BMKG: Faktor Cuaca Buruk Kemungkinan Menjadi Penyebab Kecelakaan AirAsia

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan analisis mendalam seputar cuaca di titik jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 di Selat Karimata. Hasil analisis BMKG tersebut menyebutkan bahwa kemungkinan faktor cuaca buruk menjadi pemicu terjadinya kecelakaan pesawat yang mengangkut 162 orang tersebut.

Kepala Penelitian dan Pengembangan BMKG, Prof. Edvin Aldrian beserta dengan timnya, yakni Ferdika Amsal, Jose Rizal, dan Kadarsah menyimpulkan bahwa berdasarkan data yang tersedia di lokasi terakhir pesawat melakukan kontak, cuaca menjadi faktor pemicu terjadinya kecelakaan tersebut.

“Namun perlu diperhatikan bahwa hal ini hanyalah salah satu analisis kemungkinan yang terjadi berdasarkan data meteorologis yang ada dan bukan merupakan keputusan akhir tentang penyebab terjadinya insiden tersebut,” ujar Edvin dalam laporan analisisnya, Jakarta, Rabu (07/01).

Analisis kejadian ini, lanjut para peneliti tersebut dalam jurnalnya, adalah dengan menggunakan peta pada situs web server SSEC RealEarth, dengan menggabungkan antara peta regional dan MTSAT-2 10,8 IR (Infra Red) pada pukul 23.00 UTC. Citra satelit menunjukkan adanya kelompok awan-awan konvektif pada jalur penerbangan yang dilewati.

Secara umum, BMKG juga menganalisis kondisi gangguan cuaca skala regional yang muncul saat terjadinya kejadian kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501. Hasilnya, kondisi konvektifitas yang terjadi di sekitar wilayah terjadinya kecelakaan pesawat merupakan hal yang rutin terjadi pada bulan-bulan ini, ketika Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) bermigrasi ke selatan selama musim panas pada belahan bumi selatan.

Kehadiran suhu permukaan laut yang cukup hangat bersamaan dengan berlimpahnya massa udara basah di bagian barat Indonesia, membantu menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan awan-awan badai berskala besar.

“Saat kejadian, citra satelit IR mengungkapkan bahwa suhu puncak awan mencapai minus 80 sampai dengan minus 85 derajat Celcius (warna violet), yang berarti terdapat butiran-butiran es di dalam awan tersebut (icing). Dengan menggunakan citra satelit visible, kita juga mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang identifikasi awan konvektif yang ada pada jalur penerbangan yang dilewati oleh AirAsia QZ 8501. Hal tersebut juga menunjukkan bukti bahwa ada beberapa puncak awan yang menjulang tinggi pada jalur penerbangan yang dilewati,” papar para peneliti tersebut.

Pasokan massa udara yang lemah dan kondisi labilitas atmosfer yang tidak cukup labil hingga lapisan atas, menunjukkan kemungkinan kalau turbulensi atau terjadinya badai besar menjadi diragukan.

Namun, kondisi angin geser (wind shear) yang kuat (70 Kt) antara lapisan bawah dan lapisan atas (tropopause) cukup signifikan dan menjadikan kondisi lingkungan yang kondusif untuk sel-sel konvektifitas berumur panjang dan kemungkinan dapat menjelaskan aktivitas awan-awan konvektif yang terjadi beberapa hari sebelumnya menjadi bersifat berkelanjutan di sekitaran Laut Jawa.

Lebih jauh, dalam analisis ini juga mengatakan kalau peristiwa tersebut bisa terjadi karena ketinggian lapisan tropopause yang cukup tinggi (56.000 feet), maka menyebabkan kondisi puncak awan mampu menjulang tinggi hingga mencapai 50.000 feet. Atas dasar analisis inilah mengapa BMKG melihat faktor cuaca buruk menjadi salah satu kemungkinan pemicu jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

(G09)

Top