Di balik ponsel, laptop, dan pengisi daya yang kita gunakan setiap hari, tersembunyi ancaman yang jarang kita sadari: racun dari sampah elektronik. Keresahan terhadap bahaya itulah yang mengantarkan Aulia Qisthi Mairizal memilih jalan hidup sebagai peneliti.
Aulia merupakan peneliti asal Indonesia yang menaruh perhatian serius pada isu sampah elektronik (e-waste). Ketertarikannya berkarier menjadi peneliti bermula saat ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia.
Semasa kuliah, Qisthi tak hanya fokus belajar di ruang kelas. Ia juga bergabung dengan komunitas lingkungan. Hal itu membawanya terjun ke beberapa lokasi hingga melihat langsung berbagai permasalahan seperti sanitasi, persampahan, dan isu lingkungan lainnya.
Qisthi mengungkapkan bahwa ketika mempelajari bidang lingkungan, ia tergerak untuk melihat berbagai permasalahan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dari sekian banyak isu tersebut, sampah elektronik menjadi salah satu yang ia tekuni. Sebab, dampaknya sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
“Lingkungan sangat berpengaruh pada kesehatan. Kalau kita sakit, aktivitas seperti sekolah dan bekerja pun terganggu. Karena itu, lingkungan yang bersih menjadi sangat penting,” katanya.
Ketertarikan pada Topik Bahaya Merkuri
Dari keresahan itu, Qisthi mulai tertarik melakukan penelitian yang ia awali melalui tugas akhirnya. Topik yang ia angkat adalah penyebaran logam berat, spesifiknya merkuri. Dalam proses penelitian tersebut, ia berkesempatan mendapatkan bimbingan dari para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sehingga dapat melakukan riset di laboratorium.
Saat menjalani penelitian, ia bekerja sama dengan profesor dari Jepang yang meneliti kasus penyakit Minamata akibat pencemaran merkuri yang terjadi puluhan tahun lalu.
Kesempatan tersebut menjadi motivasi besar baginya untuk melanjutkan kariernya menjadi peneliti, terutama pada topik logam berat. Saat dirinya merintis karier sebagai peneliti, ia pun berharap langkahnya ini bisa memberikan solusi bagi lingkungan.
“Saya menyadari bahwa permasalahan lingkungan sangat banyak dan tidak mungkin diselesaikan sendiri. Namun, karena dampaknya signifikan bagi kesehatan, saya ingin menghadirkan perubahan, minimal melalui policy brief atau membangun sebuah kesadaran bagi banyak orang,” ungkap Qisthi.
Berawal dari penelitian tugas akhirnya, Qisthi semakin teguh untuk melanjutkan pendidikannya. Ia melanjutkan studi magister di École nationale supérieure des mines de Nantes pada jurusan environmental and energy engineering dan menempuh program doktoral di Swinburne University of Technology dengan fokus pada limbah elektronik.
Kini, ia juga berkarier sebagai dosen muda di almamaternya, Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, sekaligus terus menapaki jalannya sebagai peneliti dengan melahirkan berbagai prestasi.
Baginya, dunia saat ini sangat membutuhkan peneliti sebagai pengembang ilmu yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai permasalahan secara ilmiah. Dari situlah ia terus menapaki jalannya di dunia penelitian.
Menapaki Jalan untuk Meneliti
Dari langkah kecil yang bermula dari penelitian tugas akhirnya, Qisthi terus melanjutkan perjalanannya untuk mendalami isu sampah elektronik. Dari proses tersebut, lahirlah berbagai jurnal penelitian yang mengangkat topik tersebut.
Ia menekankan bahwa sampah elektronik merupakan salah satu jenis limbah yang mengandung banyak logam berat berbahaya.
“Di e-waste itu logamnya banyak. Ada tembaga, kadmium, timbal, dan merkuri. Signifikansi bahayanya lebih besar,” ujar Qisthi.
Menurutnya, saat ini berbagai barang elektronik praktis semakin banyak digunakan, seperti kipas angin lipat, sapu elektrik, hingga robot vacuum. Banyaknya perabot elektronik ini memicu meningkatnya limbah elektronik. Sementara, penanganan jenis sampah ini sangat sulit, bahkan jauh lebih sulit ketimbang menangani sampah organik.
Maka, kata dia, pengelolaan limbah elektronik harus benar, tidak boleh dibuang sembarangan. Dampak dari pencemaran tersebut sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
Limbah elektronik yang terpapar hujan menghasilkan air lindi mengandung logam berat yang dapat mencemari tanah dan sumber air. Jika terbakar, ia melepaskan polusi udara dan partikel halus berbahaya.
