sampah laut - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sampah-laut/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 10 Feb 2026 07:59:06 +0000 id hourly 1 Menteri LH Pimpin Aksi Bersih Sampah di Pantai Bali, 10 Ton Sampah Terkumpul https://www.greeners.co/aksi/menteri-lh-pimpin-aksi-bersih-sampah-di-pantai-bali-10-ton-sampah-terkumpul/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menteri-lh-pimpin-aksi-bersih-sampah-di-pantai-bali-10-ton-sampah-terkumpul https://www.greeners.co/aksi/menteri-lh-pimpin-aksi-bersih-sampah-di-pantai-bali-10-ton-sampah-terkumpul/#respond Tue, 10 Feb 2026 07:59:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48111 Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup  Hanif Faisol Nurofiq memimpin langsung aksi bersih sampah laut di Pantai Kelan, Pantai Kedonganan, dan Pantai Jimbaran, Bali pada (6/2). […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup  Hanif Faisol Nurofiq memimpin langsung aksi bersih sampah laut di Pantai Kelan, Pantai Kedonganan, dan Pantai Jimbaran, Bali pada (6/2). Dari pelaksanaan aksi bersih ini, total sampah yang terkumpul mencapai lebih dari 10 ton.

Selain itu, kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut langsung arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Gerakan tersetbut bertujuan memperkuat penanganan sampah laut secara terpadu dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Aksi yang berpusat di wilayah pesisir Kabupaten Badung tersebut melibatkan lebih dari 8.000 peserta. Para peserta meliputi pemerintah pusat dan daerah, TNI/Polri, dunia usaha, pelaku pariwisata, komunitas lingkungan, hingga pelajar dan mahasiswa. Pembersihan berlangsung secara serentak sepanjang lebih dari 3,9 kilometer garis pantai. Dalam kegiatan juga terdapat pembagian zona kerja untuk memastikan efektivitas dan keterkendalian pengumpulan sampah.

Hanif menegaskan bahwa persoalan sampah laut merupakan tantangan serius yang kerap meningkat pada periode musim angin barat, ketika kiriman sampah dari perairan sekitar terbawa ke pesisir Bali.

“Sampah yang kita tangani saat ini merupakan sampah spesifik yang tidak berasal dari rumah tangga dan memerlukan penanganan khusus. Sampah ini muncul akibat kondisi tertentu, termasuk dampak banjir, sehingga harus dikelola secara lebih tepat dan terkontrol,” tegas Hanif.

Secara nasional, kata dia, persoalan sampah telah memasuki fase krisis. Data menunjukkan sekitar 143 ribu ton sampah per hari, hanya sekitar 24 persen yang terkelola dengan baik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesehatan lingkungan, ekonomi pesisir, serta citra pariwisata Indonesia di tingkat global.

Lebih lanjut, Hanif menekankan bahwa sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, kewenangan pengelolaan sampah berada pada kepala daerah, dengan dukungan pemerintah pusat, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat.

Jaga Daya Saing Pariwisata

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan bahwa kebersihan lingkungan pesisir merupakan faktor kunci dalam menjaga daya saing pariwisata nasional.

“Kami mengapresiasi KLH/BPLH, Pemerintah Kabupaten Badung dan seluruh pihak yang terlibat. Namun, upaya menjaga kebersihan tidak boleh berhenti pada satu hari kegiatan saja. Jika dimulai dari destinasi wisata sebagai kebiasaan harian, maka budaya bersih akan tumbuh dan mengakar,” kata Widiyanti.

Sementara itu, Hanif juga telah memimpin kegiatan aksi pungut sampah di beberapa titik. Salah satunya di Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini telah menggerakkan lebih dari 4.000 personel gabungan.

Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu daeah yang menetapkan darurat sampah. Data menunjukkan timbulan sampah di Kota Tangerang Selatan saat ini mencapai 1.029 ton per hari, dengan 428 ton di antaranya atau sekitar 41,54 persen masih belum terkelola dengan baik.

Hanif menekankan bahwa kondisi darurat sampah ini tidak dapat dibiarkan dan menuntut sinergi tanpa sekat antara pemerintah pusat, daerah, hingga sektor swasta demi mencapai target penyelesaian sampah 100 persen pada tahun 2029.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/menteri-lh-pimpin-aksi-bersih-sampah-di-pantai-bali-10-ton-sampah-terkumpul/feed/ 0
Aktivis Indonesia Dorong Solusi Guna Ulang di UN Ocean Conference 2025 https://www.greeners.co/aksi/aktivis-indonesia-dorong-solusi-guna-ulang-di-un-ocean-conference-2025/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aktivis-indonesia-dorong-solusi-guna-ulang-di-un-ocean-conference-2025 https://www.greeners.co/aksi/aktivis-indonesia-dorong-solusi-guna-ulang-di-un-ocean-conference-2025/#respond Thu, 19 Jun 2025 10:37:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46817 Jakarta (Greeners) – Deputi Direktur Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara ikut bergabung dalam kegiatan Konferensi Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 (UNOC3) di Nice, Prancis. Di berbagai diskusi panel UN Ocean Conference 2025 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Deputi Direktur Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara ikut bergabung dalam kegiatan Konferensi Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 (UNOC3) di Nice, Prancis. Di berbagai diskusi panel UN Ocean Conference 2025 tersebut, Rahyang mendorong solusi guna ulang untuk mencegah pencemaran plastik di laut.

Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade dalam kampanye lingkungan berbasis komunitas dan reformasi kebijakan tingkat kota, Rahyang mendesak para negosiator untuk memprioritaskan langkah-langkah ambisius menjelang putaran akhir perundingan Global Plastic Treaty (INC-5.2) yang akan berlangsung Agustus mendatang di Jenewa.

“Untuk menghentikan plastik mencapai laut, kita harus menghentikan sifat sekali pakai sejak awal. Mengintegrasikan sistem guna ulang dalam skema tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility), dengan dukungan standar global seperti yang PR3 kembangkan, adalah cara untuk beralih dari penanganan limbah ke pencegahan nyata,” ujar Rahyang di Prancis, Kamis (12/6).

Menurutnya, guna ulang bukan sekadar konsep. Praktik ini adalah solusi nyata yang komunitas gerakkan dan telah terbukti melindungi laut. Tanpa kerangka kerja global seperti Global Plastic Treaty yang mengakui dan mendanai upaya ini, ada risiko pengabaian dampak yang sesungguhnya. Kini saatnya memperluas upaya yang berhasil dari akar rumput.

“Untuk mengatasi krisis plastik, kita harus bisa melakukan upaya lebih dari sekedar daur ulang dan pelarangan. Sistem guna ulang adalah kunci untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Dengan menggantikan produk sekali pakai, guna ulang tidak hanya mendorong sirkularitas, tetapi juga mencegah kebocoran plastik ke lautan,” tambah Rahyang.

Kemajuan Guna Ulang di Indonesia

Dalam rangkaian acara sampingan UNOC3, Rahyang turut berbagi kemajuan Indonesia dalam mengembangkan solusi guna ulang. Ini termasuk reformasi kebijakan dan percontohan bisnis guna ulang di Jakarta.

Ia juga menekankan pentingnya peran pekerja informal sektor persampahan, keterlibatan generasi muda, serta perumusan kebijakan berbasis sains, sebagai pilar utama implementasi traktat atau perjanjian global yang adil dan inklusif.

“Indonesia telah membuktikan bahwa pelarangan plastik sekali pakai di tingkat kota, transformasi bisnis, dan partisipasi warga dapat mengubah sistem. Global Plastic Treaty harus mampu memperluas upaya-upaya ini secara global. Tanpa regulasi hulu dan pendanaan yang memadai, kita berisiko mengunci polusi selama beberapa dekade ke depan,” tegas Rahyang.

Meski demikian, Rahyang menyayangkan atas belum bergabungnya Indonesia dalam daftar negara pendukung deklarasi tingkat tinggi “Nice Wake-Up Call”.

Deklarasi tersebut mendapat dukungan lebih dari 95 negara dan mendorong ketentuan traktat yang kuat. Mulai dari pembatasan produksi plastik murni, kewajiban desain ulang produk untuk bisa guna ulang dan tahan lama, serta pembentukan sistem EPR global dengan skema biaya berdasarkan dampak lingkungan.

“Indonesia telah menunjukkan kemajuan nyata di tingkat lokal. Namun, tanpa kemauan politik di tingkat nasional untuk selaras dengan inisiatif global yang ambisius seperti Nice Wake-Up Call, hal ini berisiko mengirimkan pesan yang membingungkan mengenai sikap yang diambil sebagai negara. Kepemimpinan regional kita harus disertai dengan tanggung jawab global,” ujar Rahyang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/aktivis-indonesia-dorong-solusi-guna-ulang-di-un-ocean-conference-2025/feed/ 0
Sampah Kiriman Jakarta Membanjiri Pulau Untung Jawa https://www.greeners.co/berita/sampah-kiriman-jakarta-membanjiri-pulau-untung-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-kiriman-jakarta-membanjiri-pulau-untung-jawa https://www.greeners.co/berita/sampah-kiriman-jakarta-membanjiri-pulau-untung-jawa/#respond Thu, 27 Feb 2025 05:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46018 Jakarta (Greeners) – Pulau Untung Jawa, yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, merupakan salah satu pulau yang menjadi titik muara sampah kiriman dari sejumlah sungai di wilayah Jakarta. Sampah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pulau Untung Jawa, yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, merupakan salah satu pulau yang menjadi titik muara sampah kiriman dari sejumlah sungai di wilayah Jakarta. Sampah ini datang secara tidak menentu. Jumlahnya yang sangat besar menjadi tantangan bagi petugas kebersihan untuk mengangkutnya.

Penanggung Jawab Sampah Pulau Untung Jawa, Syaripudin mengatakan bahwa sampah yang datang dari pesisir dan perairan di sekitar Pulau Untung Jawa sangat dipengaruhi oleh cuaca. Volume sampah juga sangat bervariasi, terutama pada musim Barat dan Timur.

“Pada musim kedua, sampah kiriman dari laut sangat banyak. Pernah dalam satu hari itu mencapai 10 ton. Semua petugas kebersihan di Untung Jawa turun tangan membersihkan sampah kiriman ini. Biasanya, sampah kiriman ini datang pada bulan Maret hingga Mei, meskipun kondisi cuaca kini tidak bisa diprediksi dengan tepat,” ujar Syaripudin di Pulau Untung Jawa, Sabtu (22/2).

BACA JUGA: Warga Depok Segel Tungku Bakar Sampah Milik Pemerintah

Menurut Syaripudin, sampah kiriman ini menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah. Sebab, sampah kiriman bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan. Terutama sampah dari Sungai Ciliwung dan Tanjung Burung, Tangerang, yang sering mengirimkan sampah besar seperti pohon dan kasur.

