Beluk Jampuk, Spesies Burung Hantu Endemik Asli Asia Tenggara

Reading time: 3 menit
Beluk Jampuk. Foto: Greeners.co/Ady Kristanto

Kekayaan hayati Nusantara memang sangat mengagumkan. Selain sangat beragam, tampilan serta bentuk dari flora dan fauna tersebut terkadang sangat mengagumkan. Seperti Beluk Jampuk, salah satu burung hantu endemik asli Asia Tenggara.

Beluk Jampuk adalah sejenis burung pemangsa yang berasal dari keluarga Strigidae. Ia tergabung dalam ordo Strigiformes dan genus Bubo, serta ahli kenal dengan nama ilmiah Bubo sumartanus.

Peta persebaran burung hantu ini memang cukup luas. Di beberapa daerah Tanah Air mereka awam kenal sebagai Hingkik, sedang bagi masyarakat internasional ia disebut sebagai Malay Eagle-Owl.

Berkat penampilannya yang cantik, banyak khalayak yang tertarik memelihara beluk jampuk. Status konservasinya pun masih berisiko rendah, sehingga boleh publik jadikan sebagai hewan peliharaan.

Habitat dan Ciri-Ciri Beluk Jampuk

Bila kita bandingkan dengan spesies burung hantu lainnya, ukuran tubuh beluk jampuk tergolong sedang-besar. Mereka berbiak hingga sepanjang 40 – 46 cm, dengan bobot tubuh berkisar 620 g.

Terdapat corak abu-abu tua dengan berkas horizontal pada bagian kupingnya. Tubuh bagian atas mereka biasanya berwarna cokelat kehitaman, dengan ornamen garis kuning tua yang halus.

Bagian alis burung hantu ini juga sangat unik. Selain terlihat tebal dan meruncing, bulu alis tersebut umumnya berwarna putih keabu-abuan serta tampak seperti rambut uban.

Jika kita perhatikan secara seksama, corak pada tubuh bagian bawah mereka juga terlihat senada. Bagian bulu-bulu tersebut berwarna abu-abu keputihan dengan akses garis hitam yang tebal.

Secara habitat, beluk jampuk mendiami area hutan tropis dan subtropis dataran rendah sampai ketinggian 1.000 mdpl. Area jelajahnya bisa lebih tinggi, namun tak akan melampaui 1.600 mdpl.

Peta Persebaran dan Jenis Beluk Jampuk

Di Asia Tenggara, burung hantu beluk jampuk menyebar ke hampir seluruh negara meliputi Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand hingga Pulau Keeling di Kepulauan Cocos.

Sedang di Indonesia sendiri, habitatnya pakar ketahui berada di Pulau Sumatra, Bangka, Kalimantan, Jawa hingga Bali. Terdapat tiga subspesies hingkik yang mendiami beberapa wilayah berbeda, yaitu:

  • s. sumatranus berasal dari wilayah Myanmar, Semenanjung Thailand hingga Pulau Sumatra;
  • s. strepitans banyak ahli temukan bermukim di wilayah Bali dan Jawa; serta
  • s. tenuifasciatus Mees yang menjadi satwa endemik di Pulau Kalimantan.

Secara garis besar, peta persebaran burung hantu memang terhitung sangat luas. Berbagai spesiesnya dapat kita jumpai di sebagian besar negara dunia, kecuali wilayah Antartika.

Setidaknya ada 141 lebih spesies burung hantu yang berhasil ahli identifikasi. Menurut berbagi sumber, 54 spesies di antaranya bahkan pakar temukan berasal dari Indonesia.

Kebiasaan dan Cara Reproduksi Beluk Jampuk

Beluk jampuk tergolong sebagai hewan nokturnal dan krepuskular. Mereka biasanya memulai aktivitas pada saat peralihan siang ke sore hari, hingga matahari tenggelam dan larut malam.

Saat beristirahat, ia akan bertengger sendirian atau berpasangan di pohon tinggi berdaun lebat. Selain menghindari matahari, lokasi ini dianggap sangat cocok sebagai tempat persembunyian.

Untuk mempertahankan hidupnya, spesies B. sumartanus ahli ketahui mengonsumsi jenis serangga besar, mamalia kecil, reptil, ikan-ikan kecil serta burung-burung kecil.

Ketika berburu mangsa, burung hantu hingkik bisa saja terlihat sendirian maupun berpasangan. Mereka gemar mandi di perairan kolam dan sungai untuk membersihkan bulu-bulunya.

Beluk jampuk merupakan hewan yang setia, ia hanya memiliki satu pasangan seumur hidup dan akan kembali ke sarang yang sama dari tahun ke tahun hingga tiba masa perkawinan.

Sarang mereka biasanya berupa lubang pada sebuah pohon besar. Dalam sekali musim kawin, induk betina malay eagle-owl mampu menghasilkan 1 – 2 butir telur sebelum akhirnya dierami.

Taksonomi Burung Hantu Hingkik

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page