Lebaran, Sampah Di Kota Malang Meningkat 10 Persen

Reading time: 2 menit

MALANG (Greenersmagz) – Truk-truk sampah lalu lalang keluar masuk tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Supit Urang, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Hingga menjelang sore di hari kedua Hari Raya Idul Fitri 1433 H, truk-truk yang mengangkut sampah dari puluhan tempat pembuangan sampah sementara ini masih keluar masuk area TPA.

Di tempat itu, semua sampah diturunkan dan dibakar hingga kepulan asapnya terlihat dari jarak sekitar 100 meter lebih. Terlihat sepi memang, karena semua pemulung yang biasa mengais rezeki dari sampah yang mereka pilih masih merayakan lebaran di rumah masing-masing. Petugas TPA juga tidak ada sama sekali, hanya truk pengangkut sampah yang terlihat sibuk lalu lalang mengangkut sampah yang mengotori kota.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang, Wasto, memperkirakan peningkatan volume sampah pada saat lebaran meningkat 10 persen dari biasanya 400 ton sampah per hari yang diangkut ke TPA Supit Urang. “Kebanyakan sampah rumah tangga yang berasal dari restoran-restoran,” kata Wasto, saat dihubungi, Selasa (21/08/2012).

Peningkatan volume sampah, kata Wasto, memang terjadi setiap tahun ketika masa lebaran. Sehingga pihaknya selalu menambah personil untuk mengangkut sampah-sampah yang terkumpul di titik-titik pembuangan sampah sementara.

Bahkan, sejak bulan puasa telah dibentuk tim khusus yang ditempatkan di pos-pos yang berpotensi penumpukan sampahnya besar karena banyak pasar tumpah yang menjual aneka takjil di beberapa ruas jalan di Kota Malang.

Ia menyadari, volume sampah yang ada di Kota Malang memang tidak seimbang dengan jumlah armada pengangkut sampah sehingga setiap hari sampah-sampah yang menumpuk di tempat pembuangan sementara baru bisa diangkut seluruhnya hingga pukul 19.00 WIB.

Bahkan, dari pantauan Greenersmagz.com, misalnya saja di tempat pembuangan sampah sementara di Kelurahan Sukun, pada hari kedua lebaran tidak bisa diangkut semuanya dan baru esok harinya atau hari ketiga lebaran, sampah yang berada di tempat itu diangkut ke TPA Supit Urang. “Sampahnya memang menumpuk banyak,” kata Ahmad, salah satu petugas kebersihan yang sedang mengangkut sampah di TPS Sukun, Selasa.

Wasto mengakui, saat ini DKP hanya memiliki 38 truk pengangkut sampah, lima rusak parah dan 20 lainnya agak rusak tapi dipaksakan mengangkut sampah. “Idealnya butuh 50 truk,” kata Wasto.

Problem lainnya adalah minimnya sampah yang bisa terserap menjadi kompos. Dari total sekira 600 ton sampah per hari yang dihasilkan dari Kota Malang, hanya 5 persen saja yang terserap menjadi kompos, selebihnya ditumpuk dan dibakar di TPA Supit Urang.

TPA Supit Urang sendiri saat ini sudah terisi 75 persen dari lahan seluas 15 hektare. Jika tidak segera dilakukan pengelolaan sampah secara modern yang menganut kaidah berkelanjutan, maka diperkirakan sampah di Kota Malang bakal berceceran di mana-mana karena tak ada tempat pengelolaan sampah yang ideal seiring dengan bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat dan jumlah penduduk. (G17)

Top
You cannot copy content of this page