Populasi Mangrove Langka Ditemukan di Kawasan Teluk Balikpapan

Reading time: 2 menit
Penemuan populasi mangrove langka. Foto: BRIN
Penemuan populasi mangrove langka. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada menemukan populasi mangrove langka Camptostemon philippinensis di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain penting bagi ekosistem pesisir, ada dugaan keberadaan mangrove ini memiliki hubungan ekologis dengan Bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan.

Tim peneliti menemukan populasi jenis ini di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sebelumnya, tim peneliti menyusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove Teluk Balikpapan, mulai dari Sepaku hingga pesisir Kota Balikpapan. Mereka menggunakan perahu untuk mengamati vegetasi mangrove dan mendata jenis-jenis mangrove pada wilayah tersebut. 

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya 527 individu C. philippinensis di kawasan Pantai Lango. Populasi itu didominasi oleh semaian atau anakan muda sebanyak 452 individu, 49 pohon dewasa, dan 26 pancang. 

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini mengatakan bahwa keberadaan spesies mangrove langka tersebut menunjukkan pentingnya Teluk Balikpapan sebagai habitat biodiversitas pesisir yang harus dijaga secara berkelanjutan.

“Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting. Ini perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” ujar Istiana dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/5). 

Menurutnya, populasi C. philippinensis kini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia. Hal itu mulai dari alih fungsi lahan mangrove, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara.

Spesies C. philippinensis juga merupakan mangrove yang masuk kategori terancam punah. Ini berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Indonesia, tumbuhan ini juga termasuk jenis mangrove yang pemerintah lindungi. Sebab, populasinya sangat terbatas dan tersebar di lokasi tertentu di Kalimantan dan Sulawesi.

Memiliki Hubungan Ekologis dengan Bekantan

Habitat C. philippinensis di Teluk Balikpapan berada pada zona mangrove lapis kedua dengan tekstur tanah dominan berpasir dan genangan air yang terjadi saat pasang tinggi. Di kawasan itu, spesies ini tumbuh bersama sejumlah vegetasi mangrove lain, seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Avicennia alba, Lumnitzera littorea, dan Xylocarpus granatum.

Habitat spesies ini juga berada di area mangrove yang relatif sempit dan terlokalisasi, serta dekat dengan pemukiman penduduk. Dengan demikian, kerusakan kecil sekali pun dapat meningkatkan risiko kepunahan lokal.

“Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” kata Istiana.

Selain penting bagi ekosistem pesisir, keberadaan mangrove ini diduga memiliki hubungan ekologis dengan Bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi. Peneliti menemukan indikasi bekas gigitan primata pada daun C. philippinensis serta informasi keberadaan kelompok Bekantan di sekitar habitat mangrove tersebut dari Darman, nelayan setempat yang turut mendampingi kegiatan tim selama di Teluk Balikpapan. 

Tim peneliti menilai perlu langkah konservasi yang lebih kuat untuk melindungi populasi mangrove langka tersebut. Upaya yang peneliti rekomendasikan meliputi perlindungan habitat alami, restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, hingga pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman. Penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik dan peran ekologis spesies ini juga penting untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang di Indonesia.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top