Dieng; Menapaki Negeri Para Dewa Part I

Reading time: 2 menit

Akhir pekan merupakan saat yang dinanti-nanti untuk melepas penat setelah sepekan penuh menjalani rutinitas yang cukup menjemukan. Kali ini, Saya berencana untuk menjelajahi Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Bayangan akan menghirup udara yang bersih dan sejuk serta melihat pemandangan alam yang luar biasa indah menjadi motivasi Saya melakukan perjalanan ini.

Berada pada ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng menjadi desa tertinggi di Pulau Jawa. Saking tingginya, desa ini kerap kali nampak seperti berada di atas awan. Tak heran jika Dieng mendapat sebutan sebagai Negeri Para Dewa. Kata Dieng sendiri berasal dari kata ‘Di Hyang’ dalam bahasa Sunda, yang dapat diartikan ‘seperti di khayangan’.

Hari Jum’at jam 5 sore, Saya sudah berada di Terminal Cicaheum, Bandung, bersama beberapa orang teman. Untuk mencapai wilayah Dieng, kami memilih masuk melalui Kabupaten Wonosobo meski secara admistratif Dieng juga termasuk dalam Kabupaten Banjarnegara.

Sore itu, bus Sinar Jaya jurusan Bandung-Wonosobo yang kami tumpangi beranjak meninggalkan terminal tepat pukul 18.00 WIB. Lama perjalanan yang memakan waktu hingga 10 jam dengan bus menjadi pertimbangan kami melakukan perjalanan di malam hari. Kami jadi punya waktu untuk beristirahat sehingga kami memiliki cukup tenaga esok harinya.

Matahari masih belum tampak saat kami tiba di Wonosobo, sedangkan jam operasional bus tujuan Dieng baru mulai beroperasi pukul 6 pagi. Mau tidak mau kami harus menunggu selama dua jam dalam dinginnya udara pagi. Beruntung, kami dapat membeli gorengan hangat dan kopi panas untuk menghangatkan tubuh.

Pagi pun tiba. Kami langsung mengambil bus pertama menuju Dieng. Sesampainya di Dieng, mencari penginapan disekitar pertigaan Dieng menjadi kesibukan kami selanjutnya. Penginapan di kawasan ini cukup banyak dan harga sewa per kamarnya juga cukup terjangkau.

Awalnya kami ingin menginap di penginapan Bu Jono yang cukup terkenal, namun tempat itu sudah penuh dengan turis bule. Setelah berkeliling mencari, akhirnya kami menginap di Dahlia Homestay yang berada di dekat mini market. Dengan fasilitas kamar mandi di dalam dan air hangat, homestay ini juga menyediakan sarapan dan kopi serta teh setiap waktu. Senangnya!

Dieng tidak hanya mempunyai pemandangan yang luar biasa, ia juga menyimpan mitos yang tak lekang oleh jaman. Seperti apa mitosnya? (Aghnia Fasza)

dieng-lokasi

Top

You cannot copy content of this page