Dalam tiga bulan terakhir, sampah di pesisir Pulau Untung Jawa tercatat sekitar 85 kilogram (kg) per hari. Sementara itu, sampah yang berasal dari warga setempat lebih banyak, mencapai antara 100 hingga 500 kg per hari.

Sampah kiriman Jakarta membanjiri Pulau Untung Jawa. Foto: Dini Jembar Wardani

Sampah kiriman Jakarta membanjiri Pulau Untung Jawa. Foto: Dini Jembar Wardani

Insinerator Berhenti Beroperasi

Sementara itu, untuk menampung sampah yang sudah terangkut, Pulau Untung Jawa kini memiliki tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Petugas akan memilah sampah-sampah tersebut sesuai kategorinya.

Sampah residu, seperti pampers, pembalut, dan styrofoam, akan petugas kelola lebih lanjut di Bantar Gebang. Sementara, plastik yang masih bernilai ekonomis mereka jual ke pengepul, dan sampah organik mereka cacah untuk jadi pakan maggot.

Sebagai upaya mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantar Gebang, Pulau Untung Jawa memiliki insinerator sampah sejak tahun 2019. Namun, dalam dua tahun terakhir, insinerator tersebut berhenti akibat keluhan polusi dari warga dan kinerja alat yang tidak maksimal.

BACA JUGA: Walhi Desak Setop Insinerator, Polusi dan Bisa Keluarkan Racun

Warga Pulau Untung Jawa, Robiansyah, merupakan salah satu yang merasa terganggu ketika insinerator sampah beroperasi. Sebab, asap pembakaran kerap terbawa angin ke rumahnya.

“Debu pembakaran tidak terlalu banyak, hanya asap saja. Bau dari pembakaran juga tidak terlalu menyengat. Hal ini baru terasa sejak 2018, ketika pertama kali tinggal di sini. Ketika angin bertiup dari barat daya, bau dari pembakaran bisa tercium hingga ke daerah saya,” ujar Robiansyah.

Ia juga menyebutkan bahwa saat ini pengelolaan sampah di Pulau Untung Jawa sudah cukup baik. Petugas kebersihan rutin mengambil sampah organik dan plastik dari rumah-rumah warga. Selain itu, warga juga telah mendapatkan pemahaman tentang pentingnya memilah sampah.

Bagi Robiansyah, pemilahan sampah secara mandiri tidak memberatkan. Hal ini justru membantu petugas dalam mengelola sampah dengan lebih efisien. Saat ini, di Pulau Untung Jawa juga tidak ada retribusi sampah sehingga dapat mengurangi beban pembiayaan bagi warga terkait pengelolaan sampah.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-kiriman-jakarta-membanjiri-pulau-untung-jawa/feed/ 0
Hamparan Sampah Plastik Penuhi Pantai Kedonganan Bali https://www.greeners.co/berita/hamparan-sampah-plastik-penuhi-pantai-kedonganan-bali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hamparan-sampah-plastik-penuhi-pantai-kedonganan-bali https://www.greeners.co/berita/hamparan-sampah-plastik-penuhi-pantai-kedonganan-bali/#respond Tue, 07 Jan 2025 03:50:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45622 Jakarta (Greeners) – Sampah kiriman dari laut terhampar di sepanjang Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penumpukan sampah yang didominasi plastik ini terjadi sejak musim penghujan pada bulan Desember lalu, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah kiriman dari laut terhampar di sepanjang Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penumpukan sampah yang didominasi plastik ini terjadi sejak musim penghujan pada bulan Desember lalu, ditambah dengan gelombang tinggi di laut.

Menurut pengamatan komunitas Sungai Watch, pada 20 Desember 2024, arus di pantai tersebut sudah mulai penuh sampah kiriman. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali, karena hampir setiap tahun sampah plastik selalu terhampar di pantai ini. Namun, tahun ini menjadi yang terparah.

Community Manager Sungai Watch, Luh Putu Anggita Baruna Putri, mengungkapkan bahwa komunitasnya ikut membersihkan pantai ini selama sembilan hari, mulai 25 Desember 2024 hingga Minggu 5 Januari 2025. Berdasarkan pengamatannya, penumpukan sampah paling parah terjadi pada periode 28 hingga 31 Desember.

Arus sampah ini tidak hanya terjadi di Pantai Kedonganan, namun juga terjadi di beberapa pantai lainnya, seperti Pantai Balangan, Pantai Dreamland, Pantai Jimbaran, dan Pantai Kuta, yang memang kerap mengalami lonjakan sampah kiriman setiap musim penghujan. Komunitas Sungai Watch berusaha membantu komunitas lokal di sekitar pantai untuk melakukan kegiatan bersih-bersih bersama.

BACA JUGA: Ribuan Peserta Gotong Royong dalam Aksi Bersih Sampah Laut di Kuta Bali

“Setiap bulan Desember, memang musim penghujan dan lonjakan gelombang sampah itu terjadi. Saya sempat ngobrol dengan ibu-ibu yang telah tinggal di Kedonganan selama 30 tahun. Mereka juga merasa bahwa tahun ini adalah yang paling parah,” ungkap Anggita kepada Greeners di Bali pada Minggu (5/1).

Anggita menambahkan, saat ini sampah yang datang ke Bali semakin parah dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah sampah yang terdampar, yang mungkin berasal tidak hanya dari Bali sendiri, tetapi juga dari luar Bali, termasuk Pulau Jawa.

Hamparan sampah plastik penuhi Pantai Kedonganan Bali. Foto: Dini Jembar Wardani

Hamparan sampah plastik penuhi Pantai Kedonganan Bali. Foto: Dini Jembar Wardani

48 Ton Sampah Terkumpul

Setelah melakukan kegiatan bersih-bersih selama sembilan hari, Sungai Watch berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 48 ton. Sebagian besar di antaranya adalah sampah plastik, bahkan beberapa sudah terurai menjadi mikroplastik.

Setelah sampah terangkut, tim Sungai Watch menimbang dan membawanya ke gudang yang terletak di Denpasar. Di sana, sampah akan mereka sortir menjadi 30 kategori berbeda untuk mempermudah proses daur ulang.

“Di Sungai Watch, kami sangat detail dalam proses ini. Kami melakukan dua fase pemilahan. Fase pertama berdasarkan material, dan fase kedua berdasarkan warna. Misalnya, kantong kresek yang sudah kami kumpulkan, kami pilih lagi berdasarkan warnanya,” jelas Anggita.

Kegiatan ini juga melibatkan banyak pihak. Relawan yang terlibat berasal dari berbagai komunitas, termasuk komunitas lokal, sekolah, bisnis, hotel, hingga restoran. Partisipasi mereka menunjukkan betapa pedulinya masyarakat terhadap kondisi yang menyerang Bali setiap musim penghujan.

Robi Navicula Ikut Cleanup

Seorang musisi dari band Navicula, Gede Robi Supriyanto, juga ikut serta dalam aksi cleanup ini. Ia mengapresiasi kegiatan yang diusung oleh Sungai Watch, terutama karena adanya rasa urgensi mengingat setiap tahun arus laut membawa sampah ke pantai Bali.

“Kalau saya lihat, antusiasme teman-teman di sini, terutama yang sudah lama jadi penggemar Sungai Watch, itu luar biasa. Walaupun ada rasa skeptis, ‘Ini kok gak habis-habis ya?’. Namun, karena dilakukan bersama-sama, sebenarnya ini juga bagus untuk keluarga. Ada edukasi untuk anak-anak kita tentang sampah yang akhirnya akan berakhir di lautan, jenis plastik, dan apa yang sering terdampar di laut,” kata Robi.

BACA JUGA: Mahasiswa UGM Bersih-bersih Pantai Baru

Robi juga menambahkan bahwa sampah yang paling banyak terdampar adalah minuman kemasan dalam cup, sedotan, dan sachet. Hal ini sebenarnya sudah ia soroti dalam film Pulau Plastik yang ia buat.

“Kampanye saya dari dulu adalah untuk menunjukkan bahwa inilah sampah yang berakhir di laut, dan kenapa produksi sampah ini tidak dibatasi saja,” ujarnya.

Meskipun ada rasa skeptis, Robi menegaskan bahwa usaha ini tetap penting sebagai bentuk suara dan perjuangan. Apalagi, menurutnya ini adalah momen yang pas, karena pantai memang sedang banyak sampah akibat arus laut.

Manfaatkan Tourist Tax 

Sementara itu, dalam upaya mengatasi penumpukan sampah di pantai Bali, Anggita berharap pemerintah dapat memanfaatkan tourist tax. Sebab, sebagian dari dana tersebut seharusnya digunakan khusus untuk penanganan dan pengelolaan sampah. Sayangnya, hal ini tidak pernah pemerintah paparkan secara jelas, dan tidak ada informasi berapa persen dari tourist tax yang mereka alokasikan untuk pengelolaan sampah.

“Harapannya, informasi mengenai hal ini bisa lebih jelas dan transparan, supaya kita bisa mengikuti progres pemerintah dalam pengelolaan sampah,” ujar Anggita.

Selain itu, Anggita juga menginginkan upaya penanganan sampah yang lebih serius dan maksimal. Menurutnya, peran pihak swasta sangat penting, terutama mengingat dominasi plastik di pantai, di mana sebagian besar sampah yang terdampar berupa gelas plastik yang sudah hancur dan terpecah.

“Itu sangat menyedihkan. Perlu ada keseriusan kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta. Salah satunya dengan memberikan pajak kepada perusahaan, agar mereka lebih bertanggung jawab dan bisa mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai,” kata Anggita.

Ia menambahkan, produsen yang memproduksi plastik, terutama jenis plastik yang mereka gunakan untuk gelas, harus bertanggung jawab. Plastik-plastik tersebut memiliki banyak jenis, dengan sudut dan label yang sulit didaur ulang dan mudah hancur di lautan. Oleh karena itu, produsen perlu lebih serius menerapkan sistem Extended Producer Responsibility (EPR) untuk mengatasi masalah ini.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/hamparan-sampah-plastik-penuhi-pantai-kedonganan-bali/feed/ 0
Ribuan Peserta Gotong Royong dalam Aksi Bersih Sampah Laut di Kuta Bali https://www.greeners.co/aksi/ribuan-peserta-gotong-royong-dalam-aksi-bersih-sampah-laut-di-kuta-bali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ribuan-peserta-gotong-royong-dalam-aksi-bersih-sampah-laut-di-kuta-bali https://www.greeners.co/aksi/ribuan-peserta-gotong-royong-dalam-aksi-bersih-sampah-laut-di-kuta-bali/#respond Sat, 04 Jan 2025 08:19:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45616 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar “Aksi Bersih Sampah Laut” di Pantai Kuta, Bali. Kegiatan ini bertujuan membersihkan pantai dari sampah. Selain itu, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar “Aksi Bersih Sampah Laut” di Pantai Kuta, Bali. Kegiatan ini bertujuan membersihkan pantai dari sampah. Selain itu, juga sebagai upaya edukasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan laut.

