persen. Sementara, tingkat akresi (penambahan daratan) hanya berada di angka 34,2 persen.

Menurutnya, akar permasalahan pesisir Pantura Jawa bersifat sistemik. Faktor pemicunya mencakup alih fungsi lahan masif, termasuk lebih dari 1.500 kilometer (km) persegi area terbangun dan 5.449 km persegi persawahan, serta pembabatan mangrove dan struktur penahan ombak yang dibangun secara sporadis dan tidak terintegrasi.

Terekam di Berbagai Titik

Sementara itu, dari hasil data pemantauan, Tubagus menyoroti terjadinya erosi yang masif ini justru terjadi di lingkungan delta yang secara alamiah merupakan area sedimentasi. Menurutnya, kodisi ini sangat berkaitan erat dengan aktivitas modifikasi di daerah hulu, seperti kanalisasi, pembelokan arah sungai, dan pembangunan bendungan. Akibatnya dapat memutus suplai sedimen ke wilayah muara pesisir.

Dampak dari modifikasi antropogenik ini terekam jelas di berbagai titik. Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah lenyap tererosi akibat pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru.

Selanjutnya, di kawasan Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut telah merangsek masuk hingga 4 km ke daratan. Peristiwa ini menenggelamkan infrastruktur publik secara permanen serta merendam lebih dari 1.000 hektare tambak warga.

Selain Bekasi, hal serupa juga tercatat di Legonkulon, Subang, di mana intrusi air laut sejauh 2 km telah merendam 700 hektare tambak. Abrasi juga mengerosi jalan desa sepanjang 500 meter hingga 1 km di Krangkeng, Indramayu.

Khusus di wilayah Demak, Tubagus memberikan catatan historis bahwa wilayah tersebut pada abad 15-16 merupakan perairan Selat Muria yang kemudian tertutup sedimentasi menjadi daratan. Kini, air laut kembali masuk sejauh 5 hingga 6 km ke daratan Demak, menelan sawah dan kawasan permukiman.

Hal ini kian parah dengan kenaikan muka air laut (Sea Level Rise/SLR) dan penurunan muka tanah (Land Subsidence). Tubagus menekankan bahwa Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Masalah ini juga bukan menjadi isu nasional, mengingat Pantura Jawa sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Menghadapi kompleksitas krisis tersebut, Tubagus menekankan pentingnya transisi menuju pendekatan lintas sektoral dan kewilayahan. Ia menegaskan tidak ada solusi tunggal yang bisa diterapkan di seluruh kawasan Pantura. Sebab, setiap segmen pantai memiliki karakteristik dan morfologi yang berbeda. Intervensi fisik di satu area belum tentu relevan untuk area lainnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top