Logam berat tersebut berpotensi masuk ke dalam tubuh dan tidak bisa diekskresikan oleh ginjal sehingga terus berputar di dalam darah. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi perempuan dan ibu hamil.
Karena itu, Qisthi menegaskan bahwa permasalahan sampah elektronik masih perlu terus bergaung secara global, terutama di Indonesia. Sebab, masih banyak warga yang belum sadar betapa bahayanya limbah elektronik ini.
Masyarakat sudah semestinya mengetahui informasi tentang bahaya limbah elektronik sekaligus cara mengelolanya. Sementara itu, pemerintah juga perlu menghadirkan kebijakan dan fasilitas yang mendukung pengelolaan limbah elektronik.
Suka Duka sebagai Peneliti
Belasan tahun berkarier sebagai seorang peneliti menghadirkan rasa suka dan duka bagi Qisthi. Namun, menjadi peneliti tetap menjadi jalan yang menyenangkan baginya karena melalui perannya ia dapat menghasilkan penelitian yang membawa solusi bagi pemangku kebijakan hingga masyarakat luas.
Tak hanya itu, menjadi peneliti juga memberinya ruang untuk menyuarakan permasalahan dan solusi sampah elektronik di Indonesia di kancah internasional. Melalui berbagai penelitian, ia berharap pencemaran limbah elektronik dapat berkurang dan masyarakat terbebas dari paparan logam berat.
Di sisi lain, penelitian mengenai sampah elektronik di Indonesia masih terbilang jarang. Karena itu, kehadiran peneliti seperti Qisthi membuka harapan untuk keluar dari permasalahan yang terus berulang. Urgensi isu ini pun dapat terdengar lebih luas sehingga solusi yang peneliti tawarkan berpeluang untuk terwujud.
“Indonesia ini negara besar dengan permasalahan lingkungan yang banyak. Kita juga mencoba mengatasinya, tapi persentase yang menyuarakan di jurnal internasional masih sedikit. Saya ingin keadaan Indonesia terdengar juga di internasional, bagaimana yang sudah kita lalui, yang sudah kita bahas, dan yang sudah kita coba. Setidaknya upaya atau solusinya ingin kita ungkapkan dan kita bagikan di internasional tentang masalah e-waste ini.”
Raih Berbagai Penghargaan
Berkat pemikiran, kegigihan, dan keberaniannya bersuara melalui penelitiannya ini, Qisthi meraih banyak prestasi. Ia telah mempublikasikan empat artikel di jurnal bereputasi Q1 yang banyak disitasi peneliti lain.
Pada 2023, kerja kerasnya membuahkan pengakuan internasional. Ia meraih penghargaan Best Paper dari The Minerals, Metals and Materials Society. Penelitiannya tidak hanya mengumpulkan dan mengidentifikasi volume limbah, tetapi juga mengekstrak bahan berharga dari e-waste. Dalam penelitian tersebut, ia mencoba substitusi bahan bakar dengan energi ramah lingkungan sehingga menurunkan potensi emisi karbon. Penghargaan itu ia terima pada 2024 di Florida.
Menjalani hidup sebagai dosen dan peneliti menjadi jalan bagi Qisthi untuk menyuarakan persoalan sampah elektronik kepada khalayak luas. Sumbangsihnya memberi dampak bagi lingkungan dan manusia. Bahkan, banyak negara yang membutuhkan keahliannya.
“Kesempatan itu datang bukan karena uang atau popularitas, tetapi karena ilmu dan keinginan belajar. Menuntut ilmu itu sangat penting. Kalau kita bersungguh-sungguh, orang lain akan melihat kerja keras kita dan kesempatan akan terbuka, bahkan bisa lebih dari cita-cita kita.”
Qisthi berharap generasi muda bisa terus semangat belajar dan menempuh pendidikan yang tinggi hingga berhasil menjadi seorang peneliti. Sebab, dalam kondisi dunia saat ini, peran peneliti sangat dibutuhkan keahliannya untuk menolong banyak orang dan memecahkan masalah kompleks melalui analisis berbasis data.
Ia berpesan kepada anak muda untuk terus belajar dari siapa saja dan dari mana saja. Ketika ada kesempatan, ambil dan jalani dengan sungguh-sungguh sehingga dunia nantinya akan mengikuti jalanmu.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































