Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya, Rosalina Ariesta Laeliocattleya menciptakan inovasi produk sunscreen (tabir surya) anak dari ekstrak rambut jagung melalui Hi-To-Go Sun Protector. Inovasi produk perawatan kulit tersebut menjadi terobosan baru dalam memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk yang ramah lingkungan.
Kini, produk ini merupakan bagian dari lini BOUMI, merek perawatan diri khusus anak usia 4-14 tahun hasil kolaborasi Universitas Brawijaya bersama PT Cedefindo yang berada di bawah Martha Tilaar Group.
Rosalina menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari potensi limbah yang belum termanfaatkan secara optimal. “Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus ramah lingkungan,” kata Rosalina melansir Berita UB, Jumat (22/5).
Secara formulasi, Hi-To-Go Sun Protector mengombinasikan ekstrak rambut jagung (zea mays silk extract) dengan bahan alami lain seperti minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Produk ini memiliki kandungan SPF 50 PA++ yang efektif melindungi kulit anak dari paparan sinar UVA dan UVB.
Selain itu, sunscreen ini berfungsi menjaga kelembapan kulit dan memberikan sensasi nyaman melalui aroma alami lavender. Produk ini juga aman untuk kulit anak yang sensitif dan aktif.
“Produk ini kami rancang agar praktis, sehingga bentuknya spray dan mudah anak-anak gunakan,” tambahnya.
Rosalina menambahkan bahwa penelitian terhadap bahan aktif lokal tidak berhenti pada produk sunscreen saja. Berbagai komponen pangan lokal berpotensi berkembang menjadi agen perlindungan sinar UV.
“Pada dasarnya, banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji memiliki potensi anti UV, sehingga ke depan bisa berkembang lebih luas, termasuk dikombinasikan dengan bahan lain untuk meningkatkan efektivitasnya,” ungkapnya.
Tahap Produksi Massal
Produk sunscreen tersebut saat ini telah memasuki tahap produksi massal melalui kerja sama dengan PT Cedefindo. Dalam proses produksinya, bahan baku rambut jagung diperoleh dari kerja sama dengan petani, khususnya di wilayah Pulau Jawa.
“Kami bekerja sama dengan petani untuk memanfaatkan limbah rambut jagung. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat bekerja sama dengan industri lain yang juga menghasilkan limbah rambut jagung,” tambahnya.
Selain itu, produk ini juga memiliki keunggulan pada efisiensi biaya produksi dan keberlanjutan lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan utama, produk ini mampu menekan biaya sekaligus menghadirkan inovasi berbasis sumber daya lokal.
“Keunggulan kami adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi, serta membuka peluang kolaborasi dengan industri berbasis bahan lokal Indonesia,” kata Rosalina.
Ke depannya, kata dia, pengembangan produk berbasis rambut jagung juga diarahkan pada inovasi lain. Contohnya, minuman herbal hingga potensi anti kanker, meskipun masih dalam tahap penelitian. Tim peneliti juga sedang mengkaji penggunaan rambut jagung seara langsung, misalnya untuk teh herbal. Namun, saat ini masih dalam tahap riset lebih lanjut.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