Kegiatan ini melibatkan ribuan peserta dari berbagai kalangan untuk bersama-sama memungut sampah yang terhampar di Pantai Kuta. Acara aksi bersih sampah laut berawal di area shelter kebencanaan Baruna. Selanjutnya, pemungutan sampah sepanjang 2 km di Pantai Kuta. Peserta terbagi ke dalam 10 zona untuk memungut sampah terpilah, dan setiap sampah yang terkumpul akan ditimbang berdasarkan jenisnya.

BACA JUGA: Penanganan Sampah di Laut Butuh Aturan Khusus

Pantai Kuta, seperti banyak lokasi di Bali, setiap tahunnya menerima kiriman sampah laut. Sampah tersebut sebagian besar berasal dari wilayah luar Pulau Bali. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan bahwa sampah laut bukan hanya masalah lokal, tetapi juga tantangan global.

“Kita bisa bayangkan, sampah yang nyangkut di Bali bisa mencapai 6.000 ton. Kalau sampahnya mulai dari pantai utara Jawa, akan banyak sampah tercecer di sepanjang perjalanan menuju ke Bali ini,” ungkapnya.

Kiriman Sampah Terbanyak dari Luar Bali

Pantai Barat dan Timur Bali setiap tahunnya menerima kiriman sampah laut yang sebagian besar berasal dari luar Pulau Bali. Fenomena ini terutama terjadi saat angin musim barat, yang biasanya berlangsung dari Oktober hingga Maret setiap tahun.

Untuk tahun ini, proyeksi masalah sampah laut 2024-2025 akan lebih besar dibandingkan tahun 2020-2021 yang tercatat sebanyak 6.000 ton. Sementara, pada tahun 2023 tercatat 2.900 ton.

Selain membersihkan pantai, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat program pengelolaan sampah laut di Bali. Selain itu, juga mengedukasi masyarakat agar lebih peduli dalam memilah sampah serta menjaga kebersihan lingkungan.

Hanif juga mengungkapkan bahwa acara ini juga dirancang untuk sesedikit mungkin menimbulkan tumpukan sampah dengan beberapa pengaturan. Misalnya, dengan menyediakan galon guna ulang, mengimbau peserta untuk membawa tumbler, dan menyediakan konsumsi dengan wadah daun pisang.

Ribuan peserta gotong royong dalam aksi bersih sampah laut di Pantai Kuta Bali. Foto: Greeners.co

Ribuan peserta gotong royong dalam aksi bersih sampah laut di Pantai Kuta Bali. Foto: Greeners.co

Usung Gerakan Wisata Bersih

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Widiyanti Putri Wardhana, mengapresiasi upaya KLH yang telah menyelenggarakan kegiatan aksi bersih sampah laut ini, serta semua pihak yang terlibat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian destinasi wisata bahari Indonesia.

“Permasalahan sampah di destinasi bahari memerlukan kesadaran dan tindakan nyata dari semua pihak termasuk dari pemerintah, pengelola wisata, masyarakat hingga para wisatawan,” kata Widiyanti.

BACA JUGA: Aksi Bersih Sampah Targetkan Tahun 2025 Bebas Sampah Nasional

Sejalan dengan aksi bersih sampah laut hari ini, Kementerian Pariwisata juga telah mencanangkan gerakan wisata bersih sebagai bagian dari program unggulan 2025.

Di bawah gerakan ini, mereka membentuk Satgas Wisata Bersih untuk meningkatkan kebersihan di berbagai destinasi wisata, berkolaborasi dengan kementerian, lembaga terkait, pemerintah daerah, dan stakeholders lainnya.

Ribuan peserta gotong royong dalam aksi bersih sampah laut di Pantai Kuta Bali. Foto: Greeners.co

Ribuan peserta gotong royong dalam aksi bersih sampah laut di Pantai Kuta Bali. Foto: Greeners.co

Sinergi Pengelolaan Sampah

Pada kesempatan ini, KLH/BPLH bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) tentang Sinergitas Tugas dan Fungsi di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Menteri Hanif berharap hal ini dapat mendorong terbangunnya budaya bangsa yang beradab, yang mampu mengelola sampah dengan baik dan berwawasan lingkungan.

“Tentunya, kesepahaman ini akan diikuti oleh kementerian lain dalam upaya penguatan pengelolaan sampah yang baik dan benar di seluruh Indonesia. Kami berharap, apa yang kita lakukan bersama hari ini di Bali dapat menjadi contoh dan pembelajaran yang baik bagi kabupaten atau kota lain, terutama dalam menyelesaikan permasalahan sampah laut,” tutupnya.

Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti serta Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ribuan-peserta-gotong-royong-dalam-aksi-bersih-sampah-laut-di-kuta-bali/feed/ 0
BRIN Gelar Diskusi Media, Bahas Sampah Plastik Bisa Mengalir ke Afrika https://www.greeners.co/aksi/brin-gelar-diskusi-media-bahas-sampah-plastik-bisa-mengalir-ke-afrika/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-gelar-diskusi-media-bahas-sampah-plastik-bisa-mengalir-ke-afrika https://www.greeners.co/aksi/brin-gelar-diskusi-media-bahas-sampah-plastik-bisa-mengalir-ke-afrika/#respond Wed, 18 Sep 2024 05:00:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44775 Jakarta (Greeners) – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova mengungkapkan bahwa dalam waktu kurang dari satu tahun, sampah plastik dari aktivitas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova mengungkapkan bahwa dalam waktu kurang dari satu tahun, sampah plastik dari aktivitas masyarakat Indonesia dapat mencapai Afrika Selatan. Menyikapi masalah ini, BRIN akan mengimplementasikan berbagai inovasi untuk mengatasi sampah plastik di Indonesia.

BRIN bekerja sama dengan beberapa kementerian dalam peneliian pergerakan sampah di perairan. Di antaranya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves).

Sampah dari Sungai Cisadane dipantau dengan 11 drifter. Dua drifter di antaranya hampir mendekati Madagaskar dalam waktu enam bulan. Meskipun hanya sepuluh persen dari sampah tersebut mencapai Afrika Selatan, lebih dari 50 persen sampah plastik lainnya mengarah ke sungai-sungai di Indonesia dan mencemari wilayah sekitarnya.

BACA JUGA: Riset: Warga Indonesia Paling Banyak Mengonsumsi Mikroplastik

Reza mengatakan, sampah plastik yang mencemari lautan dapat melewati lintas samudera. Mulai dari keluar di Samudera Hindia sampai masuk ke Samudera Pasifik.

“Walaupun tidak secara keseluruhan, sekitar 10 hingga 20 persennya akan langsung menuju Afrika Selatan,” kata Reza, pada Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Indonesia dan Strategi Penanganannya di Jakarta, Rabu (11/9).

Untuk mengatasi masalah ini, BRIN terus melakukan penelitian untuk menemukan solusi penanganan sampah plastik di laut. BRIN akan mengembangkan teknologi inovatif untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mendaur ulang sampah plastik.

Saat ini pendekatan yang sedang BRIN kembangkan adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh, sensor bawah air, serta kecerdasan buatan untuk memetakan sebaran sampah plastik secara lebih akurat.

BRIN Gandeng Nelayan dan Pemda

Dalam upaya penanganan sampah ini, BRIN juga bekerja sama dengan komunitas nelayan dan pemerintah daerah. Kerja sama tersebut dalam program pembersihan pantai dan edukasi masyarakat. Pendekatan berbasis komunitas ini menjadi kunci utama dalam menekan jumlah sampah plastik yang masuk ke laut.

“Perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah adalah langkah penting untuk jangka panjang,” tambah Reza.

Sebagai langkah lanjutan, BRIN juga mendukung regulasi terkait pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Menurut Reza, kebijakan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai harus segera diimplementasika untuk mencegah pencemaran laut. Kemudian, perlu juga adanya penguatan infrastruktutr pengelolaan sampah di perkotaan.

BACA JUGA: BRIN dan KIOST Jalin Kerja Sama Riset di Bidang Maritim

Saat ini, pemerintah memiliki target untuk menurunkan 70 persen kebocoran sampah plastik ke laut pada tahun 2025. Namun, menurut Reza, pada tahun ini penurunan baru mencapai 41,68 persen.

Reza menambahkan, produksi plastik meningkat pesat hingga 20 kali lipat secara eksponensial sejak diproduksi massal pada tahun 1950 hingga saat ini. Ada lebih dari 60 persen sampah plastik yang dihasilkan secara global, termasuk di Indonesia. Jenis sampah tersebut terdiri dari sampah plastik sekali pakai, seperti sachet plastik, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-gelar-diskusi-media-bahas-sampah-plastik-bisa-mengalir-ke-afrika/feed/ 0
KKP Mengkampanyekan Program Hilirisasi Sampah di Padang https://www.greeners.co/aksi/kkp-mengkampanyekan-program-hilirisasi-sampah-di-padang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kkp-mengkampanyekan-program-hilirisasi-sampah-di-padang https://www.greeners.co/aksi/kkp-mengkampanyekan-program-hilirisasi-sampah-di-padang/#respond Mon, 04 Mar 2024 06:58:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43221 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengkampanyekan hilirisasi sampah di Kabupaten Padang Pariaman. Hal itu sebagai salah satu upaya penting dalam penanganan sampah plastik di laut. Kampanye itu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengkampanyekan hilirisasi sampah di Kabupaten Padang Pariaman. Hal itu sebagai salah satu upaya penting dalam penanganan sampah plastik di laut. Kampanye itu sekaligus memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024.

KKP mengkampanyekan hilirisasi sampah melalui Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (Ditjen PKRL). Kegiatan dimulai dengan kampanye pengurangan sampah bertema “Hilirisasi Sampah, Bangkitkan Ekonomi Biru” di Pantai Tiram, Nagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Victor Gustaaf Manoppo mengatakan kampanye pengurangan sampah merupakan bagian dari Bulan Cinta Laut. Hal ini sekaligus bentuk komitmen KKP dalam menjalankan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.

BACA JUGA: KKP: Lewat Bulan Cinta Laut, Sampah Bisa Jadi Peluang Ekonomi

Melalui peraturan ini, pemerintah Indonesia terus berupaya mengurangi sampah sebanyak 30% melalui 3R (Reuse, Reduce dan Recycle). Bahkan, pemerintah menargetkan pengurangan sampah plastik yang masuk ke laut sebanyak 70% hingga tahun 2025.

