Warga Siba Klasik Gresik Bawa Wadah Sendiri untuk Ambil Daging Kurban

Reading time: 2 menit
Warga Siba Klasik Gresik bawa wadah sendiri untuk ambil daging kurban. Foto: AZWI
Warga Siba Klasik Gresik bawa wadah sendiri untuk ambil daging kurban. Foto: AZWI

Jakarta (Greeners) – Kampung Siba Klasik RT 02 RW 05 di Kabupaten Gresik menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim plastik. Warga membawa wadah guna ulang masing-masing. Sementara, limbah kurban mereka olah menggunakan komposter untuk mengurangi timbulan sampah.

Dalam pelaksanaannya, daging kurban tidak terbungkus plastik sekali pakai. Warga membawa wadah sendiri, seperti ember, baskom, rantang, atau kotak makan. Panitia kemudian menata seluruh wadah tersebut untuk mempermudah proses distribusi daging kepada para penerima kurban.

Ketua RT 02 Saifudin Efendi atau yang akrap dipanggil Ipung mengatakan, warga menyepakati langkah ini sejak awal musyawarah persiapan kurban. Menurut dia, persoalan sampah plastik selalu muncul setiap perayaan Iduladha. 

“Setiap tahun plastik menumpuk setelah pembagian daging. Tahun ini warga sepakat mengganti dengan wadah guna ulang supaya lingkungan tetap bersih,” kata Ipung dalam siaran pers. 

Langkah pengurangan sampah terlihat di area penyembelihan. Panitia tidak menyediakan kantong plastik. Warga penerima datang membawa wadah masing-masing sesuai data yang tercatat sebelumnya.

Siapkan Titik Pemilahan 

Sementara itu, panitia kurban bersama remaja musala, karang taruna, dan kelompok ibu-ibu juga menyiapkan titik pemilahan sampah organik serta non organik. Mereka mengumpulkan daun, sisa pakan ternak, dan limbah organik hasil penyembelihan secara terpisah. Kemudian, mereka mengolahnya menjadi kompos. 

Area penyembelihan tahun ini juga tertata lebih rapih, dibanding pola pembagian daging pada tahun sebelumnya. Peralatan yang dipakai langsung dicuci untuk digunakan kembali. Aktivitas gotong royong berlangsung sepanjang proses penyembelihan, hingga distribusi daging selesai.

Remaja Langgar Maslakul Inayah, turut membantu pengangkutan limbah organik ke tempat pengumpulan sementara. Kelompok ibu-ibu bertugas membersihkan area pembagian daging dan memastikan wadah penerima sesuai daftar panitia.

Karang taruna juga membantu mengatur lalu lintas warga agar distribusi daging berjalan cepat. Sistem pembagian berlangsung secara bergiliran. Hal ini untuk menghindari antrean panjang di area musala.

Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi mengatakan,konsep ini lahir dari kesadaran bersama menjaga lingkungan kampung. Menurut dia, ibadah kurban juga perlu memperhatikan dampak limbah yang muncul selama kegiatan berlangsung.

“Kami ingin tradisi kurban tetap berjalan dengan lingkungan yang terjaga. Warga juga lebih disiplin, karena membawa wadah sendiri dari rumah,” ujar Efendi.

Kampung Siba Klasik Lebih Bersih 

Sejumlah warga mengaku konsep ini membuat lingkungan kampung terlihat lebih bersih. Tidak terlihat tumpukan plastik bekas di selokan maupun sudut jalan kampung.

Salah satu warga, Nur Aini, mengatakan penggunaan wadah guna ulang membuat pembagian daging terasa lebih praktis. 

“Biasanya habis kurban banyak plastik tercecer. Sekarang lebih rapi karena warga sudah membawa tempat sendiri,” katanya.

Kegiatan kurban minim sampah di Kampung Siba Klasik melibatkan hampir seluruh unsur warga RT 02 RW 05 Sidokumpul Barat. Mulai bapak-bapak, ibu-ibu, karang taruna, hingga remaja musala ikut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan.

Panitia juga mendata penerima daging sejak beberapa hari sebelumnya. Data tersebut mereka gunakan untuk memastikan jumlah wadah yang warga bawa sesuai kebutuhan distribusi.

Ipung juga mengatakan, konsep minim sampah ini akan mereka pertahankan pada perayaan kurban tahun berikutnya. Warga juga berencana memperluas pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampung.

“Kami ingin warga bisa terus menjalankan kebiasaan kecil seperti membawa wadah sendiri. Dampaknya langsung terlihat pada kebersihan kampung,” ucap Ipung.

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

Top