Berawal dari sebuah tradisi di Pantai Pelabuhan Ratu, Hari Nelayan kini menjadi hari besar nasional. Sejatinya, Hari Nelayan merupakan tradisi turun-temurun untuk mengungkapkan syukur atas kesejahteraan hidup yang diberikan. Upacara ini diisi dengan tarian tradisional dan pelepasan sajen ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan nelayan semakin meningkat. Namun, berbeda dengan tempo dulu, sajen yang digunakan dewasa ini berupa benih ikan, benur (bibit udang) dan tukik (anak penyu) ke tengah teluk Pelabuhan Ratu di Banten.

Upacara yang diselenggarakan setiap tanggal 6 April ini didasari oleh keadaan geografis Indonesia yang diapit oleh dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Namun, kekayaan laut yang dimiliki berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Untuk itu, Hari Nelayan Indonesia menjadi pengingat untuk bersyukur sekaligus pendorong untuk memajukan kesejahteraan nelayan.

Top
You cannot copy content of this page