“Aksi kampanye KKP ini terus menjadi bentuk komitmen dalam mengurangi sampah di laut serta menjadi sarana edukasi yang efektif. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengendalikan pencemaran yang terjadi di pesisir dan laut,“ ujar Victor lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (2/3).

Menurut Victor, menjaga lingkungan laut dari ancaman kerusakan imbas sampah adalah suatu keharusan. Dengan demikian, perlu langkah-langkah inovatif dan kreatif dalam penanganan sampah dan melibatkan partisipasi masyarakat.

KKP mengkampanyekan hilirisasi sampah di Padang. Foto: KKP

KKP mengkampanyekan hilirisasi sampah di Padang. Foto: KKP

170 Kilogram Sampah Terkumpul

Sementara itu, rangkaian kampanye ini terdiri dari penanaman bibit mangrove, aksi bersih pantai, dan sosialisasi pemilahan sampah bernilai ekonomis. Sampah daur ulang dan sampah residu yang terkumpul mencapai 170 kilogram. Sampah terbanyak adalah jenis sampah kemasan plastik.

KKP juga memberikan bantuan berupa tempat sampah kepada Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Raja Samudera. Selama ini, KOMPAK aktif berkolaborasi dalam menangani sampah hasil aktivitas pariwisata bersama para pedagang di Pantai Tiram.

BACA JUGA: KKP: Program Ekonomi Biru Tingkatkan Kesehatan Lingkungan

Kepala LKKPN Pekanbaru Rahmat Irfansyah menjelaskan, pembersihan sampah plastik di laut melalui Bulan Cinta Laut adalah salah satu kebijakan dalam agenda prioritas KKP. Pihaknya melibatkan KOMPAK untuk menangani sampah plastik yang terlanjur bocor ke pulau-pulau kecil di dalam Kawasan Konservasi Pulau Pieh.

“Sampah yang telah terkumpul dan terpilah akan kami angkut ke bank sampah. Sehingga, sampah tidak sekadar limbah padat yang tidak bermanfaat lagi, namun menjadi produk bernilai rupiah yang dapat menjadi mata pencaharian alternatif bagi masyarakat,” terang Irfan.

Irfan pun berharap, kampanye pengurangan sampah ini dapat mengedukasi masyarakat luas mengenai bahaya sampah, bijak mengelola sampah, dan cinta laut. Sehingga, kawasan pesisir bisa bebas dari sampah, laut pun menjadi sehat dan menjadikan Indonesia sejahtera.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono juga menegaskan bahwa laut bukan keranjang sampah. Ia meminta pelaku pembuangan sampah ditindak tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kkp-mengkampanyekan-program-hilirisasi-sampah-di-padang/feed/ 0
Puntung Rokok Menjadi Sampah Terbanyak ke-8 di Laut https://www.greeners.co/berita/puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut https://www.greeners.co/berita/puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut/#respond Sat, 24 Feb 2024 03:03:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43153 Jakarta (Greeners) – Riset telah membuktikan bahwa puntung rokok merupakan sumber sampah terbanyak kedelapan di lautan, yaitu sebesar 6,47%. Temuan penelitian tersebut terkonfirmasi di 18 pantai di Indonesia pada Februari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Riset telah membuktikan bahwa puntung rokok merupakan sumber sampah terbanyak kedelapan di lautan, yaitu sebesar 6,47%. Temuan penelitian tersebut terkonfirmasi di 18 pantai di Indonesia pada Februari 2018 hingga Desember 2019 oleh Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova.

“Setiap satu meter persegi ditemukan satu puntung rokok,” ungkap Reza lewat keterangan tertulisnya, Rabu (21/2).

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa rokok tidak hanya membunuh setengah dari konsumennya. Melainkan, juga menyebabkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.

BACA JUGA: Sampah Laut: Ancaman Serius bagi Satwa di Pulau Rambut

Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampah tersebut menyumbang 5-9% sampah. Sekitar 4,5 trilliun puntung rokok yang dibuang sembarangan setiap tahun berakhir ke lautan. Sampah itu mengeluarkan bahan kimia dan logam berat dalam kadar tinggi yang mudah mencemari tanah dan air. Bahkan, membunuh mikroorganisme dan hewan air.

Mengutip dari Stop Tobacco Pollution Alliance, puntung rokok juga melepaskan ribuan serat mikroplastik ke laut. Reza juga sepakat bahwa rokok tidak hanya berbahaya bagi paru-paru, tetapi sampah puntung rokok juga mencemari lingkungan.

Satu filter rokok memiliki 12.000–15.000 helai selulosa asetat dan melepaskan sekitar 100 serat selulosa asetat setiap hari. Puntung rokok yang tersebar di lingkungan memerlukan waktu 10 tahun untuk terurai.

Ilustrasi puntung rokok. Foto: Freepik

Ilustrasi puntung rokok. Foto: Freepik

Konsumsi Tembakau Indonesia Nomor 3 di Dunia

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, konsumsi tembakau di Indonesia telah menempati nomor 3 di dunia, mencapai 322 miliar batang pada tahun 2020. Hal itu berpotensi menghasilkan sekitar 107,333 ton sampah puntung rokok.

Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Rofie Alhanif mengatakan pencemaran sampah plastik laut merupakan isu global. Salah satunya di Indonesia yang menjadi salah satu negara kontributor terbesar kebocoran sampah plastik ke laut.

BACA JUGA: Cloud of Sea, Alat Canggih untuk Angkut Mikroplastik di Laut

“Melalui berbagai upaya, sampai dengan akhir tahun 2022 Indonesia sudah berhasil mengurangi sekitar 35% kebocoran sampah plastik ke laut dibandingkan dengan baseline data 2018,” ujar Rofie.

Puntung rokok, jelas Rofie, merupakan salah satu jenis sampah yang banyak ditemukan di sungai dan laut, akibat dibuang sembarangan dan belum dapat dikelola dengan baik. Kandungan sampah tersebut juga berbahaya. Ada ribuan zat kimia dan plastik yang membahayakan lingkungan. Sampah puntung rokok yang bocor ke laut bahkan bisa membahayakan ekosistem laut.

Filter Rokok Bisa Membahayakan Biota Perairan

Sementara itu, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati mengatakan bahwa filter rokok dapat melepaskan berbagai bahan kimia. Bahan tersebut yang berasal dari pemanenan dan pengolahan tembakau.

Filter rokok yang dihisap dapat melepaskan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Terutama naftalena, nikotin, etanol, etilfenol, benzene, toluene, xilena (BTEX), dan logam berat ke dalam air.

“PAH terlarut, nikotin, BTEX dan logam berat dapat terakumulasi dalam jaringan biota perairan,” kata Yuyun.

Yuyun juga mendukung pasal tentang puntung rokok masuk dalam proses negosiasi perjanjian internasional tentang plastik (plastic treaty). Komite Negosiasi antar Negara atau Intergovermental Negotiating Committee yang ketiga (INC-3) sudah berlangsung di Nairobi, Kenya, pada 13-20 November 2023.

“Indonesia harus punya posisi untuk mendukung pembahasan cigarette butts pada INC-4,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut/feed/ 0
Sampah Laut: Ancaman Serius bagi Satwa di Pulau Rambut https://www.greeners.co/berita/sampah-laut-ancaman-serius-bagi-satwa-di-pulau-rambut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-laut-ancaman-serius-bagi-satwa-di-pulau-rambut https://www.greeners.co/berita/sampah-laut-ancaman-serius-bagi-satwa-di-pulau-rambut/#respond Thu, 08 Feb 2024 03:11:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42997 Jakarta (Greeners) – Suaka Margasatwa Pulau Rambut (SMPR) di Kepulauan Seribu belum juga bebas dari sampah laut. Padahal, pulau tersebut menjadi habitat satwa liar. Timbulan sampah laut berasal dari sungai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Suaka Margasatwa Pulau Rambut (SMPR) di Kepulauan Seribu belum juga bebas dari sampah laut. Padahal, pulau tersebut menjadi habitat satwa liar. Timbulan sampah laut berasal dari sungai yang mengalir ke laut hingga menyangkut di kawasan Pulau Rambut.

Kawasan SMPR adalah tempat berkembang biaknya Burung Cikalang Natal (Fregata anderwsi), burung yang berasal dari Pulau Christmas di daratan Australia. Perairan Pulau Rambut juga merupakan tempat berbiak banyak jenis burung air lainnya. SMPR memiliki luas kurang lebih 90 hektare, yang terdiri dari 45 hektare daratan dan 45 hektare.

BACA JUGA: Manta, Kapal Layar “Pelahap” Sampah Laut

Namun, sayangnya, permasalahan sampah laut yang mengepung Pulau Rambut belum juga selesai. Sehingga, hal ini menjadi ancaman serius bagi kehidupan satwa di sana.

“Sampah yang paling banyak kami temukan itu adalah plastik dan styrofoam,” ungkap Direktur Eksekutif Divers Clean Action (DCA), Swietenia Puspa Lestari saat kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Island Clean Up di Pulau Rambut, Selasa (6/2).

Seluruh sampah yang mendarat di Pulau Rambut merupakan sampah rumah tangga di darat yang mengalir ke sungai-sungai di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Bogor, dan Bekasi. Akibatnya, sampah tersebut masuk ke laut dan mendarat di beberapa pulau, salah satunya Pulau Rambut.

Sampah laut mengancam keselamatan satwa liar di Pulau Rambut. Foto: Dini Jembar Wardani

Sampah laut mengancam keselamatan satwa liar di Pulau Rambut. Foto: Dini Jembar Wardani

DCA Bangun Kolaborasi Atasi Sampah Laut di Pulau Rambut

Sebagai upaya membangun kolaborasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelesaian masalah sampah, Divers Clean Action bersama Archipelagic and Island States Forum (AIS), berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta Lazada. Mereka melaksanakan program “Islands Clean-Up” untuk  menangani sampah plastik sekali pakai di Kepulauan Seribu.

Salah satu kegiatannya adalah upaya bebersih sampah di pesisir pantai Pulau Rambut yang telah terlaksana selama kurang lebih delapan bulan. Sampah plastik yang terkumpul dan terpilah secara scientific method sebanyak 117,1 kg. Kegiatan ini terlaksana bersama warga lokal Pulau Untung Jawa.

BACA JUGA: Cloud of Sea, Alat Canggih untuk Angkut Mikroplastik di Laut

Sampah Plastik Menyebabkan Kematian Satwa

Sampah plastik, khususnya plastik sekali pakai, masih banyak di Pulau Rambut. Banyaknya timbulan sampah plastik ini dapat menyebabkan kematian satwa liar. Selain itu, sampah yang melilit akar mangrove juga dapat merusak ekosistem Pulau Rambut.

Satwa liar seringkali banyak menelan sampah yang berserakan di Pulau Rambut. Bahkan, waktu itu ada burung yang mati karena menelan sampah plastik,” kata Switenia.

