Walhi Bersama Warga Pulau Pari Menanam 7.000 Bibit Mangrove

Reading time: 2 menit
Walhi bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove. Foto: Walhi
Walhi bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove. Foto: Walhi

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jumat (22/5).

Penanaman bibit mangrove ini juga melibatkan mahasiswa dari 20 kelompok mahasiswa pencinta alam, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Kelompok Perempuan Pulau Pari (KPPP), serta Forum Peduli Pulau Pari (FPPP). Tak hanya menanam, kegiatan juga mencakup kajian sosial-ekologi pra-penanaman, pelatihan rehabilitasi, penanaman, dan monitoring.

Pengkampanye Perlindungan Laut dan Pesisir Eksekutif Nasional Walhi, Mida Saragih menegaskan bahwa aksi rehabilitasi mangrove ini merupakan kerja bersama warga dan orang muda dalam menjaga keanekaragaman hayati pesisir. Menurutnya, upaya tersebut juga penting untuk membangun ketangguhan ekosistem pulau kecil terhadap perubahan iklim.

“Bagi kami, menanam mangrove juga berarti menjaga ruang hidup, serta biota pesisir dan kekayaan hayati Pulau Pari,” kata Mida dalam keterangan tertulisnya.

Pulau Pari, salah satu dari 113 pulau di Kepulauan Seribu Jakarta. Pulau ini memiliki luas sekitar 41,32 hektare dan termasuk kategori pulau kecil (BIG, 2020). Namun, sayangnya Pulau Pari telah lama terdampak alih fungsi kawasan dan krisis iklim, termasuk abrasi pantai yang semakin parah. Walhi mencatat bahwa kerusakan mangrove di Pulau Pari telah mengancam penghidupan warga serta meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim.

Kajian Sosial-Ekologi

Sementara itu, Walhi bersama tim akademisi juga melakukan kajian sosial-ekologi pra penanaman. Dalam kajian ini, mereka menemukan tujuh jenis mangrove yang tersebar di Pulau Pari. Jenis mangrove tersebut di antaranya Avicennia marina (Api-api), Bruguiera cylindrica (Lindur), Excoecaria agallocha (Buta-buta), Lumnitzera racemosa (Teruntum putih), Rhizhophora stylosa (bakau kecil), Sonneratia alba (Pedada), dan Cylocarpus moluccensis (Nyirih batu).

Kemudian, penanaman mangrove menggunakan metode rumpun berjarak, dengan 20–30 propagul dalam satu rumpun. Jenis yang mereka tanam adalah bakau kecil (Rhizophora stylosa), yang merupakan spesies dominan di Pulau Pari. Metode ini mereka pilih berdasarkan kajian karena lebih efisien, mempercepat proses penanaman, serta meningkatkan ketahanan bibit terhadap gelombang laut.

Selain penanaman, Walhi bersama warga mengembangkan sistem monitoring berbasis citizens science. Sistem ini memiliki basis data sederhana untuk mencatat pertumbuhan mangrove. Warga Pulau Pari dan peserta mahasiswa juga mendapatkan pelatihan terkait identifikasi jenis mangrove, teknik penanaman, dan pemantauan.

“Gerakan dan aksi rehabilitasi mangrove ini adalah pertemuan antara gerakan moral kemanusiaan dan gerakan perlindungan lingkungan,” tambah Mida.

Di sisi lain, Ketua Kelompok Perempuan Pulau Pari, Asmania menegaskan pentingnya perlindungan wilayah kelola rakyat. “Pulau Pari adalah ruang hidup kami. Pemerintah perlu menghentikan perusakan mangrove dan memastikan perlindungan bagi pulau kecil serta hak masyarakat pesisir,” ujarnya.

Warga Pulau Pari juga berharap kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengambil kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi ekosistem Pulau Pari. Mereka menekankan bahwa keberlanjutan ekonomi lokal sangat bergantung pada kondisi pesisir yang sehat dan terjaga.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top