Kelelahan Saat Berolahraga Bukan Penyebab Serangan Jantung

Reading time: 2 menit
kelelahan berolahraga
Olahraga berat membuat jantung berpacu lebih cepat daripada sebelumnya. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Serangan jantung kerap dianggap terjadi saat melakukan aktivitas olahraga. Penyebabnya diduga karena kelelahan hingga berakibat pada kematian. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah, Vito Anggarino Damay mengatakan serangan jantung bukan diakibatkan karena kelelahan saat berolahraga. Ia menuturkan penyebabnya dipengaruhi oleh riwayat penyakit seperti darah tinggi, kolesterol, dan diabetes.

“Masyarakat yang memiliki riwayat penyakit seperti ini dapat berisiko tinggi terkena serangan jantung. Karena terdapat penyempitan pembuluh darah koroner yang menyuplai oksigen maupun nutrisi kepada otot jantung. Serangan jantung dapat menyerang kapanpun dan di manapun, bukan karena kecapekan karena melakukan olahraga,” kata Vito saat ditemui di Jakarta Selatan, kemarin.

Aktivitas berat seperti olahraga membuat jantung berpacu lebih cepat daripada sebelumnya sehingga jantung membutuhkan lebih banyak oksigen. Ketika hal itu terjadi pada penderita yang mengalami penyempitan pembuluh, oksigen tidak terkirim secara optimal dan akhirnya mengalami iskemia.

Baca juga: Atasi Kelelahan Dengan Konsumsi Makanan Ini!

“Orang yang terkena iskemia sebenarnya kekurangan pasokan nutrisi dan oksigen. Kalau serangan jantung lebih berat, karena pembuluh darah menguncup bahkan tidak 100 persen. Jadi, bisa berlaku pada orang yang sedang melakukan apa saja, tidak perlu menunggu orang kecapekan,” ucap Vito.

serangan jantung

Sebesar 73 persen kematian di Indonesia diakibatkan oleh penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker (WHO, 2016). Foto: shutterstock.com

Ia menjelaskan ciri-ciri utama penderita serangan jantung adalah sakit dada hebat seperti ditambah benda berat, keringat dingin, dan terdapat rasa sakit di bagian ulu hati. Tetapi yang paling khas ialah rasa sakit di bagian dada.

Upaya pencegahan, kata Vito, tidak hanya dilakukan dengan pola hidup sehat saja. Masyarakat juga perlu melakukan pemeriksaan medis (medical check up) untuk memahami kondisi tubuh dan riwayat penyakit terdahulu.

Baca juga: Penyakit Jantung Koroner, Pembunuh Nomor Satu di Indonesia

“Jangan menunggu gejala, kita merasa hidup sehat, tetapi ada dosa terdahulu yang kita tidak tahu. Misalnya, dahulu merokok sekarang tidak,  dan juga riwayat penyakit bawaan. Idealnya pada usia 20 tahun sudah melakukan medical check up, jangka waktu untuk check up kembali 5 tahun sekali,” ucapnya.

Vito menyarankan, untuk meminimalisir serangan jantung tiap orang perlu mengubah pola pikir untuk hidup lebih sehat. Di antaranya mengurangi makanan seperti gorengan, konsumsi gula, maupun minuman kemasan. Terakhir, pemeriksaan kesehatan untuk mengenali kondisi tubuh sehingga dapat diketahui indikasi penyakit dan faktor lain yang dibawa saat lahir.

“Sebenarnya tidak apa makan gorengan, tapi lebih baik dikurangi, lalu tidak merokok, dan berolahraga minimal satu jam sehari atau lima kali seminggu,” ucap Vito.

Penulis : Ridho Pambudi

Top
You cannot copy content of this page