Sementara itu, Kepala Seksi Peran Masyarakat dan Penataan Hukum Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Riza Lestari Ningsih menyatakan bahwa pihaknya telah berupaya menangani sampah.

“Kami juga sudah melakukan penyaringan di sejumlah sungai wilayah DKI Jakarta agar tidak mengalir ke laut. Upaya ini bisa mengurangi 1 ton sampah yang masuk ke laut. Namun, sampah tersebut juga banyak mengalir dari sungai di beberapa wilayah seperti Bekasi dan Bogor. Tentu mengatasi hal ini pihak daerah perlu saling berkoordinasi,” kata Riza.

 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-laut-ancaman-serius-bagi-satwa-di-pulau-rambut/feed/ 0
Cloud of Sea, Alat Canggih untuk Angkut Mikroplastik di Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/cloud-of-sea-alat-canggih-untuk-angkut-mikroplastik-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cloud-of-sea-alat-canggih-untuk-angkut-mikroplastik-di-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/cloud-of-sea-alat-canggih-untuk-angkut-mikroplastik-di-laut/#respond Thu, 15 Jun 2023 04:43:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40439 Mikroplastik atau potongan plastik kecil, kini banyak ditemukan di lautan. Untuk melindungi lautan dari kehancuran, desainer Italia Matteo Brasili menciptakan alat canggih yang digunakan di kapal untuk mengangkut mikroplastik di […]]]>

Mikroplastik atau potongan plastik kecil, kini banyak ditemukan di lautan. Untuk melindungi lautan dari kehancuran, desainer Italia Matteo Brasili menciptakan alat canggih yang digunakan di kapal untuk mengangkut mikroplastik di laut. Namanya, Cloud of Sea.

Alat ini diikatkan ke perahu dengan seutas tali dan berisi filter internal berbentuk spiral. Alat tersebut kemudian berputar untuk menangkap mikroplastik dari air. Filter terbuat dari membran semi kaku dengan lubang meruncing ke dalam.

Cloud of Sea adalah alat inovatif yang dapat disesuaikan dengan semua jenis kapal. Tidak hanya berfungsi mengangkut mikroplastik, alat ini juga dapat mendorong dan memfasilitasi partisipasi para pelaut yang peduli terhadap kesehatan dunia kelautan untuk menghilangkan mikroplastik yang mencemari perairan.

Awal mula terbentuknya alat canggih ini, Brasili terinspirasi untuk menciptakan solusi. Akhirnya Cloud of Sea tidak hanya menghasilkan produk baru untuk memerangi pencemaran laut, tetapi juga mendorong semua orang untuk membantu memulihkan lingkungan.

Bantu Atasi Masalah di Laut

Akibat kecerobohan manusia, Bumi saat ini menghadapi perubahan drastis yang memengaruhi seluruh ekosistem. Salah satunya adalah masalah sampah plastik lautan yang belum terselesaikan.

Oleh karena itu, ide proyek ini muncul dari keinginan untuk menciptakan solusi atas permasalahan dunia laut. Kemudian diimplementasikan melalui sistem yang memudahkan pelaut untuk mengumpulkan sampah.

Bentuk alat ini terinspirasi dari jaring ikan yang menangkap mahluk kecil seperti plankton. Permukaan luarnya menyerupai tekstur cangkang. Bagian yang berbentuk sayap memungkinkan air mengalir ke dalam filter.

Cloud of Sea Miliki Sistem Canggih

lnovasi canggih dari Italia ini tidak sama seperti sistem lain yang juga mengumpulkan mikroplastik. Pertama, alat ini bergerak di laut melalui perahu, sehingga tidak membutuhkan sumber energi lain untuk bergerak saat mengumpulkan mikroplastik.

Kedua, Cloud of Sea adalah produk intuitif yang memudahkan pengangkutan dan pemilahan sampah di pantai. 

Selanjutnya alat ini meningkatkan komponen mekanis produk sebanyak mungkin melalui uji teknis lainnya di laut. Proyek ini harapannya dapat diperkenalkan di kawasan pelabuhan utama, sehingga tidak menghasilkan produk baru lagi untuk memerangi pencemaran laut.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : jamesdysonaward

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cloud-of-sea-alat-canggih-untuk-angkut-mikroplastik-di-laut/feed/ 0
Ocean Coil, Lampu Unik dari Sampah Plastik di Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/ocean-coil-lampu-unik-dari-sampah-plastik-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ocean-coil-lampu-unik-dari-sampah-plastik-di-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/ocean-coil-lampu-unik-dari-sampah-plastik-di-laut/#respond Mon, 12 Jun 2023 04:31:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40382 Sulit untuk sepenuhnya menghilangkan penggunaan plastik dalam jangka pendek. Salah satu kemampuan yang bisa kita terapkan adalah mengurangi plastik dengan mendaur ulangnya. Seperti yang satu ini, lampu gantung Ocean Coil […]]]>

Sulit untuk sepenuhnya menghilangkan penggunaan plastik dalam jangka pendek. Salah satu kemampuan yang bisa kita terapkan adalah mengurangi plastik dengan mendaur ulangnya. Seperti yang satu ini, lampu gantung Ocean Coil yang mengubah sampah plastik menjadi potongan-potongan yang indah.

Lampu Ocean Coil ini menggunakan 100 % plastik polipropilen daur ulang yang dibuat menjadi pelet dan dimasukkan ke dalam mesin cetak 3D. Plastik dekat pantai seperti jaring ikan, pukat, dan tali, menciptakan warna hijau yang membuat lampu gantung lamun tampak hijau.

Koleksi lampu gantung Ocean Coil lebih dari sekadar plastik daur ulang. Ada juga pengerjaan yang unik, terutama lampunya terlihat seperti tembikar yang dipintal dengan tangan.

Proses mengubah plastik daur ulang menjadi produk luar biasa ini bukanlah hal yang mudah. Ada penelitian tentang cara menangani bahan yang relatif baru menjadi sesuatu yang lebih berharga. Energi dan air selama proses produksi juga tetap menjadi perhatian.

Lampu Unik dengan Beragam Warna dan Bentuk 

Ocean Coil tersedia dalam tiga warna yaitu lamun, busa laut, dan marina. Mencampur pelet bahan dalam printer 3D juga bisa menciptakan rona hijau lembut dengan variasi tonal. Mengatasi fabrikasi pencahayaan menggunakan plastik laut daur ulang adalah sebuah tantangan. Tetapi ini merupakan langkah penting untuk inisiatif produksi selanjutnya.

Koleksi Coil yang bersumber dari laut sekarang mencakup tiga bentuk liontin, tersedia dalam ukuran kecil dan besar, menawarkan fleksibilitas yang lebih besar kepada desainer. Ada juga yang berbentuk mungil seperti bola ukuran besar dan kecil. Bisa sebagai liontin tunggal atau tersusun berkelompok.

Libatkan Komunitas Plastik

Pembuatan lampu gantung ramah lingkungan ini juga melibatkan komunitas aksi plastik yang mengekstraksi plastik dari lautan. Komunitas ini menyediakan material lampu gantung.

Plastik laut Coil Collection berasal dari sampah plastik dalam ada di perairan dengan jarak 31 mil dari garis pantai. Sedangkan plastik dekat pantai adalah sampah laut yang berada di dekat daratan.

Dengan delapan juta metrik ton plastik berakhir di lautan, setiap liontin Coil yang bersumber dari lautan mengubah hingga satu pon menjadi lampu yang menakjubkan. Produksi massal lampu ini berdampak besar pada kebersihan laut.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Yankodesign 

                  Lightart

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ocean-coil-lampu-unik-dari-sampah-plastik-di-laut/feed/ 0
Jaga Laut Indonesia dari Cemaran Sampah Plastik https://www.greeners.co/berita/jaga-laut-indonesia-dari-cemaran-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jaga-laut-indonesia-dari-cemaran-sampah-plastik https://www.greeners.co/berita/jaga-laut-indonesia-dari-cemaran-sampah-plastik/#respond Fri, 09 Jun 2023 05:47:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40373 Jakarta (Greeners) – Peringatan hari laut sedunia pada 8 Juni jadi pengingat, laut di Indonesia butuh penjagaan ekstra dari pencemaran sampah plastik, pembuangan tailing dan sumber kerusakan lainnya. Laut yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peringatan hari laut sedunia pada 8 Juni jadi pengingat, laut di Indonesia butuh penjagaan ekstra dari pencemaran sampah plastik, pembuangan tailing dan sumber kerusakan lainnya. Laut yang tercemar dan rusak akan membawa dampak buruk juga ke daratan.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyebut, tahun 2018 sebanyak 80 % sampah laut Indonesia berasal dari daratan, 30 % di antaranya tergolong sampah jenis plastik. Setiap tahunnya, 1,29 juta ton sampah plastik, masuk ke perairan Indonesia karena pasang surut ombak. 

Laut memiliki peran penting dalam kehidupan manusia di antaranya menyediakan sumber pangan, menghasilkan oksigen, dan memitigasi pemanasan global. 

Faktanya, Indonesia adalah salah satu negara maritim dengan kekayaan bahari masih belum luput dari berbagai ancaman buruk di laut. Peringatan hari laut sedunia jadi momen penting meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus menjaga dan melindungi ekosistem laut.

Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Zenzi Suhadi mengatakan, Indonesia adalah negara yang peradabannya ditopang oleh laut. Hanya saja saat ini laut belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya hingga berada di ambang kehancuran, salah satunya ancaman sampah plastik.

“Saat ini banyak ancaman dan masalah yang kita hadapi di laut, mulai dari sampah plastik dan pembuangan tailing,” kata Zenzi dalam diskusi virtual di Jakarta.

Ia juga menambahkan, rusaknya lautan Indonesia sangat memengaruhi ancaman dan keselamatan lingkungan di daratan. Salah satu isu yang mengemuka saat ini adalah ekspor pasir dari Indonesia.

Permasalahan Laut yang Kompleks

Founder Yayasan Getplastic Indonesia, Dimas Bagus Wijanarko juga berpandangan senada. Menurutnya, laut adalah penyumbang 60 % bagi kehidupan manusia di Bumi. Namun, permasalahan di laut saat ini sangatlah kompleks.

Salah satunya adalah sampah plastik yang kini menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan di laut. Plastik bisa hanyut di lautan, karena kurangnya ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah di kelompok masyarakat.

Tidak hanya itu, masih banyak masyarakat di hulu yang membuang sampah ke sungai sehingga menyebabkan banjir dan sampah mengalir ke laut. Kemudian, kurangnya tanggung jawab produsen yang terus menghasilkan kemasan plastik.

“Bagi kami, bukan salah plastik maupun limbahnya. Seluruh faktor ini terjadi akibat perilaku dari manusia yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, kesadaran pun harus terus dikuatkan,” ungkap Dimas.

