Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

Reading time: 3 menit
Gerakan guna ulang efektif kurangi sampah. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menyebut gerakan guna ulang merupakan solusi paling efektif untuk mengurangi krisis iklim. Emisi yang dihasilkan dari gerakan penggunaan kontainer atau wadah guna ulang lebih rendah daripada penggunaan plastik sekali pakai.

Gerakan guna ulang merupakan salah satu gaya hidup yang menjalankan prinsip pakai habiskan kembalikan. Hal ini menjadikan wadah memiliki masa pemakaian lebih lama daripada plastik.

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira menyatakan, sekilas banyak orang yang berpikir skeptis bahwa produk guna ulang menghasilkan banyak emisi karbon seiring mobilitasnya yang tinggi dalam pengumpulan dan pengembalian wadah.

Namun sebenarnya plastik sekali pakai emisinya lebih banyak lagi. “Karena kita kadang lupa bahwa rantai pembuatan plastik itu panjang. Mulai dari proses dari minyak bumi dulu, pengubahan menjadi pelet plastik hingga menjadi plastik kemasan dan didistribusikan,” kata dia dalam media gathering Gerakan Guna Ulang Jakarta, Kamis (23/2).

Tak berhenti sampai di situ, setelah plastik tak digunakan maka kerap dibakar begitu saja atau tertumpuk di TPA. “Ketika plastik didaur ulang itu juga ada emisinya. Ini proses industri yang berat,” kata dia.

Berbeda dengan penggunaan plastik sekali pakai, gerakan guna ulang mampu memutus rantai emisi dari hulu pembuatan plastik hingga hilir polusi akibat ketidaktepatan pengolahan plastik.

“Wadah guna ulang bisa kita gunakan ratusan kali bahkan bertahun-tahun jika bahannya kokoh,” imbuh dia.

Tiza menyebut, gerakan guna ulang tak sekadar menjadi solusi pengurangan sampah plastik. Namun menjadi solusi pengurangan emisi menghadapi krisis iklim.

Para narasumber berfoto bersama usai media gathering. Foto: GIDKP

Tren Sadar Akan Krisis Iklim

Tiza juga menambahkan, saat ini ada tren yang menunjukkan kecenderungan kesadaran akan krisis iklim. “Kita sudah mulai melihat gerakan guna ulang menjadi tren. Kita tak lagi terobsesi dengan produk-produk baru, tapi yang memuat kesadaran krisis iklim,” papar dia.

Indonesia Program Lead, Enviu, Zero Waste Living Lab Darina Maulana menyebut, tantangan terbesar implementasi gerakan ini adalah masih minimnya kesadaran masyarakat untuk tak berkontribusi dalam pengurangan sampah.

“Persepsi masyarakat juga harus dikoreksi. Misalnya saat ini kita beli produk maka kita juga harus membeli kemasannya, padahal kita butuh produknya dan wadahnya bisa pinjam,” kata dia.

Ia menambahkan, sejatinya praktik ini bukanlah gerakan yang baru, tapi telah menjadi budaya masyarakat tempo dulu. Mulai dari penggunaan gelas pada mbok jamu, rantang untuk menghantarkan makanan hingga mangkok untuk makan di tempat.

“Kebiasaan baik ini sudah akrab dengan kita. Jadi bisa diimplementasikan hingga masyarakat tapak seperti ibu-ibu PKK hingga bank sampah,” imbuhnya.

Diskusi seru terkait pengurangan sampah plastik dengan gerakan reuse. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Gaya Hidup Guna Ulang Tak Ribet

Publik figur dan Duta Diet GIDKP Nadia Mulya mengungkapkan, banyak yang merasa gaya hidup guna ulang itu susah dan ribet. “Padahal tidak juga. Sekarang di Jakarta sudah banyak vendor produk rumah tangga hingga cafe dan restoran yang mendukung gaya hidup guna ulang,” kata dia.

Saat ini sudah banyak vendor yang menjual produk sehari-hari baik untuk keperluan rumah tangga, seperti minyak goreng, bumbu dapur, detergen hingga sabun cuci piring dengan kemasan guna ulang.

“Biasanya saya membeli produknya lewat toko online dan kemasan pun mereka jemput gratis setelah produk habis terpakai,” tuturnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top