Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengembangkan ampas tebu dan sabut kelapa menjadi lembaran kertas fungsional. Inovasi ini menghasilkan kertas ramah lingkungan bernama biokertas.
Biokertas berbeda dari kertas daur ulang pada umumnya, terutama dari segi bahan baku, tekstur, serta nilai ekonomisnya. “Pembuatan biokertas ini berbahan dasar dari penggabungan dua limbah organik, yaitu ampas tebu dan sabut kelapa yang masih banyak tidak terpakai,” ujar anggota kepala tim, Muhammad Labib Widianto melansir Berita ITB, Rabu (7/1).
Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahap. Pertama, para mahasiswa tersebut mengeringkan ampas tebu dan sabut kelapa di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, lalu memotongnya kecil-kecil. Bahan tersebut kemudian mereka rebus selama 30 menit. Selanjutnya, mereka menambahkan larutan NaOH 3% serta Alkohol 70% sebelum mereka rebus kembali hingga mendidih.
Setelah tiris, bahan dihaluskan hingga menjadi bubur kertas (pulp). Kemudian, pulp ini dicampur dengan larutan pengental dari tapioka dan kaolin sebelum dicetak menjadi lembaran kertas.
Hasilnya, biokertas ini memiliki keunggulan dapat digunakan sebagai bahan tulis normal menggunakan pulpen. Selain itu, produk ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai kemasan makanan ramah lingkungan.
Biokertas Perlu Pengujian Lebih Lanjut
Tak hanya itu, inovasi ini juga tim pamerkan dalam pameran karya bertajuk “ALICE: Abyanara’s Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment”. Acara tersebut merupakan inisiasi mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa limbah dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai tinggi.
Labib mengakui bahwa ada beberapa tantangan dalam proses pembuatan biokertas ini. Terutama pada proses pemasakan yang volume airnya harus presisi dan proses pengeringan yang masih bergantung pada cuaca, karena menggunakan sinar matahari.
Meski memiliki nilai jual yang potensial dengan target pasar industri kertas, proyek biokertas ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut. “Belum kami lakukan uji tarik dan tahan terhadap biokertas. Untuk kemasan pangan juga harus kami kembangkan lebih lanjut agar bahannya aman,” tambah Labib.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