Sampah ke laut masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Foto: ESN

Ubah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak

Yayasan Getplastic Indonesia pun berinovasi mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. “Kami berupaya meminimalisir terbuangnya sampah ini ke laut, yaitu caranya kami olah menjadi bahan bakar minyak. Sehingga tidak mencemari laut lagi,” jelas Dimas.

Program ini telah berjalan sejak tahun 2016, mencakup di beberapa desa dampingan. Terutama di wilayah pesisir seperti Pulau Seribu, Pulau Pramuka, Pulau Harapan, Wakatobi, dan Labuan Bajo.

Dimas menambahkan, program ini sudah berjalan di 28 titik lokasi. Tetapi, baru 10 titik yang berjalan secara maksimal. Yayasan Getplastic Indonesia tidak sendirian menjalankan program ini. Mereka bekerja sama dengan masyarakat lokal dan pihak swasta.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/jaga-laut-indonesia-dari-cemaran-sampah-plastik/feed/ 0
Sampah Plastik Masih Mengancam Penyu dan Kura-kura https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-masih-mengancam-penyu-dan-kura-kura/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-plastik-masih-mengancam-penyu-dan-kura-kura https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-masih-mengancam-penyu-dan-kura-kura/#respond Wed, 24 May 2023 06:32:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40173 Jakarta (Greeners) – Sampah plastik di pesisir dan laut mengancam sejumlah biota di antaranya penyu dan kura-kura. Sampah plastik dan mikroplastik bisa mereka konsumsi hingga berujung kematian. Melansir sampahlaut.id dalam […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah plastik di pesisir dan laut mengancam sejumlah biota di antaranya penyu dan kura-kura. Sampah plastik dan mikroplastik bisa mereka konsumsi hingga berujung kematian.

Melansir sampahlaut.id dalam sebuah penelitian terbaru, sampah plastik ini telah membunuh 1.000 penyu laut setiap tahunnya. Sebanyak 91 persen penyu yang peneliti temukan terjerat alat tangkap telah mati.

Penyu punya peran penting di laut, mereka menjadi indikator kesehatan laut. Oleh sebab itu setiap 23 Mei menjadi peringatan penyu dan kura-kura sedunia.

Kedua spesies ini serupa tetapi tak sama. Kura-kura hidup di darat dan air tawar, sedangkan penyu di perairan (laut). Ketika bertelur, penyu akan berenang ke darat, lalu kembali ke laut dan meninggalkan calon anak-anak mereka. Sedangkan kura-kura akan memberikan perlindungan pada anaknya sekitar 80 hari setelah menetas. 

Kakinya pun berbeda. Kura-kura berkuku tajam pada keempat kakinya. Fungsinya untuk memudahkannya berjalan saat berada di darat. Sedangkan penyu keempat kakinya lebih mirip seperti sirip. Kaki ini memudahkannya untuk berenang di dalam laut. 

Perbedaan lainnya, kura-kura dapat memasukkan kepalanya ke tempurungnya yang keras. Sementara penyu tidak bisa melakukannya. 

Karena memiliki perbedaan habitat, jenis makanannya pun berbeda. Kura-kura memakan sayur, buah dan serangga. Kemudian penyu memakan ikan-ikan kecil dan ubur-ubur. Masa hidup kura-kura antara 80 hingga 150 tahun. Sedangkan penyu antara 60-70 tahun. 

Ancaman Kematian Penyu

Menurut Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova, sampah plastik masih menjerat penyu saat berkeliling lautan dunia. Selain itu ada pula peristiwa lainnya yang mengancam kematian penyu.

“Sampah plastik ini dapat menjerat penyu saat berkeliling lautan dunia. Banyak sekali jaring nelayan yang terbuang membuat penyu terjerat dan mengakibatkan kematian,” kata Reza kepada Greeners, Selasa (23/5).

Di sisi lain, mereka mengira plastik yang bentuknya seperti ubur-ubur menjadi makanannya. Perut penyu pun terluka. Dengan adanya plastik di dalam perutnya, mereka cenderung merasa kenyang sehingga menganggu percernaannya.

Kura-kura memiliki tempurung yang mereka jadikan tempat memasukkan kepala dan anggota tubuh lainnya. Foto: Shutterstock

Sampah Plastik di Dalam Tubuh Kura-kura

Sementara itu, Herpetologist Yusratul Aini mengatakan, berdasarkan penelitian pada tahun 2018 hingga 2019 ada temuan sampah plastik di dalam perut kura-kura ambon. Sampah tersebut mengendap di dalam tubuh berupa plastik utuh maupun serpihan.

“Saya saat penelitian kura-kura ambon di Indonesia masih ditemukan kotoran plastik di dalam tubuhnya,” imbuh Aini.

Kura-kura air tawar ini termasuk dalam golongan omnivora oportunis atau pemakan segala. Sebab, mereka tidak mengetahui jenis makanan yang akan mereka konsumsi dan pergerakannya pun terbatas.

Aini juga menambahkan, kura-kura berpotensi menghisap makanan bersama air. Polusi berbahaya seperti sedotan, puntung rokok dan campuran oli di dalam air sering kali ikut masuk ke dalam tubuhnya.

“Semakin dekat dengan suatu aktivitas manusia dengan ekosistem air, akan menyebabkan water pollution. Itu semua mengakibatkan perubahan pada ekosistem air tawar ini,” ucap Aini.

Berdasarkan beberapa publikasi ilmiah, diperkirakan 100.000 hewan laut mati terjerat sampah plastik. Hal ini memberikan dampak buruk hampir 50 % bagi mamalia laut dan lebih dari 80 % penyu laut.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-masih-mengancam-penyu-dan-kura-kura/feed/ 0
Raih Emmy Awards, Film The Story of Plastic Tampilkan Sisi Kelam Sampah Plastik https://www.greeners.co/aksi/raih-emmy-awards-film-the-story-of-plastic-tampilkan-sisi-kelam-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=raih-emmy-awards-film-the-story-of-plastic-tampilkan-sisi-kelam-sampah-plastik https://www.greeners.co/aksi/raih-emmy-awards-film-the-story-of-plastic-tampilkan-sisi-kelam-sampah-plastik/#respond Fri, 14 Apr 2023 04:27:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=39697 Jakarta (Greeners) – Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) mengupas kerusakan lingkungan karena sampah plastik melalui film The Story of Plastic. Selama 10 tahun, GIDKP fokus terhadap persoalan sampah plastik. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) mengupas kerusakan lingkungan karena sampah plastik melalui film The Story of Plastic. Selama 10 tahun, GIDKP fokus terhadap persoalan sampah plastik. Mereka gencar menyuarakan berbagai aksi penanganan plastik.

Pemutaran Film dokumenter yang mengantongi anugerah Emmy Award ini berlangsung baru-baru ini. Film ini memperlihatkan bahaya plastik bagi pencemaran lingkungan. Tak hanya itu, film ini juga menggambarkan bencana yang terjadi di dunia, yaitu sampah yang menggunung serta cemaran dan polusi dari proses produksi plastik.

Selama film berlangsung, mereka perlihatkan bagaimana krisis iklim akibat polusi plastik dan dampaknya. Kejadian tersebut disorot pada beberapa negara, seperti India, Indonesia, Manila, dan Amerika. Selain itu, The History of Plastic juga menampilkan wawancara dengan para ahli dan aktivis di garis terdepan untuk menemukan titik terang dari plastik sekali pakai.

Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi dan Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira menjadi pahlawan dari Indonesia, yang turut andil dalam pembuatan film.

Tiza Mafira menyusuri Sungai Ciliwung dengan perahu kecil dan di sana terlihat banyak sekali tumpukan sampah plastik.

Film yang Deia Schloberg sutradarai ini mendapatkan penghargaan News and Documentary Emmy Awards 2021 dalam kategori Outstanding Writing: Documentary.

Ubah Mindset Masyarakat dari Film

Menurut Tiza Mafira, film ini harapannya dapat memberikan mindset baru kepada masyarakat global terkait bahaya plastik yang mengancam kehidupan.

Setelah film ini dirilis tentu ada keberhasilan yang bisa dibuktikan. Salah satunya terjadi dorongan kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk bergerak bersama mengurangi sampah plastik.

Pemerintah juga memiliki peranan penting mengatasi masalah sampah ini dengan menentukan regulasi yang konsisten. Sebab, dalam mengatasinya butuh kolaborasi bersama-sama, tidak bisa jalan sendirian.

“Film ini merupakan salah satu movement untuk masyarakat dan pemerintah. Plastik ini masalahnya sangat besar, tentu salah satu solusi yang perlu dilakukan yaitu bekerja sama dengan pemerintah,” ungkap Tiza.

Suasana pemutaran film tentang sampah plastik. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Upaya Indonesia Sambut Global Plastic Treaty

Sementara itu, menyambut Global Plastic Treaty atau perjanjian internasional yang mengikat secara hukum tentang plastik, Indonesia tak hanya diam. Indonesia melakukan upaya yang cukup kuat melalui regulasi yang dimilikinya.

Direktur Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sinta Saptarina mengatakan, pihaknya telah berkomitmen secara internasional untuk mengurangi polusi plastik di laut.

KLHK telah menyiapkan tiga prinsip untuk lakukan aksi yakni, reduce, redesign the product, dan eliminating.

Selain itu, salah satu ritel besar di Indonesia, PT Lion Super Indo juga bersiap untuk berkomitmen mengganti plastik sekali pakai menjadi produk guna ulang.

Head of Corporate Communication dan Sustainability PT Lion Super Indo D. Yuvlinda Susanta menyebut, ketika berbelanja di Super Indo, masyarakat merasa terbantu karena bisa berbelanja tanpa kantong plastik.

“Kami menyediakan tas “Kantong Segar” yang dapat digunakan kembali,” imbuhnya.

Yuvlinda juga menambahkan, Super Indo sangat mendorong masyarakat dan memberikan pilihan untuk menggunakan tas yang dapat mereka gunakan kembali, daripada tas tunggal atau kantong plastik.

“Jadi kami sebenarnya sangat concern dengan masalah plastik ini. Sebenarnya Super Indo paham bahwa sebagai retailer memiliki tanggung jawab besar yang besar untuk ikut atasi ini,” ungkapnya.

Selain pemutaran film, dalam acara ini juga membahas tentang urgensi Global Plastic Treaty.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/raih-emmy-awards-film-the-story-of-plastic-tampilkan-sisi-kelam-sampah-plastik/feed/ 0
Kreatif ! Perahu Layar Unik dari Sampah Plastik Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreatif-perahu-layar-unik-dari-sampah-plastik-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kreatif-perahu-layar-unik-dari-sampah-plastik-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreatif-perahu-layar-unik-dari-sampah-plastik-laut/#respond Fri, 16 Dec 2022 04:00:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38305 Solusi penanganan sampah plastik dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya dengan memanfaatkan dan memberi kehidupan kedua sampah plastik di laut menjadi produk unik seperti perahu layar. Pencemaran plastik menjadi salah […]]]>

Solusi penanganan sampah plastik dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya dengan memanfaatkan dan memberi kehidupan kedua sampah plastik di laut menjadi produk unik seperti perahu layar.

Pencemaran plastik menjadi salah satu masalah paling serius yang berdampak pada lautan global. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah pencemaran plastik perkiraannya akan melebihi jumlah ikan di laut pada tahun 2050.

Pencemaran plastik telah membawa malapetaka di lautan selama bertahun-tahun. Plastik juga perkiraannya akan menyumbang 85 % dari semua sampah laut.

Ironisnya, produksi plastik diperkirakan akan berlipat ganda di tahun mendatang sehingga ancaman peningkatan pencemaran di laut semakin tinggi. Saat ini, hanya 9 % plastik yang didaur ulang, karena nilai limbahnya yang rendah.

Salah satu inovasi memerangi sampah plastik adalah mengubahnya menjadi perahu layar Second Sun.

Perahu Layar Unik dan Menarik

Karya ini lahir dari desain Cesar Pieri dan Furf Design Studio. Perahu ini mempunyai dua fitur unik, yaitu layar bundar berwarna kuning cerah yang melambangkan Second Sun. Lalu bagian rangka perahu layar ini berwarna transparan.

Struktur desain rangka perahu layar transparan memberikan pandangan sekilas ke kehidupan laut sekaligus menonjolkan tarian ombak laut. Ini akan memberikan pengalaman baru bagi para pelaut untuk berlayar.

Rangka kapal ini terbuat dari biopolimer berbasis alga. Sementara, struktur bagian internal berasal dari sampah plastik yang berasal dari lautan.

Jika desain perahu layar ini berhasil maka berpotensi membantu mengurangi jumlah plastik di lautan. Tak hanya itu, desainnya yang inovatif berpotensi untuk menginspirasi lebih banyak karya konsep ramah lingkungan di masa depan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber : Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreatif-perahu-layar-unik-dari-sampah-plastik-laut/feed/ 0
Gajahlah Kebersihan Peduli Sampah Plastik di Laut https://www.greeners.co/sosok-komunitas/gajahlah-kebersihan-peduli-sampah-plastik-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gajahlah-kebersihan-peduli-sampah-plastik-di-laut https://www.greeners.co/sosok-komunitas/gajahlah-kebersihan-peduli-sampah-plastik-di-laut/#respond Sat, 25 Jun 2022 04:36:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=36545 Jakarta (Greeners) – Konsisten dan fokus terhadap masalah sampah laut (marine debris), komunitas Gajahlah Kebersihan aktif menyuarakan isu-isu lingkungan. Tak hanya aktif menggelar aksi, komunitas yang berlokasi di Lampung ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Konsisten dan fokus terhadap masalah sampah laut (marine debris), komunitas Gajahlah Kebersihan aktif menyuarakan isu-isu lingkungan. Tak hanya aktif menggelar aksi, komunitas yang berlokasi di Lampung ini punya misi untuk memberikan edukasi terkait sampah pada masyarakat.

Seperti halnya namanya, Gajahlah Kebersihan merupakan plesetan dari jagalah kebersihan. Pemilihan gajah merupakan suatu yang mereka sengaja, sebagai ikon Provinsi Lampung.

Empat generasi milenial yang aktif pada isu lingkungan mendirikan komunitas. Founder Komunitas Gajalah Kebersihan Edy Fajar Prasetyo mengatakan, alasan di balik fokus Gajahlah Kebersihan terhadap masalah sampah.

“Laut sebagai bagian hilir sangat terimbas dari sampah-sampah yang dibuang sembarangan dan tak dikelola dengan baik,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, baru-baru ini.

Tak hanya itu, aksi-aksi yang mereka lakukan dalam mengurangi sampah plastik juga demi menjaga laut Indonesia dan biota yang ada di dalamnya. Edy menegaskan butuh kerja sama berbagai pihak untuk membersihkan sampah laut.

“Apalagi keadaannya sudah memadat. Bagaimana menyebutnya pantai, kalau pasirnya saja tertutupi sampah,” imbuhnya.

Sampah yang berhasil Gajahlah Kebersihan ambil dari kawasan pesisir. Foto: Gajahlah Kebersihan

Sedotan Yang Berujung Menjadi Sampah Plastik

Edy menyayangkan, masih banyaknya masyarakat Indonesia yang masih menggunakan sedotan plastik. Padahal, sambung dia sebagai fungsinya sedotan hanya masyarakat gunakan beberapa saat.

Hal ini tak sepadan dengan dampak lingkungan yang plastik sebabkan. “Lebih baik kita memang dari awal tidak menggunakan sedotan ini. Kita mendorong agar berganti pada produk-produk sedotan yang lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.

Permasalahan paling utama terkait dengan masalah ini tak jauh dari masih rendahnya kesadaran masyarakat. Edy menilai akar permasalahannya karena masyarakat merasa tidak mendapat efek langsung dari sampah ini.

“Terlebih jika kita ke tempat lain gitu kita tidak pernah merasa punya tanggungjawab untuk sampah,” ujarnya.

Edy menyatakan, Gajahlah Kebersihan juga aktif dalam berbagai macam zero waste event. Beberapa programnya yaitu online talk, Gajahlah Goes to School (GGS), Workshop Zero Waste dan Combating Marine Debris.

Selain itu ada pula Lampung Youth Marine Debris Summit (LYMDS) dan Lomba Menulis Tentang Zero Waste. Lomba menulis terkait zero waste ini mereka selenggarakan tingkat nasional. Tak hanya itu, lomba ini untuk mengampanyekan agar gerakan peduli lingkungan tak mati begitu saja.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/gajahlah-kebersihan-peduli-sampah-plastik-di-laut/feed/ 0
Kelp, Kursi Berdesain Unik dari Limbah Jaring Ikan https://www.greeners.co/ide-inovasi/kelp-kursi-berdesain-unik-dari-limbah-jaring-ikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelp-kursi-berdesain-unik-dari-limbah-jaring-ikan https://www.greeners.co/ide-inovasi/kelp-kursi-berdesain-unik-dari-limbah-jaring-ikan/#respond Wed, 22 Jun 2022 04:36:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36515 Studio seni asal Swedia, Interesting Time Gang, berhasil memberikan kehidupan kedua pada salah satu jenis sampah laut yang paling mencemari: limbah jaring ikan. Melalui tangan dingin para desainer, jaring ikan […]]]>

Studio seni asal Swedia, Interesting Time Gang, berhasil memberikan kehidupan kedua pada salah satu jenis sampah laut yang paling mencemari: limbah jaring ikan. Melalui tangan dingin para desainer, jaring ikan bekas yang tidak berdaya dapat terlahir kembali menjadi furnitur yang berharga. Mereka mengolah limbah teresebut menjadi kursi tunggal berdesain unik dan futuristis bernama Kelp.

“Setiap tahun, ribuan jaring ikan terbuang sia-sia dan mencemari lautan serta perairan di sekitarnya. Jaring-jaring tersebut menyebabkan kematian dan kehancuran bagi ekosistem laut,” ujar para desainer dalam situs resmi mereka. “Padahal, kehidupan manusia sangat bergantung pada lautan dan segala kehidupan yang ada di dalamnya.”

Untuk membuat kursi Kelp, Interesting Time Gang memanfaatkan limbah jaring ikan yang terdapat di Laut Baltik. Dengan bantuan mesin cetak tiga dimensi, jaring ikan bekas diolah dan dibentuk sedemikian rupa hingga berbentuk kursi tunggal. Mereka juga menggunakan bahan tambahan berupa serat kayu untuk membuat kursi tersebut.

“Pada akhir masa pakainya, kursi ini dapat kita daur ulang kembali menjadi bio-material baru yang tidak kalah bermanfaat,” papar mereka.

Meskipun terbuat dari jaring ikan bekas, kursi Kelp tetaplah terlihat menarik. Kursi ini memiliki bentuk bergelombang dan berwarna hijau yang terinspirasi dari vegetasi laut. Saat ini, kursi tersebut masih diproduksi dalam skala terbatas.

Limbah Jaring Ikan: Tidak Hanya Diolah Kembali Menjadi Kursi

Jaring ikan yang terbuang sia-sia sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Selain kursi, beberapa desainer lain juga telah berhasil mengolah kembali limbah tersebut menjadi berbagai benda yang bernilai guna tinggi.

Desainer ternama Stella McCartney merupakan salah satu desainer yang sukses memberikan kehidupan kedua pada limbah jaring ikan. Pada tahun 2021 lalu, ia berhasil “menyulap” limbah tersebut menjadi sepatu sneakers bernama Reclypse yang mewah. Selain itu, desainer asal Inggris tersebut juga telah menghadirkan koleksi pakaian renang dan tas dengan memanfaatkan jaring ikan bekas.

Selain Interesting Time Gang dan Stella McCartney, desainer lain bernama Thomas Kimber juga telah memanfaatkan limbah jaring ikan untuk membuat produk fesyen. Ia mengolah kembali limbah tersebut menjadi kacamata hitam nan modis bernama Karun.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Inhabitat

Situs Resmi Interesting Time Gang

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kelp-kursi-berdesain-unik-dari-limbah-jaring-ikan/feed/ 0
CCOF Perluas Inovasi Daur Ulang Limbah Plastik di Luar Pulau Jawa https://www.greeners.co/aksi/ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa https://www.greeners.co/aksi/ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa/#respond Sun, 16 Jan 2022 04:17:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35007 Jakarta (Greeners) – Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah berinvestasi di perusahaan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia. Perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang limbah plastik ini tengah memelopori […]]]>

Jakarta (Greeners) – Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah berinvestasi di perusahaan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia. Perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang limbah plastik ini tengah memelopori model mata rantai pengelolaan limbah plastik yang inovatif.

Circulate Capital, perusahaan manajemen investasi berbasis di Singapura. Perusahaan ini mendanai inovasi, perusahaan dan usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memerangi polusi plastik di laut dan perubahan iklim. Caranya dengan memajukan ekonomi sirkular netral karbon.

Prevented Ocean Plastic Southeast Asia adalah hasil kerja sama yang unik antara PT Polindo Utama (Polindo), Bantam Materials Ltd (Bantam Materials) dan Circulate Capital. Perusahaan ini berkomitmen untuk memperluas infrastruktur daur ulang di Indonesia secara strategis. Terutama di wilayah yang kurang atau tidak memiliki infrastruktur pengelolaan limbah plastik.

Perluasan infrastruktur tersebut harapannya dapat mencegah kebocoran limbah plastik ke laut dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Ambisi Prevented Ocean Plastic Southeast Asia dalam mengembangkan model berkelanjutan ini dapat menjadi standar terbaik untuk industri daur ulang plastik di Asia Tenggara.

“Realita bahwa harus mengumpulkan sampah plastik dari 17.000 pulau mempersulit betapa rumitnya krisis polusi plastik di Indonesia. Hal ini karena banyak tantangan logistik dan kompleksitas dalam rantai nilai daur ulang limbah plastik,” jelas Rob Kaplan, Founder dan CEO Circulate Capital dalam keterangannya baru-baru ini.

Ia mengaku sangat antusias turut berinvestasi di Prevented Ocean Plastic Southeast Asia dalam membangun jaringan pengumpulan sampah plastik. Terlebih lagi, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan memenuhi permintaan pasar yang sudah mulai terbuka dan menerima penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi dan traceable.

“Proyek ini berpotensi menjadi blueprint infrastruktur daur ulang dan ekonomi sirkular terbaik di seluruh kawasan Asia Tenggara,” imbuhnya.

Perkuat Upaya Daur Ulang Limbah Plastik di Kalimantan dan Sulawesi

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 kepulauan. Saat ini, 124 juta orang atau 45 % populasi tinggal di luar pusat ekonomi Indonesia, Pulau Jawa. Upaya pengumpulan limbah plastik dari pulau-pulau ini untuk kegiatan daur ulang tentunya sangat menantang dan mahal dalam segi logistik.

Melalui pendanaan dari CCOF, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan membangun rantai nilai pengumpulan dan daur ulang plastik yang sistematis di beberapa wilayah pesisir luar Jawa, terutama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Sebagai bagian dari rencana ini, 12 pusat pengumpulan limbah plastik dan tiga pusat pendukung akan mereka bangun.

Dengan menggabungkan kekuatan unik para mitranya, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia berharap dapat dengan sukses membangun pasokan komoditas plastik daur ulang berkualitas premium, bersertifikat dan dapat ditelusuri asalnya (traceable) untuk pasar global.

“Seluruh aktivitas di pusat-pusat pengumpulan limbah juga akan melalui proses audit dan sertifikasi sehingga mendapat akses pasar dan harga premium komoditas plastik daur ulang,” ungkap Rob.

Buka Lapangan Kerja Baru dan Cegah Kebocoran Sampah Ke Laut

Dalam periode 10 tahun, perusahaan ini memperkirakan bahwa aktivitasnya akan dapat mencegah kebocoran 400.000 ton limbah plastik ke laut, menghindari 800.000 ton emisi karbon. Selain itu akan menciptakan 1.000 lapangan kerja dan membuka peluang pendapatan baru bagi ribuan pengumpul limbah plastik.

Pertumbuhan populasi di Indonesia dan perkembangan ekonomi yang pesat telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan yang eksponensial dalam konsumsi plastik. Sistem pengelolaan dan daur ulang sampah plastik di Pulau Jawa sudah relatif lebih mapan, terutama di Jakarta dan Surabaya.

Sementara di kota-kota kecil di dalam dan luar Pulau Jawa masih kekurangan infrastruktur pengumpulan dan daur ulang limbah plastik.

Hal tersebut mengakibatkan tingginya tingkat polusi plastik dan emisi gas rumah kaca. Hampir 72 % dari total polusi plastik di Indonesia berasal dari daerah pedesaan dan kota-kota kecil hingga menengah. Namun, tingkat pengumpulan sampah plastik di daerah pedesaan dan terpencil hanya 20 % atau kurang dari angka tersebut.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa/feed/ 0
MOOP, Kartu Remi “Hijau” Berbahan Dasar Sampah Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/moop-kartu-remi-hijau-berbahan-dasar-sampah-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=moop-kartu-remi-hijau-berbahan-dasar-sampah-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/moop-kartu-remi-hijau-berbahan-dasar-sampah-laut/#respond Thu, 09 Dec 2021 03:49:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=34627 Perusahaan mainan asal Inggris, Big Potato, telah meluncurkan kartu remi pertama di dunia yang sepenuhnya terbuat dari sampah laut. Kartu remi bernama Made of Ocean Plastic (MOOP) tersebut rencananya akan […]]]>

Perusahaan mainan asal Inggris, Big Potato, telah meluncurkan kartu remi pertama di dunia yang sepenuhnya terbuat dari sampah laut. Kartu remi bernama Made of Ocean Plastic (MOOP) tersebut rencananya akan mereka rilis pada musim semi 2022 mendatang.

Untuk menciptakan kartu remi “hijau” MOOP, Big Potato bekerja sama dengan perusahaan daur ulang asal Shanghai, Waste2Wear. Mereka menghabiskan waktu selama kurang lebih 16 bulan untuk mengembangkan produk kartu remi berbahan dasar sampah laut tersebut.

“Membuat kartu remi dari sampah plastik laut memang membutuhkan biaya produksi yang jauh lebih besar. Tetapi kami bertekad untuk tetap menghadirkan MOOP dan membuat dampak lingkungan yang positif,” ujar pendiri Big Potato, Dean Tempest, seperti dilansir dalam Toy World.

Dalam situs resmi Big Potato, dijelaskan bahwa setiap set kartu remi MOOP terbuat dari dua botol plastik yang mengapung di lautan. Setiap lembar kartu bersifat tahan air dan tahan sobek sehingga kartu tersebut dapat kita mainkan dalam jangka waktu yang lama.

“Dapat mengubah sesuatu yang berbahaya menjadi sesuatu yang menyenangkan, bermanfaat dan tahan lama merupakan kebanggan bagi kami,” kata Dean.

Menurutnya, MOOP masih jauh dari sempurna, namun dirinya bangga dengan upaya yang telah ia lakukan sejauh ini. “Kami terus bertekad untuk menyelamatkan bumi dengan cara kami,” ucapnya.

Memuat Informasi Mengenai Sampah Laut

Selain asyik untuk dimainkan, kartu remi MOOP juga memiliki fitur edukatif di dalamnya. Dalam setiap set kartu terdapat kartu khusus yang memuat informasi mengenai sampah laut. Selain itu, terdapat juga kartu khusus dengan kode QR. Kode tersebut memuat informasi mengenai proses bagaimana sampah plastik laut dikumpulkan dan diolah hingga menjadi kartu remi.

Sebagai informasi, selama dua tahun terakhir Big Potato telah melakukan upaya keberlanjutan dalam proses produksi produk mereka. Mereka sudah mengurangi penggunaan plastik murni hingga 64 persen dan mengutamakan penggunaan bahan-bahan daur ulang. Selain itu, mereka juga sudah meninggalkan penggunaan kemasan berbahan dasar plastik sekali pakai.

Selain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, perusahaan tersebut juga memiliki misi untuk melakukan reboisasi. Mereka akan menanam satu pohon di Madagaskar untuk setiap mainan yang terjual, termasuk MOOP. Untuk menjalankan misi tersebut, Big Potato bekerja sama dengan organisasi lingkungan Ecologi.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Big Potato

Toy World

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/moop-kartu-remi-hijau-berbahan-dasar-sampah-laut/feed/ 0
Sperma Salmon Berhasil “Disulap” Menjadi Plastik oleh Peneliti Tiongkok https://www.greeners.co/ide-inovasi/sperma-salmon-berhasil-disulap-menjadi-plastik-oleh-peneliti-tiongkok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sperma-salmon-berhasil-disulap-menjadi-plastik-oleh-peneliti-tiongkok https://www.greeners.co/ide-inovasi/sperma-salmon-berhasil-disulap-menjadi-plastik-oleh-peneliti-tiongkok/#respond Wed, 08 Dec 2021 05:29:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=34622 Guna mencegah terjadinya peningkatan penumpukan sampah plastik, para peneliti dari Universitas Tianjin, Tiongkok, berinisiatif untuk menciptakan plastik biodegradable dari bahan yang tidak biasa. Mereka baru saja menciptakan plastik berkelanjutan yang […]]]>

Guna mencegah terjadinya peningkatan penumpukan sampah plastik, para peneliti dari Universitas Tianjin, Tiongkok, berinisiatif untuk menciptakan plastik biodegradable dari bahan yang tidak biasa. Mereka baru saja menciptakan plastik berkelanjutan yang terbuat dari campuran sperma salmon dan minyak nabati!

Para peneliti menemukan bahwa sperma salmon mengandung DNA yang dapat menyatu secara solid apabila digabungkan dengan minyak nabati. Gabungan antara DNA dan minyak nabati tersebut akan menghasilkan material baru berupa hidrogel yang licin dan elastis. Menurut para peneliti, hidrogel tersebut dapat kita bentuk sedemikian rupa hingga menjadi plastik serbaguna. Sejauh ini, plastik tersebut telah tim peneliti manfaatkan untuk membuat kepingan puzzle dan molekul DNA.

“Plastik berbasis sperma salmon menghasilkan emisi karbon 97 persen lebih sedikit daripada plastik polistierna. Jika tidak terpakai lagi, plastik ini akan segera terurai di alam dengan bantuan enzim pengurai DNA,” ujar salah satu peneliti, Dayong Yang, dalam Euronews.

Untuk mengubah hidrogel berbahan dasar sperma salmon menjadi plastik biodegradable, para peneliti harus mengeringkannya terlebih dahulu. Hidrogel tersebut mereka keringkan melalui proses pembekuan untuk menghilangkan kelembapan dan membuatnya menjadi padat.

Plastik dari Sperma Salmon: Plastik Biodegradable Paling Berkelanjutan

Saat ini terdapat begitu banyak alternatif plastik ramah lingkungan yang tersedia di pasaran. Pada umumnya, plastik biodegradable berbahan dasar pati jagung dan ganggang sering muncul sebagai solusi. Meskipun mudah terurai, proses pembuatan plastik berbahan dasar ganggang dan pati jagung rupanya membutuhkan energi dalam jumlah yang cukup besar.

Menurut Dayong, plastik berbahan dasar sperma salmon dan minyak nabati merupakan plastik biodegradable paling berkelanjutan yang pernah ada. Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan plastik dari bahan-bahan tersebut tidak membutuhkan banyak energi. Selain itu, jejak karbon yang ditinggalkan juga sangat minim jika dibandingkan dengan plastik berbahan dasar pati jagung dan ganggang.

Meskipun plastik berbahan sperma salmon dinilai sebagai plastik biodegradable yang paling berkelanjutan, peneliti mengakui bahwa plastik tersebut masih memiliki kekurangan. Plastik tersebut belum bersifat tahan air dan hanya dapat kita gunakan dalam kondisi kering.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Euronews

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sperma-salmon-berhasil-disulap-menjadi-plastik-oleh-peneliti-tiongkok/feed/ 0